
Apa kabar semuanya? Masih ingat dengan Kaf? anak Rain dan Ragga yang lucu dan menggemaskan? Aku mau up tipis bocah itu di sini sebelum aku buatkan dia di tempatnya sendiri.
Ada yang ingin tahu kelanjutannya?
~♥♥♥♥♥~
Ragga masih tidak percaya bahwa ternyata Papanya memiliki hutang piutang yang begitu besar. Hotel dan salah satu Mallnya sudah disita sebagai barang bukti. Keteledoran Rakha Hadiwijaya yang menyepelekan membayar pajak membuat usaha yang ia bangun semasa hidupnya itu hancur dalam sekejap mata.
Ditambah dengan Ragga yang tidak mau ikut campur dalam mengurusi kedua usaha tersebut dan lebih mempercayakannya terhadap orang yang menjadi salah satu anak buah Rakha semasa hidupnya.
Sore itu dia duduk membersamai istrinya, Rain, si penikmat senja.
"Kamu kenapa sih, Mas?" cecar Rain seraya mengusap lembut kepala suaminya.
Ragga tak menjawab, ia enggan menceritakan permasalahan ini pada Rain. Ega tahu, Rainnya tak suka jika dirinya masih saja mengurusi hal-hal tentang perusahaan Almarhum Papanya itu.
"Mas, kok kamu diem terus sih?" desak Rain membuat Ega menghirup udara dalam-dalam kemudian melepaskannya kembali. Berharap kegundahan dapat ikut lepas bersama nafas yang dihembuskannya.
"Mas nggak mau cerita sama aku?" Rain meraih kedua tangan suaminya. "Mas, jangan sungkan."
Ega menoleh ke arah istrinya itu, netra keduanya saling berpandangan. Ega mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa usaha Rakha.
"Kamu sedih cuma gara-gara hal itu?" cibir Rain, baginya hanya kehilangan hotel dan mall yang jelas bukan hasil jerih payahnya bukanlah suatu masalah.
"Aku merasa gagal karena nggak bisa mempertahankannya," keluh Ega dengan decakan kesal.
"Dari awal aku nggak pernah ridho, Mas." Ungkap Rain, "dan Allah mungkin mengirimkan jawabannya untuk kamu lewat musibah ini," lanjutnya seraya melepaskan genggamannya.
"Perusahaan juga nyaris hancur, Yang." Keluh Ega, " nggak nyangka istrinya Pak Riko ternyata pintar memanipulasi keuangan." Beritahu Ega membuat Rain tertawa meledek.
"Jual saja, Mas. Hasilnya bisa kamu bagi dengan Pak Riko." Usul Rain.
"Nggak gampang, Yang." Sahut Ega menjambak rambutnya sendiri.
"Aku kasih kamu waktu seminggu buat menyelesaikan masalah ini." Ujar Rain, tak main-main.
"Seminggu?" Ega memastikan ia tak salah dengar.
__ADS_1
"Iya, aku sama anak-anak tuh banyak kehilangan waktu sama kamu." Keluh Rain yang merasa Eganya ada di sisinya, namun tidak dengan hati dan pikirannya.
"Aku ingin saat kamu bersamaku, tak ada hal lain yang mengisi pikiranmu. Cukup aku," ujar Rain menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja, Kamu, Kaf dan Nun adalah prioritasku." Sahut Ega membela diri.
"Aku bahkan tak mengenali suamiku beberapa waktu ini. Kamu di sini tapi hati kamu terus pada pekerjaanmu." Keluh Rain, beberapa waktu ini Ega memang banyak diam.
"Kamu bahkan nggak tahu kan Nun sudah bisa berjalan?" tebak Bumi membuat Ega menggeleng.
"Itulah kamu, Mas. Sudah kubilang tinggalkan semuanya. Kita Insya Allah selalu diberi rezeki." Papar Rain. Begitulah Rain, seucao suaminya berkata dirinya akan balas beribu kata.
"Tak ada satu binatang melatapun yang hidup tanpa rezeki dari Allah," papar Rain melembutkan suaranya.
"Tinggalkan dunia itu, maka InsyaAllah hati kamu juga akan tenang."
Senja mulai hilang diganti awan yang menghitam. Suara anak-anak membaca sholawat dari toa masjid mulai terdengar. Salah satu dari suara itu adalah Kaf. Sudah sedari tadi bocah tampan itu pamit ke masjid.
"Bunda, Nun bangun nih!" sayup-sayup suara Ibu terdengar dari dalam. Saat Rain keluar tadi, Nun sedang tidur pulas di ruang televisi. Balita itu sudah hafal jika menonton televisi. Badannya akan ikut bergoyang jika mendengar lagu.
Lagi-lagi Ega tak dapat merespon perkataan istrinya itu. Ia hanya mampu diam tanpa dapat memilih, mengalah atau meneruskan?
Sehabis isya Kaf barulah pulang bersama Ega. Bocah itu biasanya diam-diam akan membawa gulali saat pulang. Dia akan berikan pada adiknya tanpa sepengetahuan Rain. Ega yang akan menjadi tameng, menjaga pintu kamar takut-takut Rain tiba-tiba masuk.
"Hari ini aku nggak bawa gulali," bisik Kaf pada Ega saat keduanya mengganti pakaian tidur.
"Lalu bawa apa?" tanya Ega, pura-pura antusias agar putranya itu bahagia.
"Bawa es kocok, seger." Sahut Kaf seraya mengeluarkan cup kecil berisi jajanan yang ia sebut es kocok.
"Adek jangan dikasih, soalnya itu es. Perut Adek belum kuat." Ega mengingatkan agar Kaf tidak diam-diam menyuapi adiknya.
"Aku boleh nggak?" Kaf meununjuk dirinya sendiri seraya menatap cup berisi es itu.
"Kaf sedikit aja, Baba juga mau." Ega berbohong demi Kaf tidak terlalu banyak memakan es yang tak jelas kehigienisannya tersebut.
"Ya sudah, buat Baba aja semuanya." Kaf menyerahkan esnya pada Ega. Ega tentu harus mencari cara agar es itu lolos ia buang tanpa dilihat Kaf.
__ADS_1
"Baba makan esnya di kamar mandi biar Bunda nggak lihat." Ega berbohong, ia tak selera bila harus benar-benar menghabiskan es itu.
"Baiklah, hmm." Ujar Kaf, dirinya berjaga di bibir pintu, tujuannya untuk mencegah Rain masuk karena Ega sedang minum es
"Ba, aman!" serunya seraya mengacungkan ibi jarinya setwlah melihat tak ada tanda-tanda Rain akan masuk kamar.
Ega segera beranjak ke kamar mandi. Yang terjadi di kamar mandi adalah, dia membuang es itu ke dalam kloset dan membawa cup untuk diperlihatkan pada putranya sebagai barang bukti.
Untuk memanipulasi keadaan, Ega membasuh wajahnya. Jika Kaf nanti tanya, dia akan menjawab harus cuci muka karwna belepotan.
Suara pintu terbuka membuat Ega kaget. ternyata Rain yang membuka pintu itu. "Kamu ngapain, Mas?"
"Sstt, aku abis bohongin Kaf." Akunya.
"Bohongin apa?" desak Rain.
Ega menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Sebaiknya kamu pura-pura marahin aku saja. biar Kaf tak curiga esnya aku buang."
"Nggak usah pura-pura, aku memang marah sama kamu." Sahut Rain seraya keluar dari kamar mandi dan beranjak ke tempat tidur berbaring bersama putri kecilnya.
Kaf yang entah dari mana masuk ke kamar serta mengendap-endap menghampiri Ega.
"Kaf sama Baba jangan tidur di sini, Bunda marah sama kalian berdua." Ucap Rain membuat Kaf dan Ega saling lempar pandang.
"Ayok keluar," Bentak Rain. "Jangan lupa pintunya tutup." Imbuhnya seraya membentangkan selimut hingga menutupi badannya dan Badan Nun.
Ega dan Kaf kembali saling berpandangan. Kaf menggedigan bahu pertanda tak tahu harua berbuat apa.
"Kita tidur di kamar Kaf saja?" Ega membuat penawaran yang membuat Kaf tertawa tanpa suara.
"Selamat tidur, Bunda." Ucap keduanya seraya keluar dari kamar dan menutup kembali pintu.
~♥♥♥~~♥~
ig: Anisa_harir
__ADS_1