
Ibu memejamkan matanya, Rain sudah tidak sanggup menahan dirinya. Berkali-kali memijat kening dan mengusap wajah. Ega berpindah tempat duduk bersimpuh di hadapan Rain.
"Jangan takut, Sayang. Kita tidak perlu mendengarnya kalau itu cuma bikin Kamu down". Ega semakin memahami situasi. Dia sudah bisa mengambil garis besar cerita Pak Riko.
"Aku masih mau denger, Mas. Aku siap" Rain berusaha menahan tangisnya.
"Lanjutin, Ko. Gue juga nggak mau mereka berdua stuck di pemikiran yang salah. Mereka berhak tahu". Ibu lebih tegar.
Ega tidak berpindah tempat, duduk di lantai berhadapan dengan Rain. Menggenggam erat kedua tangan istrinya itu. Ega menyesal telah percaya pada Papanya.
Flashback
Ketika keempatnya sedang asyik bercengkrama dengan Rakha yang terus menunjukman sayangnya kepada zein, datanglah seorang wanita yang wajahnya dipenuhi amarah.
"Maas Rakha, ini alasan Kamu ke Bandung dan terus-terusan nolak Aku yang jelas-jelas sudah sah jadi istri kamu di mata hukum dan agama?" Teriak wanita itu sambil menunjuk ke arah Zein yang saat itu sedang menyandarkan kepalanya di bahu Rakha. Zein, Riko dan Rosa saling melempar pandang. Di antara ketiganya sudah jelas Zeinlah yang paling terpukul.
"Benarkah itu mas?" Dengan berlinang air mata Zein memandang Rakha yang saat itu terlihat frustasi.
"Iya, tapi Aku bisa jelaskan. Aku nggak mau pisah sama Kamu. Aku pengen Kita nikah Sayang. Aku nggak cinta sama Maria. Bahkan Aku belum pernah menyentuhnya" Rakha bersimpuh di kaki Zein yang semakin menangis hebat.
"Dari awal Aku selalu ragu sama Kamu, Mas. Kembalilah pada istrimu sebelum kita lebih jauh melangkah. Dia lebih membutuhkanmu daripada Aku" Zein berusaha tegar dan memposisikan dirinya di posisi Maria. Sebesar apapun cintanya teehadap Rakha itu bukan alasan bertahan Rakha.
__ADS_1
"Aku akan ceraikan Dia, Zein. Aku hanya bahagia bersamamu" Rakha masih bersimpuh dengan tatapan memohon.
"Pernikahan adalah ikatan suci, ikrarmu dengan Allah Mas. Belajarlah mencintai Maria. Kita bisa jadi teman baik" Zein berbohong, sebab setelah itu Dia akan meninggalkan Rakha sejauh-jauhnya.
"Tapi kita menikah dijodohkan, Aku nggak pernah mau. Aku nggak cinta sama Dia". Rakha terus meyakinkan Zein. Zein menggeleng, melepaskan cincin yang minggu lalu pernah Rakha berikan padanya.
"Aku tidak bisa, Mas. Kembalilah pada istrimu. Jangan jadi pengecut. Aku harus pergi". Zein berdiri, namun kakinya ditahan oleh Rakha. Rakha memeluk kaki Zein seperti seorang pendosa meminta ampun pada tuannya.
"Maafkan saya Mbak, saya benar-benar tidak tahu kalian sudah menikah. Saya akan pergi, Mbak harus membuat suami Mbak mencintainya". Dengan suara bergetar Zein berusaha tersenyum pada Maria. Beruntung Maria adalah wanita baik, dia bisa mengerti itu.
"Terimakasih, Zein. Terimakasih". Hanya itu yang diucapkan Maria.
plak
Zein menampar pipi Rakha
"Itu untuk sakit hati yang mas torehkan pada Mbak Maria". Zein pergi, berlari. Rosa ikut menampar Rakha. "Dan itu buat Loe yang udah bohongin Zein".
Rosa mengejar Zein sementara Riko tetap tinggal. Riko merasa takut dibunuh oleh Rakha jika berani berpihak pada Zein. Riko memang pengecut.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Pak Riko tersenyum membalikkan badannya.
"Harusnya Loe terima Gue waktu itu Zein, ya meskipun Gue nggak akan dapetin apa-apa tapi kan nggak rumit kaya gini jadinya".
"Jaga mulut Loe Ko, udah tua nggak berubah. Loe pengkhianat". Ibu menatap Pak Riko penuh amarah namun tidak bisa dipungkiri mata mereka saling merindu.
"Iyalah, kalau Loe nikah sama Gue belum tentu juga anak Loe secantik ini". Pak Riko berusaha mencairkan suasana namun Dia lupa ada siapa di sana.
"Bacot Loe jaga Pak, Gue bunuh Loe". Ega ingin bangkit namun Ibu menahan pundaknya.
"Wow, Gue lupa Zein. Menantu Loe mewarisi darah mantan Loe. Takut Gue". Pak Riko tetap tenang dengan tawa kecilnya.
"Berani sekali lagi Loe ngomong gitu, Gue sendiri yang akan bunuh Loe". Ibu geram sekali dengan sahabat masa kecilnya itu.
"Aku mau denger terusannya Pak, jangan bikin Aku pusing". Rain dengan suara lemah meringis menahan sakit di kepalanya.
"Sayang, jangan stress. Jangan dilanjut ya. Aku nggak mau Kamu kenapa-kenapa". Ega tidak tega melihat wajah pucat istrinya.
"Terusin, Pak. Atau Aku juga ikut bunuh Pak Riko". Rain kembali bicara sambil memejamkan matanya.
Pak Riko tertawa melihat ketiga orang yang punya misi ingin membunuhnya itu.
__ADS_1