Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Tak Terduga


__ADS_3

Rain masih diam saja tapi berusaha tenang dengan mengatur nafas. Ega yang berdiri tidak jauh dari hadapannya terus memandangi wajah ketakutan itu. Ega bisa melihat kalau Rain sedang berusaha menenangkan dirinya. Terdengar suara Rain membuang nafas kasar.


"Rain, ayo makan" Kembali mengajak Rain, dan Rain mengangguk. Akhirnya keduanya berjalan bersisian. Ega ingin sekali meraih tangan Rain dan menggenggamnya. Keduanya makan tanpa suara, tadinya Rain pikir ingin menyendokkan nasi untuk Ega tapi dia masih takut dan Ragu. Rain terlihat susah sekali menelan makanannya. Pandangannya sesekali tertuju pada Ega yang dengan lahapnya menghabiskan makanan.


Keduanya selesai dengan makan malam mereka dan masih saling terdiam. Suasana terasa sangat canggung dan mencekam. Rain beranjak untuk merapikan piring kotor. Hidangannya dihabiskan Ega tanpa sisa.


"Aku pengen sarapan pake menu ini lagi, ya". Ega membuka pembicaraan yang cukup membuat jantung Rain rasanya mau loncat. Rain tersenyum mengangguk, seraya membawa piring-piring kotor ke wastafel. Ega masih enggan beranjak, dia melihat Rain yang begitu telaten mencuci piring. Rain sengaja berlama-lama dengan aktifitasnya karena mengetahui Ega masih duduk di kursi itu.


Mereka jadi seperti dua orang asing yang belum saling mengenal. Ega rasanya ingin segera menghancurkan tembok dendam yang menjadi pemisah antara dirinya dan Rain. Tapi, entah mengapa bayang-bayang Pak Rakha dan nasibnya sewaktu kecil seolah berontak melarang Ega menghancurkan dendam itu. Jauh di lubuk hatinya cinta itu masih tersimpan rapi untuk Rain. Lihat saja bagaimana kemarin Ega dibakar api cemburu oleh dokter Fahri.


Pelan-pelan Rain menata mengelap piring dan memasukkannya ke dalam rak. Rain melirik Ega yang masih saja duduk dengan ujung matanya. Rain menghela nafas, rasanya sulit sekali berada di posisi seperti ini.


Pekerjaan Rain membereskan dapur sudah selesai, bahkan Rain berkali-kali melap sisi wastafel yang tidak kotor itu. Rain menghela nafas lagi, dia berniat segera ke kamar. Tidak mungkin sanggup jika sampai pagi dengan keadaan seperti ini. Rain membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan dapur. Lalu berhenti di samping meja makan. Tanpa menoleh, Rain bicara


"Mas, Aku duluan ke kamar ya?". Rain segera beranjak. Namun, baru beberapa langkah Ega seraya berdiri memanggilnya

__ADS_1


"Rain, sebentar".


Rain menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Ega berjalan mendekati Rain. Berdiri di hadapan istrinya yang mengenakan hijab berwarna biru mint itu.


"Besok tolong siapkan baju kerja ya, kasihan Bibi takut kecapean".


Apa? Rain tidak salah mendengar? Sungguh kekuatan doa memang dahsyat. Tikungannya disepertiga malam mungkin telah sampai mengetuk hati Ega.


Rain mengangguk patah-patah sambil menunduk. Dia segera berlari kecil menuju kamarnya sambil menyembunyikan senyum. Di dalam kamar


setelah mengunci pintu, Rain melompat-lompat kegirangan. Lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sambil terus tersenyum memeluk guling. Merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya.


*********


Masih pukul 05:00 saat Rain masuk ke kamar Ega dan menyiapkan pakaian kerja Ega. Ega sebenarnya sudah terjaga saat Rain membuka pintu, namun pura-pura masih tertidur. Entah datangnya dari mana ide gila itu, Rain lagi-lagi menatap lekat wajah tampan suaminya dan tersenyum lalu mencium penuh sayang kepala Ega.

__ADS_1


"Selamat pagi, Mas". Bisiknya lalu cepat-cepat berlaru karena takut ketahuan. Ega membuka matanya dan duduk. Mengusap-usap kepalanya yang dicium Rain.


"Maaf, Rain. Sekarang belum saatnya. Aku masih bingung". Ucapnya melirik pakaian kerja yang Rain taruh di atas meja belajarnya.


Pukul 06:30 Rain ke luar dari kamar dengan mengenakan gamis berwarna maroon dan hijab warna pink muda yang menutupi lekuk tubuhnya. Rain cepat sekali beradaptasi dengan penampilannya sekarang. Bahkan saat di rumah pun Rain sudah terbiasa mengenakan hijab walau masih menggunakan celana panjang sebagai bawahannya.


Rain berpapasan dengan Ega yang baru saja turun.


Deg.


Ega tampak dewasa dan tampan sekali dengan pakaian kerjanya yang rapi itu. Mereka saling melempar pandang dan memuji dalam hati masing-masing membuat keduanya salah tingkah. Bibi yang baru saja sampai tersenyum bahagia melihat keduanya. Bibi merasa bersyukur karena Ega perlahan sudah menunjukkan sikap baiknya terhadao Rain.


Bukan Bibi namanya kalau tidak jahil, dengan pura-pura memegangi dadanya bibi berteriak


"Aduuh". Sontak Ega dan Rain mendekat ke arah Bibi dan kompak berteriak

__ADS_1


"Bibiii".


Bersambung dulu yaa


__ADS_2