
Hari-hari Rain dan keluarganya selalu terasa berarti dengan tingkah dan celoteh Kaf. Usianya kini sudah 6 tahun. Beberapa hari lalu Rain melahirkan anak keduanya secara normal di klinik yang sama dengan kelahiran Kaf.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu sungguh membuat semua dunia Rain terasa sempurna. Dinamai Sayyida Ainnun dengan alasan menggabungkan huruf Ain dan Nun. Bayi mungil menggemaskan dengan pipi gembul dan bersemu merah.
Kaf sangat menyayangi adiknya. Sikap protective nya sudah Ia perlihatkan sejak dini. Kaf selalu menunggui setiap saat adik kecilnya itu.
"Nanti adek dipanggilnya apa, Bun?"
Siang itu saat Rain menyusui putrinya, Kaf terus saja duduk di sampingnya memegangi jemari adiknya yang mungil.
"Eemm apa ya, Kaf punya ide?" Rain balik bertanya karena jujur saja merasa kerepotan juga jika sedang menyusui terus ditanyai seperti ini. Ingin ditegur pasti nanti Kaf tersinggung.
"Nun saja deh, biar singkat seperti Kakak Kaf." Jawabnya seraya menciumi jemari adiknya.
"Bagus panggilannya, selamanya Kaf dan Nun harus saling menjaga dan menyayangi." Rain mulai menaru tubuh putrinya di kasur karena sudah tertidur kembali. Kaf berangsur pelan ke samping adiknya. Dia ikut merebahkan diri di samping bayi itu.
"Nanti boleh dikenalkan pada senja ya, Bund adek nya?" Kaf mengusap-usap pipi gembul adiknya.
"Iya, nanti setelah agak besar. Sekarang adek masih kecil belum kuat dengan angin."
"pasti senja nanti minder lihat adek yang lebih cantik." Kaf menusuk-nusuk gemas pipi adiknya. Sentuhan yang dibuat Kaf membuat bayi itu menggeliat.
"Eeehh ini sayang-sayangnya Aba lagi pada kumpul." Raga yang baru pulang dari restoran segera saja menghampiri kedua anaknya lalu diciumnya bergantian. Setelahnya baru mendekati istrinya dan juga dikecupnya dahi Rain.
"Udah makan, Sayang?" Raga mengelus kepala istrinya penuh sayang. Sikapnya selalu manis dan perhatian.
"Udah, habis diisi langsung diserap lagi sama dedek."
"Terimakasih sayang, sudah memberikanku putra putri yang tampan dan cantik. Kami beruntung memilikimu."
"Apaan sih, jangan berlebihan!" Rain mengerucutkan bibirnya.
"Kamu memang hebat, Aku jadi penasaran anak ketiga Kita jangan-jangan kembar?" Raga menatap Rain dengan penuh harapan.
"Mas, ini yang kedua saja baru lahir. Sudah berpikir untuk yang ketiga. Melahirkan itu sakit tahu!"
"Sesakit membuatnya gak?" Raga berbisik dan langsung saja lengannya terkena pukulan dari Rain. Kaf yang melihat itu hanya menggeleng.
__ADS_1
"Bunda sama Baba sudah besar masih main berantem-beranteman," protes bocah itu.
"Nggak, Sayang. Tadi ada nyamuk di lengan Baba. Makanya Bunda tepuk." Rain berkilah.
"Iya nanti kalau gak ditepuk nyamuknya gigit adek. Kan kasihan adek belum bisa melawan." Raga ikut menambahi kebohongan Rain.
"Kaf akan selalu jaga adek dari bahaya apapun, apalagi cuma seekor nyamuk." Kaf merentangkan kedua tangannya dan menjaga tubuh adiknya.
"Terimakasih ya, Kaf. Sudah mau bantu Bunda jagain adik."
"Terimakasih juga sudah jadi anak tampan, jadi anak sholeh."
Raga ikut memuji kebaikan anaknya. Kaf hanya mengangguk tanpa melepas rentangan tangannya yang sedang menjaga adiknya.
***
Usia Nun kini sudah menginjak satu tahun dua bulan. Tubuhnya gemuk berisi seperti kaf saat kecil. Kesukaan Nun yaitu saat Kaf mengajaknya bermain. Apapun yang dilakukan Kaf selalu membuat bayi dengan pipi gembul dan mata bulat itu selalu tertawa geli.
Rain berkali-kali hanya dapat mengucapkan syukur dengan kehadiran dua buah hati yang selalu bisa menjadi pelipur lara dan peluruh dukanya. Rasa lelah akan sirna begitu saja saat memandangi anak-anaknya yang tertidur lelap.
***
Sesuai janjinya saat Nun masih bayi, sore dengan langit indah bersama semburat jingga merah yang menghiasinya. Rain, Raga, Kaf dan Nun seperti biasa menyapa senja dengan membawa Nun untuk pertama kalinya.
"Bunda, senja itu seperti Frea. Datang hanya sebentar lalu pergi." Kaf memandang senja sore itu sambil ingatannya tertuju pada Frea.
"Kaf sedang rindu pada Frea?" Rain mengelus pipi lembut putranya itu.
"Kalau ingat itu artinya rindu ya, Bun?" Kaf balik bertanya
"Iya, bisa dibilang begitu," jawab Rain lalu mencium pipi putranya itu gemas.
"Bunda bilang pada senja ya supaya Frea juga ingat pada Kaf."
Rain mengangguk, lalu mengambil Nun dari pangkuan Raga karena putrinya itu mulai merasa bosan.
"Kalau mau, Kaf ikut saja dengan Baba ke Jakarta. Nanti bisa bertemu Frea di sana," usul Raga membuat Kaf menggeleng.
__ADS_1
"Kalau dijanjikan suka nggak jadi, Ba. Biar aja nanti bertemu sendiri."
Rain dan Raga saling melempar pandang. Bagaimana bisa putra mereka itu sudah memiliki pemikiran sejauh itu?
Nun kembali meronta, bayi itu rupanya benar-benar sudah bosan berada di luar terlalu lama.
"Ya sudah, Kita masuk ya. Kasihan adek pengen mimi kayaknya."
Kaf dan Raga mengangguk lalu meninggalkan senja yang hampir tenggelam. Semburat jingga merah itu berangsur berubah menghitam.
****
Pemandangan yang sangat indah di malam hari bagi Raga adalah saat menyaksikan Ibu dari putra-putrinya sedang berbaring bersama kedua buah hati Mereka. Sudah lama rasanya tidak ada kegiatan mencuci sprei di pagi hari. Semenjak kehadiran Nun, Kaf tidak mau tidur sendiri. Mereka berempat selalu tidur di kamar dengan posisis Rain berada di tengah. Rain benar-benar disabotase oleh Kaf dan Nun.
Terkadang Raga merasa kasihan melihatnya, tak jarang Rain merasa kewalahan saat Nun menangis dan Kaf sendiri minta dibantu membuatkan PR. Sebaik apapun Kaf, Dia tetaplah seorang anak yang masih mencari perhatian orangtuanya.
Malam itu Kaf dan Nun sudah terlelap. Rain yang baru selesai shalat Isya sedang melipat mukenanya bersamaan dengan Raga yang masuk ke dalam kamar. Entah mengapa Rain merasa sangat rindu pada sosok suaminya itu. Rain sembarangan melempar lipatan mukena ke dalam lemari lalu menghampiri suaminya dan langsung memeluknya.
"Rindu sekali, udah jarang banget Kita berduaan. Waktuku selalu diambil oleh sama Kaf dan Nun." Rain mengendus-endus hidung di leher suaminya.
"Iya, Aku cuma kebagian sisa aja. Rindu cuci sprei pagi-pagi gak?"
"Iya, rindu." Rain mendongakkan kepala, menatap tajam ke dalam manik suaminya.
"Terimakasih sudah jadi suami terbaik. Kekasih terbaik. Semoga Kita menjadi kekasih sesurga. Semoga Aku tetap menjadi kekasihmu di kehidupan yang kekal nanti. Kalau nggak, Aku sudah sangat bahagia menjadi kekasihmu di dunia." Rain berjinjit lalu mengecup sekilas bibir suaminya.
Raga segera menariknya kembali kedalam pelukan, sudah tidak dapat bicara apa-apa selain "I Love You." Dan dibalas Rain dengan semakin mengeratkan pelukannya.
END
Terimakasih kepada para pembaca sehingga novel receh yang hancur banget ini akhirnya resmi dikontrak dan juga mendapatkan rewards dari pihak Noveltoon. Saya sebenarnya malu mendapatkan reward dari sebuah karya yang sangat hancur dari segala unsur ini. Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian pada novel kedua saya yang sedang Up. Semoga saya bisa memperbaiki kesalahan saya di karya berikutnya.
.
.
.
__ADS_1