Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Mbak Cantik


__ADS_3

"Mbak cantik bisa ikut saya untuk mengurus administrasi?" Tanya dokter itu. Seharusnya yang melakukan itu tentu saja bukan dokter tapi sepertinya dokter itu mulai tertarik dengan Rain. Dokter itu sengaja sekali mengambil kesempatan.


Rain mengangguk dan baru saja melangkah tangannya ditarik oleh Ega dan katanya


"Aku aja yang mengurusnya, Kamu duduk aja. Istirahat" Ega bicara seraya menatap dalam ke mata Rain.


Rain kaget. Rain memandangi tangannya yang digenggam Ega, lalu barusan mereka bersitatap, dan apa tadi? Ega bicara sangat lembut terhadap Rain. Ada perasaan hangat menjalar di hati Rain, bibirnya melengkung mengukir senyum tipis.


"Dok, saya saja yang ikut dengan dokter". Ega melepaskan pegangannya pada tangan Rain halus. Sekali lagi mereka bersitatap. Tidak bisa dipungkiri, Ega pun merasakan hal sama dengan Rain. Dia segera berlalu meninggalkan Rain mengikuti langkah dokter itu.


Setelah beberapa saat Bibi dipindahkan ke ruang perawatan. Ega meminta ruang VVIP dengan fasilitas terbaik untuk Bibi. Karena bisa dipastikan malam ini Rain dan Ega akan tidur di rumah sakit menemani Bibi.


Bibi yang sempat siuman, kini kembali tertidur. Rain berdiri di samping bed Bibi dan memegangi tangan Bibi. Ega yang duduk di sofa memperhatikan Rain dari sana. Ega lagi-lagi memikirkan kata-kata Bibi.


Hening


Rain tiba-tiba ingat sesuatu, Dia tidak membawa ponselnya bahkan baju ganti. Rain mengumpulkan keberanian untuk bicara pada Ega. Rain memejamkan mata dan mengatur nafasnya.


"Mas, Aku mau pulang dulu. Ambil keperluan Aku dan keperluan Bibi".


Ega yang memang duduk agak jauh tidak mendengar dengan jelas karena Rain bicara sangat pelan.


"Kamu ngomong apa sih?, sini kalau mau ngomong mendekat". Ega meminta Rain mendekat padanya, Rain melangkah dengan gugup. Kenapa rasanya seperti pertama kali bertemu. Rain kini sudah berdiri di hadapan Ega.

__ADS_1


"Duduk!" Kata Ega seraya menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.


jantung Rain semakin terpompa cepat. Rain mengulangi kalimatnya yang tadi.


"Ya udah ayo bareng, Aku juga mau ambil ganti dan laptop karena ada beberapa kerjaan".


Rain mengangguk, baru saja hendak beranjak tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang. Ternyata dokter tadi yang masuk seraya membawa sebuah kotak. Bukankah tadi Bibi sudah diperiksa ulang?


"Mbak cantik, Mas. Maaf saya mengganggu. Saya hanya ingin mengantarkan makanan untuk Mbak cantik. Tadi saya dengar lho Mbak bunyi kruyuk perut Mbak" Ucap dokter itu seraya menyerahkan kotak itu dan Rain menerimanya gugup.


Ega menatap kesal ke arah dokter tersebut. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras.


"Makasih dok, jadi merepotkan" Dokter itu hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan tanpa bicara apa-apa lagi.


"Jangan dimakan, Rain. Lebih baik kita sekarang pulang dulu biar nggak kemaleman. Nanti Kita makan bubur aja di tempat biasa". Ega meraih kotak makanan itu dan meletakkannya di atas meja. Rain mengangguk menurut saja. Lalu mereka benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu.


Dalam perjalanan terlihat sekali keduanya salah tingkah. Rain yang berkali-kali membetulkan posisi hijabnya yang memang tidak berantakan. Ega yang bisa lebih tenang dan menguasai diri sesekali melirik pada Rain yang sibuk dengan jilbabnya itu.


Ega benar-benar mampir di warung bubur langganan yang terletak tidak jauh dari pintu masuk komplek mereka. Buburnya ternyata tinggal tersisa satu mangkok. Ega mengalah dan membiarkan Rain yang memakannya. Saat hendak menyuapkan bubur itu, Rain melirik sebentar ke arah Ega yang duduk berhadapannya dengannya.


"Mas, Kita berdua aja ya makannya. Aku suapin, mau?" Rain menyodorkan suapan itu ke mulut Ega. Seperti teehipnotis, Ega membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Jadilah mereka berdua makan bubur itu bersama-sama.


Sampai di rumah, Rain segera mengiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Rain sudah selesai dengan perlengkapannya juga dengan perlengkapan Bibi namun Ega sepertinya belum. Rain jalan mondar-mandir di bawah tangga seraya terus menoleh ke atas.

__ADS_1


Akhirnya setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Rain memutuskan untuk menyusul Ega di kamarnya. Rain mengetuk pintu dan mengintip sebentar lalu masuk dengan perasaan yang sulit dijelaskan.


Ega sedang berdiri mematung.


"Mas, udah siap belum. Kasihan lho Bibi swndirian".


"Belum, Aku dari tadi nyari charger laptop tapi nggak ketemu". Ega mengedarkan pandangannya ke segala arah di kamarnya itu.


Rain tersenyum karena mengetahui bahwa benda yang dicari Ega itu sudah Rain lihat sejak masuk ke dalam kamar. Rain segera menyingkap selimut yang berantakan itu dan meraih charger itu lalu mengangkatnya tepat di wajah Ega.


"Ini, apa?"


Ega terperangah, bagaimana bisa ini terjadi. Bukankah tadi dia sudah mencarinya di mana-mana.


"Biar Aku aja yang siapkan, Mas tinggal bilang apa yang mau Mas bawa. Mas duduk aja" Kata Rain seraya meletakkan Charger itu di pinggir laptop dan mulai mengambil tas dari dalam lemari.


"Aku butuh pakaian dalam, beberapa kaos dan celana pendek, handuk dan juga celanja panjang. Jaket juga boleh deh. Sama alat mandi ya". Ega mengabsen kebutuhannya.


Dengan cekatan Rain menyiapkan semua itu dan dalam waktu sekejap semuanya sudah beres. Rain menyerahkan keperluan Ega ke hadapan suaminya yang kini duduk di tepi ranjang.


"Mas, nggak usah jadi beban ya tentang keadaan Bibi. Bibi akan baik-baik aja. Mas udah melakukan yang terbaik. Tenanglah Mas" Rain bicara dengan lembut dan mampu memberi ketenangan pada Ega. Ega yang salah tingkah dibuatnya langsunh berdiri


"Ayo berangkat sekarang, kasihan Bibi" Ega segera berlalu meninggalkan Rain. Rain hanya tersenyum menatap punggung Ega dan mengikuti langkah suaminya itu dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


'Tuhan, apa Engkau sedang mengabulkan satu persatu doa ku? terimakasih, Aku sangat bahagia. Aku akan selalu sabar dan ikhlas' Ucap Rain dalam hati


__ADS_2