
Sesampainya di rumah Bibi dan Ibu lagi-lagi sedang asyik menonton sinetron.
"Assallamuallaikum"
Salam Rain dan Ega berbarengan. Ibu dan Bibi terlihat kaget dengan kedatangan dua sejoli itu.
"koq udah pada pulang, A?" Tanya Bibi
"Bosen, Bi." Jawab Ega segera duduk di samping Bibi.
Rain segera ke belakang, Ega yang menyadari itu langsung berteriak
"Yang, Aku mau minuman yang dingin!" Ega takut Rain memberinya air putih hangat.
Ibu dan Bibi hanya menggeleng-geleng. Rain kembali dengan syrup jeruk dan camilan.
"Kamu jangan minum es ya, Nak!" Seru Ibu mengingatkan.
"Enggak, Bu. Rain minum air putih doang." Jawab Rain duduk di sebelah Ibu. Ega sedikit kecewa karena duduk berjauhan dengan Rain.
__ADS_1
Hening. Hanya suara televisi yang terdengar. Ibu dan Bibi hanyut dalam ceritanya.
"Tante, Ega boleh minta waktu sebentar nggak?" pertanyaan sekaligus permintaan.
"Apa Ga? ngomong aja Tante denger koq!" Jawab Ibu dengan pandangan terus ke televisi.
"Setelah lulus Ega sama Rain mau nikah, ya?"
"Apa? menikah?" Ibu memastikan pendemgarannya tidak salah lalu berdiri dan pindah duduk di dekat Ega.
kemudian katanya, "lulus aja belum udah mikirin nikah."
"Kan nggak apa-apa tan dibicarakan dari sekarang. 6 bulan lagi juga kita lulus kan?". Ega berusaha meyakinkan.
"Gimana nih Yang, Ibu kayanya nggak setuju?" Ega dengan tampang memelas dan sedih terlihat kacau.
Rain berpindah duduk ke sebelah Ega dan katanya, "aduh kacian pacal Aku, takut ya nggak direstuin?"
"Koq kamu malah santai aja, ini juga Bibi bukan bantuin ngomong." Ega menyenggol perut Bibi dengan sikunya.
__ADS_1
Bibi sebenarnya mendengar tapi Bibi juga lebih asyik dengan sinetronnya.
"Berjuanglah lebih keras Sayangku!" Bisik Rain ke telinga Ega. Ega tak menjawab, dia menghela nafas panjang dan cup! Ega mencium pelipis Rain kemudian segera beranjak dan menarik tangan Bibi.
"Ayo Bi, pulang!" Bibi reflek berdiri dan berlari membuntuti Ega. Rain kaget atas perlakuan Ega, Rain segera mengejar Ega. Ega yang sedang membuka pintu mobil berteriak, "nanti Aku telpon ya!"
Rain dari arah pintu hanya senyum geleng-geleng sambil memegangi pelipisnya. Yang dikecup pelipis yang meleleh koq hati ya? gumam Rain seraya masuk dan menutup pintu.
Sementara di kamarnya, Ibu sedang terisak. Mengingat masa-masa awal melahirkan Rain. Ibu masih merasa Rain adalah gadis kecilnya. Namun, hari ini Ibu dikagetkan dengan seorang lelaki yang ingin menikahi anaknya. Ibu hanya merasa belum ingin kehilangan anak gadisnya yang dia sayangi.
Di satu sisi Ibu merasa senang Rain tumbuh menjadi gadis cantik dan lembut. Rain yang selalu menurut dan tidak pernah banyak menuntut. Di sisi lain Ibu juga terkadang risih melihat anak gadisnya banyak disukai lelaki. Dan pernyataan Ega tadi cukup membuat Ibu shock. Ibu tahu Rain sangat mencintai Ega bahkan Rain pun berharap Ega adalah yang pertama dan terakhir di hidupnya. Tapi Ibu rasanya belum rela melepas anak gadisnya itu. Isakan Ibu berubah jadi tangis. Rain yang ingin mengetuk pintu kamar Ibu menghentikan aksinya.
Ibu kenapa sih kalau nangis harus sembunyi? Rain janji akan nurut dan menolak Ega kalau hanya bikin Ibu nangis.
Rain duduk memeluk kedua kakinya di depan pintu kamar Ibu. Rain memutuskan menunggu sampai Ibu keluar dari kamarnya.
*****
Sementara itu di sebuah gedung pernikahan Mawar terus saja mengumpat den menyumpahi Rain
__ADS_1
Dasar anak keciiiil, lihat pembalasan Gue. Berani banget mau saingan sama Gue.
Seringai jahat ditampilkan oleh wajah yang amat cantik itu. Obsesinya untuk memiliki seorang Raga Hadiwijaya tidak pernah tuntas.