Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Bad mood


__ADS_3

Rain sebetulnya sangat tidak fokus mengajar, tapi bagaimanapun dia harus profesional. Rain menyelesaikan tugasnya hari itu dengan baik walau berkali-kali harus menahan tangis.


Sebelum benar-benar pulang, Rain memilih untuk shalat dhuhur di mushola sekolah. Saat sedang kembali mengenakan sneakersnya seseorang menyapanya lembut


"Sudah selesai, Bu Guru?" Ya itulah Dia suaminya.


"Mas, Kamu ngagetin" Rain menyelipkan tali sneakernya lalu berdiri di hadapan suaminya.


"Pulang sekarang?" Ega kembali bertanya.


"Gimana Pak Riko?" Rain malah balik bertanya.


"Buruk, Rain. Pak Riko koma". Jawab Ega dengan suara lemah.


Ya Pak Riko menabrak palang pembatas jalan setelah kepulangannya dari Malang shubuh tadi. Diduga Pak Riko membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi dalam keadaan mengantuk berat. Seorang saksi mengatakan Pak Riko menghindari menabrak truk yang ada di depan dan membanting stir hingga menabrak palang pembatas itu. Mobilnya pun rusak parah. Menurut dokter kepala Pak Riko terbentur sangat keras.


"Aku takut deh Pak Riko amnesia". Rain mulai khawatir. Bukankah seperti itu yang terjadi di sinetron yang sering Bibi tonton. Kecelakaan lalu amnesia.


"Kamu ketularan drama nih kayaknya" Ega menarik tangan Rain untuk pergi dari sana. Rain menurut saja. Mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan menuju parkiran mobil.


*****

__ADS_1


Setelah sedikit berdebat dengan Rain yang ingin segera melihat kondisi pak Riko akhirnya Ega menuruti keinginanya itu. Rain lega sekali, sedikit demi sedikit Ega sudah mulai membuka hatinya kembali. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Rain tidak melepaskan pandangannya dari wajah suaminya yang memasang raut kesal.


"Kamu tuh ganteng banget kalau jutek kaya gitu, klepek-klepek jadinya" Kata Rain tertawa menusuk-nusuk pipi Ega.


"Di sana ada dokter Fahri lho, Rain. Awas ya Kamu!" Oh jadi sebetulnya Ega melarang Rain ke rumah sakit karena takut bertemu dokter Fahri.


"Mas cemburu?" tanya Rain menghentikan tawanya.


"Enggak, Aku nggak suka aja sesuatu yang udah jadi milik Aku dilirik orang lain". Jawab Ega mengelak.


"Itu namanya cemburu, cemburu artinya cinta". Ujar Rain tersenyum simpul.


"Kamu nggak cinta sama Aku?" Rain bertanya serius memutar duduk menghadap Ega, berusaha menatap suaminya itu.


"Eng-gak" Jawab Ega mengeja dengan penuh penekanan seraya balas menatap Rain.


Deg.


Hati Rain terasa disayat pisau tajam. Benar kata eyang ** Habiebie, Cinta itu indah, namun perih.


Mereka sudah tidak lagi mengobrol sampai akhirnya tiba di ruangan Pak Riko. Rain menatap iba keadaan Pak Riko yang payah. Kaki, tangan dan lehernya digips. Banyak alat medis yang menempel di tubuhnya. Rain tidak tahu itu alat apa yang jelas pasti rasanya sakit jika ada di posisi itu.

__ADS_1


'Sakitnya sama kayak yang Aku rasakan sekarang nggak Pak?'


Rain tidak kuasa menahan tangis. Rain mendekat ke arah Pak Riko lalu membisik di telinganya.


"Cepet sehat ya, Pak. Kembalilah Pak"


Detik berikutnya Rain sudah menangis lalu berlari keluar ruangan, Ega membuntutinya dari belakang.


"Cengeng banget, sih Rain. Dikit-dikit nangis". Seru Ega mensejajarkan langkahnya. Rain tidak menjawab, memutar bola matanya jengah.


'Nyebelin Kamu, Mas. Sedikit-sedikit jahat. Tadi pagi bersikap manis. Sekarang gini'.


Mereka kembali pulang dengan keadaan mood yang berantakan satu sama lain. Rain tidak mau bicara begitupun Ega. Mereka bertingkah seperti anak kecil yang bertengkar untuk sesuatu yang tidak jelas permasalahannya. Sampai di rumah keduanya masih saling berdiam diri. Rain segera masuk ke kamarnya begitupun dengan Ega.


Di kamarnya Ega mengacak rambut frustasi seraya berkali-kali mengumpat


"Shit, Loe bodoh Rain. Ngapain Loe nanya sesuatu yang udah Loe tahu jawabannya?" Ega membanting tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan matanya. Mengusap kasar wajahnya berkali-kali.


Rain duduk termenung di tepi ranjang. Jilbab besarnya itu basah terkena air mata. Perasaannya kacau tak beraturan. Baru tadi pagi hatinya sudah melayang terbang dengan ribuan bunga di sekelilingnya kenapa sekarang malah terasa perih disayat-sayat.


'Ini namanya sudah diangkat tinggi-tinggi, tiba-tiba dilempar balik sampai jatuh berantakan'. Batin Rain di sela isak tangisnya

__ADS_1


__ADS_2