Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Pancake


__ADS_3

Sesuai dengan janji Rain, Ega diizinkan mampir oleh Rain untuk dibuatkan pancake. Sudah hampir magrib mereka baru sampai rumah Rain. Ibu tentunya memang ada di rumah, kalau tidak mana mau Rain mengajak Ega mampir.


Sampai rumah, Rain segera mandi dan berganti pakaian. Rain yang sudah wudhu dan mengenakan mukena menemui Ega yang duduk sendiri di kursi.


"Tunggu Aku selesai sholat ya bikin pancake nya!" Seru Rain. Ega hanya baru diberi air putih hangat oleh Rain. Memang tega Rain itu.


"Kamu kapan jeleknya sih? pake mukena tambah cantik aja." Ega bicara sambil senyum nakal.


"Gombal...." Jawab Rain padahal mukanya sudah sangat merah.


"Aku serius, semua yang aku bilang selalu dari hati." Kata Ega lagi seraya mengedipkan mata. Rain bergidig seraya lari dan berteriak.


"Udah sana sholat dulu!"


Ega hanya tertawa seraya melangkah ke belakang untuk wudhu dan sholat.


Selesai sholat Ibu menemani Ega di ruang tamu sementara Rain berkutat di dapur membuat pancake.


"Ega, apa Papamu sudah tahu kalian ingin menikah muda?" Tanya Ibu dengan mimik serius.


"Udah, Tan. Papa juga nggak melarang." Jawab Ega tak kalah serius.


"Tante nggak menyangka akan menikahkan Rain secepat ini". Wajah Ibu mulai sendu.


"Ega hanya ingin selalu bersama Rain, Tan. Rain itu istimewa dan selama ini Ega belum pernah ketemu cewek kaya Rain. Makanya Ega mutusin buat nikah muda sama Rain karena Ega yakin sekali yang ada pada diri Rain itu hanya ketulusan." Ega menatap dalam Ibu seolah memberi kekuatan dan meyakinkan Ibu.

__ADS_1


Ekhem!


Rain rupanya selesai membuat pancake. Dia datang membawa nampan berisi 3 piring kecil pancake nutela dan 3 cangkir teh hangat. Rain dengan gemulai menata semua itu di meja. Rain tampak manis walau hanya mengenakan m training panjang dan kaos lengan pendek warna mocca. Rambutnya diikat tinggi. Tunggu saja, Ega pasti protes.


"Silahkan!" Serunya seraya duduk di samping Ibu.


"Makasih calon istri." Ega tanpa malu bicara seperti itu di depan Ibu.


"Gimana rasanya?" Tanya Rain.


"Enak dong, Sayang." Lagi-lagi tanpa malu Ega bicara


seperti itu.


"Semakin pintar kamu membuatnya. Pantas dulu Doni rela tiap minggu jauh-jauh ke restoran cuma buat nikmatin pancake Kamu." Seloroh Ibu.


"Doni cuma pelanggan di restoran, Ga. Dia juga udah setahun nggak pernah dateng karena menyelesaikan S2 di Singapur."


Ega masih tak merubah raut wajahnya.


"Doni siapa sih, Bu? Rain nggak kenal deh. Nggak penting juga Bu." Rain bicara seraya mengedipkan mata ke Ibu.


"terus yang penting, siapa?" Tanya Ega penasaran.


"Ya Kamu lah...." Jawab Rain santai dan langsung bisa membuat Ega tersenyum mengembang. Ibu dan Rain bernafas lega.

__ADS_1


"Kamu udah kaya pawangnya Ega aja!" Bisik Ibu menahan tawa sementara Rain malah benar-benar tertawa. Ega menggeleng-geleng melihat tingkah Ibu dan Rain.


Sebelum pamit, Ega mengajak Rain mengobrol sebentar di teras.


"Ega, Kamu tuh kalau depan Ibu jangan panggil Aku sayang dong!. Aku, malu." kata Rain mengerucutkan bibirnya.


"Biar apa bibir digituin, biar dicium? sorry, belum muhrim." Ledek Ega mencubit pipi Rain sampai merah.


"Nggak jelas, ngaco aja!" Seru Rain memukul lengan Ega.


"Jangan pukul-pukul, ini tuh punya Rain Khadija. Masih disegel." Kata Ega lagi.


"Makin ngaco deh, udah sana aah pulang!" Rain sedikit berteriak.


"Iya tuan putri, besok pagi Aku jemput ya. Di kelas kan udah nggak bisa deket-deket." Kata Ega.


"Iya...." Jawab Rain singkat. Ega berpamitan pada Ibu terlebih dulu. Rain mengantarnya sampai mobil.


"Hati-hati ya, Sayang!" ucap Rain pelan seraya tersenyum saat Ega sudah duduk di tempat kemudi.


"Jadi males pulang kalo mukanya udah dicantik-cantikin gitu." Ega enggan menstarter mobilnya.


"Udah aah, Aku ngantuk banget." Rain memang terlihat lelah.


Setelah mengucap salam, Ega segera melajukan mobilnya. Hatinya selalu berbunga saat dipanggil Sayang oleh Rain. Rain teramat sederhana namun hatinya sangat istimewa. Bahkan sepanjang jalan Ega terus tersenyum memikirkan Rain. Bagaimana bisa baru saja berpisah

__ADS_1


Rindu untuk Rain sudah mulai menumpuk.


__ADS_2