Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Mesra


__ADS_3

Perlahan Ega menyusun gelas-gelas itu di meja dengan kaku.


"Koq jadi Kamu yang melakukannya, biarkan aja sama Rain" Ibu ikut merapikan letak gelas yang airnya sedikit tumpah karena Ega sangat gugup.


"Biar dicap menantu idaman tuh, Bu" Rain membuka bungkusan plastik dan tersenyum melihat martabak yang mengkilat-kilat itu, masih hangat rupanya.


"Nggak boleh gitu dong, Rain. Hargai usaha suamimu" Ibu meletakan satu gelas teh itu ke hadapan Bibi. Rain tidak menjawab, Dia meletakan martabak itu di piring, menyusunnya rapi. Bibi, Ibu dan Ega kompak melihat kegiatan Rain itu. Kenapa nggak pakai sendok sih, Rain?


"Aku udah cuci tangan, ya. Nggak usah pada liatin gitu. Kalau merasa jijik, nggak usah pada ikut makan" Rain mencomot sisa-sisa keju dan coklat yang terdapat pada kotak bekas martabak itu.


"Jorok ih Rain, nggak usah dicomot juga yang ada di situ" Ega merebut kotak bekas itu lalu meremasnya dan memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik.


"Jangan bilang kamu mau ngomong, Aku bahkan bisa beli martabak itu sama pabriknya sekalian" Rain mencubit paha Ega keras dan dibalas Ega dengan memukul tangan Rain pelan.


"Sejak kapan martabak dijual pabrikan, paling juga gerobak atau toko" Ega tertawa melempar Rain dengan plastik bekas martabak yang masih dipegangnya itu.


"Ih Mas Kamu nyebelin banget sih" Rain balas melempar kembali plastik itu ke muka Ega tepat mengenai ujung mata Ega, dan itu cukup membuat mata Ega perih.

__ADS_1


"Aduduuuh Rain, perih nih mataku. Tolong dong" Ega berteriak mengucek-ngucek matanya. Rain panik, Dia segera menepis tangan Ega hendak meniup matanya.


"Jangan dikucek, Mas. Nanti merah" Rain meniup-niup mata Ega yang terpejam dan mengeluarkan air.


"Kalian ini nggak nganggep ada Ibu sama Bibi ya? malah asyik berdua?" Ibu tidak tahan melihat kelakuan anak menantunya itu. Mereka tidak menjawab, Rain sibuk meniup mata Ega dengan tangan Ega yang melingkar di pinggang Rain. Perlahan Ega membuka matanya, merasa lebih baik.


"Maaf ya, Aku pikir nggak kena mata. Masih perih?" Rain menghapus sisa-sisa air mata di pipi Ega. Sorot mata Rain menandakan penyesalan.


"Iya nggak apa-apa, udah jangan masang muka sedih gitu" Ega mengusap pelan wajah Rain. Keduanya tertawa. Sama sekali tidak merasa bersalah pada Ibu dan Bibi yang sedari tadi kesal dengan tingkah keduanya. Rain menarik tubuhnya yang sedari tadi menempel di tubuh suaminya itu.


"Bibi sama Ibu koq pada diem, dimakanlah martabaknya" Rain dengan santai mengambil satu potong martabak lalu menyerahkannya pada Ega. Rain mengambil satu potong lagi dan langsung melahapnya. Ibu dan Bibi tak bergeming. Kompak melotot pada suami istri itu.


"Kalian ini kalo mau mesra-mesraan ya di kamar!" Ibu segera meminum teh nya agar merasa lebih baik.


"Ibu, tadi tuh nggak ada mesra-mesranya. Orang debat dibilang mesra" Rain sempurna menghabiskan satu potong martabaknya. Tanpa disuruh Dia kembali mengambil lagi martabak dan diserahkan pada Ega lalu sepotong lagi Dia masukkan ke dalam mulutnya. Ibu dan Bibi menggeleng-geleng kepala.


"Maaf, Ya Bu kalau merasa terganggu. Ayo Bu dimakan martabknya. Nanti diabisin tuh sama cewe berjilbab biru itu" Ega menunjuk Rain yang sudah kembali menghabiskan potongan martabaknya.

__ADS_1


Ibu dan Bibi tertawa mendengarnya, suasana kembali hangat. Ibu dan Bibi sama-sama memakan martabaknya.


"Mas, kenapa sih mancing-mancing perdebatan terus. Mas tuh yang kalau makan paling rakus" Rain tanpa sadar kembali memasukan potongan ketiga martabak pada mulutnya.


"Aku baru mau abis dua kamu malah udah tiga lho" Ega kembali menunjuk Rain yang telah menelan potongan ketiga martabaknya.


"Udah dong, Rain berhenti debat. Kalian ini udah sama-sama besar. Bukan anak-anak lagi!" Ibu menengahi perdebatan keduanya. Rain dan Ega menurut dan tidak bicara lagi.


Martabak itu habis tanpa sisa dengan Rain yang paling banyak memakannya.


"Ibu mau menginap, ya. Boleh kan Ga?" Ibu melirik ke arah Ega.


Ega dan Rain saling melempar pandang. Selama ini kan Mereka tidak tidur satu kamar bahkan melewatkan malam pertama yang seharusnya menjadi malam indah bagi setiap pasangan pengantin.


"Boleh dong, Bu. Kalau gitu Aku siapin kamar dulu ya. Ayo Mas!" Rain menarik tangan Ega dan meninggalkan Ibu serta Bibi.


"Mereka kayak yang nggak suka Bi saya nginep, padahal kan Saya nggak akan ganggu ritual mereka"

__ADS_1


"Pasti suka lah Neng Ibu, mereka terlalu senang saja". Jawab Bibi yang juga bingung. Bagaimana jadinya kalau Ibu tahu Rain dan Ega selama ini tidak tidur satu kamar. Bahkan bisa dipastikan Mereka belum pernah melakukan ritual yang Ibu sebutkan tadi. Pasalnya Bibi belum pernah melihat Rain berjalan seperti pinguin di pagi hari.


__ADS_2