
Sejauh ini semua masih bisa Rain atasi. Rain akan membiasakan diri tidur dipunggungi oleh Ega. Rain tidak mau membebani pikirannya dengan meratapi keadaan ini. Rain kembali ke kamar saat Ega sudah berbaring tanpa selimut. Rain mengembangkan senyum karena Ega memang benar-benar tidur bukan pura-pura. Rain berjongkok di hadapan Ega. Menatap wajah tampan itu lekat, biar saja kan sudah halal. Rain masih dengan senyumnya mengecup hidung Ega yang ujungnya meruncing itu. Rain membentangkan selimut sampai pinggang Ega. Lalu Dia pun ikut terlelap menghadap punggung Ega yang lebar.
"Selamat tidur, kesayangan" Rain memejamkan mata agar tak kesiangan saat tahajud nanti.
********
Pukul 03:30 Rain sudah terbangun. Ega masih tertidur dengan posisi yang sama. Rain pelan-pelan mengintip Ega. Matanya masih terpejam. Rain lagi-lagi tersenyum mengingat kejadian semalam saat mencium hidung Ega. Rasanya seperti mencuri buah mangga tetangga, takut tertangkap basah.
********
Rain bersimpuh khusu di atas sajadahnya dengan segala kerendahan hati. Rain memutuskan untuk curhat pada-Nya. Rain menengadahkan kedua tangan di balik mukenanya. Suaranya lirih, hanya dirinya yang bisa mendengar.
Ya Allah, hamba anggap ini adalah peringatan untuk hamba yang sudah melakukan banyak dosa. Hamba selama ini sudah banyak meninggalkan shalat dan terkadang marah atas sesuatu di hidup hamba. Hamba dengan sengaja mengumbar aurat tanpa rasa malu. Bahkan hamba pernah merasa kesal pada Ibu yang menyuruh menutup auray. Ya Allah, dengan segala kerendahan hati hamba serahkan hidup hanya pada-Mu. Engkau tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba. Tolong Ya Allah, berikanlah suami hamba kelembutan hati. Bukakanlah jalan kebenaran. Ridhoi selalu langkah Kami. Berikan hamba kemudahan dan kekuatan. Aamiin
Rain mengakhiri do'anya. Lalu mengambil Al-qur'an hadiah dari Ega di dalam lemari. Rain kembali hanyut membaca Al-qur'an dengan suara lirih.
__ADS_1
**********
Seperti yang Ega katakan, Dia tidak ingin Rain menampakkan diri di hadapannya. Maka selepas shalat shubuh Rain bergegas ke dapur membuat sarapan. Dengan cekatan tangannya membuat adonan pancake lalu memasaknya di atas teflon. Senyumnya terus tersungging. Bibi datang menghampiri saat pancakenya selesai dibuat dan diletakkan di meja makan.
"Ya Allah, neng. Pagi-pagi udah di dapur" Seru Bibi dengan sedikit rasa kaget.
"Ssst" Rain menyuruh Bibi diam dengan menempelkan telunjuk di bibirnya. Rain membuat susu coklat untuk melengkapi pancake tadi.
"Bibi sekarang ke kamar anterin ini buat Mas, bilang aja Bibi yang buat. Sekalian kalau ada baju kotor Mas, Bibi bawa ya. Rain mau cuci" Rain menyerahkan nampan berisi pancake dan susu coklat itu pada Bibi. Mata Bibi berbinar menatap pancake Rain yang memang lezat itu. Bibi sampai harus meneguk ludah sendiri sepanjang membawa nampan tersebut.
"Sarapan nih. Dimakan ya, Bibi sekarang teh udah pinter masak. Mau masak tiap hari. Jadi A Ega makan di rumah tiap hari"
Bibi meletakkan nampan itu di meja belajar Ega. Bibi mengedarkan pandangannya pada keranjang di depan kamar mandi lalu segera mengambil keranjang itu saat bisa dipastikan ada beberapa potong pakaian kotor Ega di dalamnya.
"Makasih, Bi" Ega segera melahap pancake itu tanpa curiga sedikitpun. Ega bernafas lega karena saat bangun sudah tidak menemukan Rain. Ega terus menyuapkan pancake tanpa jeda. Dari kemarin memang dia tidak makan, cacing di perutnya sudah sangat protes.
__ADS_1
Bibi berlalu dengan senyum tipis di bibirnya
'Dasar munafik, sama orangnya benci sama makanannya suka'.
Bibi berjalan pelan membawa keranjang pakaian kotor. Saat tiba di bawah Rain sudah tidak ada. Di meja makan masih ada sepiring pancake dan segelas teh tawar yang Rain siapkan untuk Bibi. Menyadari Rain tidak ada di dapur Bibi segera ke tempat cucian di belakang. Benar saja Rain sedang bersiap-siap akan mencuci pakaian.
"Bi, dimakan nggak sama mas?" Tanya Rain dengan tatapan penub harap.
"Dimakan lah, lahap malah" Jawab Bibi seraya menaruh keranjang cucian tadi di samping Rain.
"Neng, nyucinya nggak pake mesin?" Tanya Bibi yang melihat Rain sedang membilas pakaiannya.
"Nggak ah Bi, kata Pak Ustad di sekolah Rain mencuci baju suami itu dapat meluntutkan segala dosa kita lho, Bi!" Seru Rain merendam pakaian kotor yang baru Bibi bawa dengan deterjen ke dalam ember. Bibi hanya menganguk-angguk menatao Rain dengan mata berkaca-kaca
'Kasian Kamu teh Neng geulis, semoga A Ega cepat sadar'
__ADS_1
Bibi meninggalkan Rain karena tidak tahan ingin menangis. Sementara Rain hanya tersenyum melihat kepergian Bibi.