Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Extra Chapter


__ADS_3

Sedari selesai shalat shubuh Kaf terus saja merajuk tidak ingin berangkat ke sekolah.


"Coba bicarakan pada Bunda, kenapa Kaf hari ini tidak masuk. Kaf sedang tidak sakit lho?". Rain membujuk putranya yang sedang bersembunyi di balik bedcover gambar kartun kesukaan Kaf. Kaf tetap tidak menjawab, kepalanya menggeleng-geleng di bawah selimut. Tentu saja tidak bisa dilihat Rain. Rain melihat sekilas ponselnya dan sudah jam 05:30. Selama itukah membujuk Kaf agar mau ke sekolah?


"Ya sudah, Bunda ke dapur dulu ya buat sarapan. Kaf nanti di rumah sendiri lho. Bunda sekolah, Baba, Nenek Alis sama Enin ke restoran. Katanya Kaf suka terbayang-bayang Nenek Bibi sama Kakek Odang kalau sendiri hihihi" Rain sengaja menakut-nakuti anaknya. Pasalnya selain Bibi, Mang Odang juga sudah meninggal. Entah siapa yang pertama mengatakan. Kaf jadi sedikit penakut setelah sepeninggalan mereka. Kaf terlaly banyak bergaul dengan Ibu-ibu pemetik teh, sih.


"Nanti kan ada Ibu-ibu pemetik teh. Kaf ikut saja memetik teh". Kaf berteriak di balik selimutnya, Rain hanya mendengarnya samar-samar.


"Ya sudah, Bunda kalah deh. Bunda ke dapur ya". Rain melangkah pelan meninggalkan putranya. Belum ada Rain sampai di bibir pintu, Kaf sudah memeluknya dari belakang.


"Ok, Kaf sekolah deh. Tapi harus diantar sama Baba juga".


Rain membalikkan badannya dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh putranya. Diraihnya kedua pipi menggemaskan Kaf lalu dikecupnya bergantian.


"Ahmad Sakaf anak pintar, sekolahnya tidak perlu diantar. Kalau Baba nggak kerja nanti Allah menurunkan rezekinya lewat mana?"


Sakaf berfikir sebentar memutar-mutar bola matanya.


"Hai, hei kenapa ini sayang-sayangnya Baba koq serius sekali". Ega yang baru pulang dari mesjid mengulurkan tangannya untuk dicium anak dan istrinya bergantian.


"Oh iya, Ba. Kaf sudah tanya Pak Ustadz. Katanya Baba sama Bunda itu boleh lho pegangan tangan dan pelukkan". Kaf teringat sesuatu akan hasil jawaban yang diberikan Pak Ustadz terkait pertanyaannya seputar boleh tidak Bunda dan Baba berpelukkan?


Rain dan Ega tertawa kecil dan mencium pipi Kaf berbarengan.


"Anak pintar". Ega mengacak rambut anaknya yang lurus dan lembut itu.


"Tapi, Kaf malu kalau ke sekolah hari ini". Kaf menundukkan kepalanya.


"Malu kenapa, kan Gurunya Bunda Kaf sendiri". Ega meraih tubuh putranya dan dinaikkannya ke atas bahu lalu membawanya berlari-lari kecil di dalam kamar.


"Iya, iya Kaf ke sekolah tidak diantar Baba dan tidak malu".


Kaf sudah tertawa-tawa rasanya seperti naik odong-odong di pasar malam saja.

__ADS_1


🍂🍂🍂


Kaf dan Rain sedang sama-sama memakai sepatu saat seorang gadis kecil masih duduk di ayunan sendirian sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.


"Bun, itu Frea". Kaf menunjuk ke arah Frea. Dia hanya duduk di ayunan itu tanpa menggerakkannya.


"Frea". Teriak seorang wanita yang mengenakan dres selutut tanpa lengan. Ketukan dari heelsnya membuat Frea yang sedari tadi menunduk berubah sumringah.


"Mami". Frea segera berhamburan ke pangkuan wanita yang dipanggilnya Mami. Rain mengajak Kaf untuk menghampiri Mereka. Rain merasa tidak asing dengan wanita yang kini sedang menggendong Frea.


"Cecil?" Rain memastikan bahwa itu benar-benar Cecil.


"Rain, Anak Loe sekolah di sini juga?" Cecil menyibak rambut yang menghalangi wajahnya.


Baru Rain akan berucap, Frea lebih dulu menjelaskan.


"Itu Bunda hujan, Mami. Gurunya Frea". Anak-anak memang lebih senang memanggil Rain dengan sebutan Bunda Hujan. Mereka sudah mengerti bahwa Rain itu Hujan dalam bahasa Indonesia.


"Oh My God, dunia sempit banget rasanya bisa ketemu Loe lagi". Cecil menurunkan Frea karena merasa berat sekali terlalu lama menggendongnya.


"Bukannya di situ perkebunan teh, ya?" Cecil mengerenyitkan dahinya.


"Ada rumah di dalamnya, Kita bisa ngobrol dulu. Frea, anak Bunda yang cantik. Mau kan main dulu ke rumah Kaf?" Rain memandang Frea yang langsung berlompat ria.


"Fre mau, Mam. Ayo Mam".


Kaf menatap tajam kelakuan Frea yang menarik-narik ujung dress Cecil sambil merengek dan melompat-lompat.


"Frea, kalau minta sesuatu sama Ibu kita itu harus sopan. Bicaranya yang lembut jangan merengek. Gitu kan, Bun?" Kaf berganti memandang Rain yang tersenyum dan mengangguk seraya mengusap kepala putranya penuh sayang. Frea seketika diam dan mendengus kesal.


"Iya deh, kebetulan Gue juga nggak buru-buru. Ayo". Ucapan Cecil membuat Frea kembali tersenyum walau masih menatap penuh dendam ke arah Kaf. Kaf hanya menggeleng-geleng 'Sudah bagus ku kasih tahu, malah melotot' Gumam Kaf.


Lalu mereka berempat berjalan bersisian menuju rumah Rain.

__ADS_1


Cecil menatap takjub perkebunan teh yang terdapat banyak bangku di sekitar sisi nya. Apalagi ketika mendongakkan kepala ke arah atas, Dia melihat ada bangunan kaca dipadukan kayu. Walau hanya melihat dari jauh tapi sepertinya tempat itu sangat asyik.


"Itu tempat apa, Rain?"


"Oh itu restoran Kami, sudah kurang lebih 5 tahun ini dibuka. Mas kan sekarang udah nggak di perusahaan lagi". Jawab Rain bersamaan dengan mereka sampai di pelataran rumah.


"Duduk di luar aja, Rain". Cecil menunjuk pada kursi kayu di teras rumah.


"Ok, kalian tunggu sebentar. Aku sama Kaf ke dalam dulu". Rain menggandeng anaknya untuk segera ke dalam mengganti pakaian.


Cecil duduk sementara Frea tertarik melihat bunga aster yang terhampar di pelataran rumah. Ada kupu-kupu yang hinggap di atas bunga yang indah dengan warna kuningnya itu.


"Fre mau lihat itu boleh?"


Cecil mengerungkan kening, ini baru pertama kalinya Frea meminta izin jika hendak melakukan sesuatu. Apa omongan anak Rain tadi penyebabnya?


"Boleh, tidak Mam?" Frea mengatupkan tangannya di bawah dagu, apa maksudnya?.


"Iiya boleh, jangan jauh-jauh ya".


"Yeay, makasih Mami". Frea mengecup sekilas pipi Cecil dan langsung berlari kecil menghampiri kupu-kupu yang hinggap di atas hamparan bunga aster. Jangan ditanya, kupu-kupu itu langsung terbang begitu mendengar hentakan Kaki frea. Frea memasang wajah kecewa, padahal ingin sekali melihatnya dari dekat.


Ega berlari-lari kecil membawa plastik putih di tangannya. Pandangannya langsung tertuju pada Frea yang sedang berjongkok di depan hamparan bunga aster lalu teralih memandang Cecil yang juga sedang memandangnya. Perlahan Ega menghampiri Cecil.


"Cecil, Loe koq bisa di sini?"


"Gue tadi mau jemput noh anak Gue". Cecil menunjuk Frea dengan dagunya.


"Jadi Frea yang suka Kaf ceritain ke Gue itu anak Loe?" Ega duduk di salah satu kursi kayu itu. Cecil hanya mengangguk.


"Ragga, Loe selama ini bohongin Rain ya?" Cecil menyelidik.


"Bohong apa, Mas?" Rain dari arah dalam membawa nampan berisi air minum dan makanan ringan langsung penasaran mendengar perkataan Cecil. Cecil tetaplah Cecil, jika bicara tidak bisa pelan.

__ADS_1


Deg!


__ADS_2