Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Bubur kacang hijau


__ADS_3

"Bunga dari siapa sih sampai dilihatin terus?" Tanya Bibi yang sadar akan raut wajah Rain yang memandangi bunga itu.


"Dari Yugo, Bi. Muridku. Padahal usianya baru 8 tahun. Dia mau lamar Aku katanya". Rain tertawa mengingat tingkah Yugo saat di kelas tadi.


"Pak dokter juga katanya naksir sama Neng Rain" Seru Bibi sengaja memanas-manasi Ega yang terlihat mengepalkan tangannya. Baru saja Ega merasa lega karena yang memberi Rain bunga hanyalah anak kecil,Bibi malah mengusik ketenangannya lagi.


"Bibi, udah lah. Aku nggak suka ah ngomongin orang". Raut wajah Rain terlihat kesal. Entahlah dari dulu jika mengetahui ada lelaki menyukainya, Rain malah jadi ilfeel pada lelaki tersebut. Hanya Ega saja yang membuatnya selalu cinta.


"Mas, makan gih. Tadi Ibu bawa makanan buat Kamu. Ayo mas udah Aku siapkan di meja!" Rain menoleh pada Ega yang sedari tadi diam saja. Sebenarnya hati Ega bahagia sekali mendengar perkataan Rain. Rain mendekat pada Ega dan berbisik


"Kali ini, saja Mas. Demi Bibi".


Ega mengangguk lalu melangkah ke arah sofa dan menikmati makanannya.


"Bibi senang, sepertinya Ego nya Aa mulai berkurang" Kata Bibi memandangi Ega. Rain hanya mengangguk tersenyum memandangi suaminya itu.


Andai Aku bisa duduk di sampingmu mas.


*********


Malamnya saat Bibi sudah tertidur Rain merasakan suasana canggung sekali. Rain yang sedang duduk di sofa berhadapan dengan Ega yang sedang sibuk dengan laptopnya merasa terselamatkan dengan dering penselnya yang menandakan panggilan masuk


📞Hallo Assallamuallaaikum, dengan siapa ya?


📞Waallaykumsalaam Ibuu Guru cantiik ini Yugo


📞Aah Yugo, ada apa sayang?


📞Yugo kangen sama Ibu cantik


📞Besok kan bertemu, Nak


📞Iya, tapi malam ini kangen

__ADS_1


📞Iya, yaudah Ibu juga kangen.


📞Yaudah kalau gitu Aku jadi bisa Bobo. Daah Ibu cantik.


Rain mematikan sambungan teleponnya. Lalu beranjak mengambil dompet di lemari.


"Mas, Aku izin keluar sebentar ya" Seru Rain dengan hati-hati.


Rain pikir Ega hanya akan diam saja atau bahkan memarahinya. Ega malah menutup laptopnya dan berdiri mendekati Rain.


"Mau kemana?" Ega dengan suara lembutnya membuat Rain sedikit tidak percaya. Hatinya berdenyut, bukan sakit melainkan terasa hangat. Tatapan teduh itu, sudah lama Rain rindukan.


Belum sempat Rain menjawab tiba-tiba Dokter itu masuk ke ruangan membawa kantong plastik putih kecil.


"Selamat, malam. Mbak cantik. Saya bawakan Bakso nih. Malam-malam gini enak lho Mbak". Seru dokter itu langsung saja meletakkan bungkusan itu di meja. Ayam geprek kemarin saja jadinya diberikan pada satpam apalagi Bakso.


"Makasih, dok. Nggak usah repot-repot". Kata Rain dengan senyum dipaksakan.


Dokter itu tidak menjawab, malah beranjak. Tapi belum sampai benar-benar pergi Ega memanggilnya.


Dokter itu berhenti dan kembali ke hadapan Ega dan Rain.


"Maaf, dok. Lain kali dokter nggak usah repot-repot. Istri saya ada saya yang memperhatikan. Ini sebenarnya Kita mau keluar makan malam. Tapi terimakasih dokter membawakan makanan"


Dokter itu kaget bukan main, jadi dari kemarin dia menggoda perempuan bersuami di hadapan suaminya.


"Maaf, Mas. Saya pikir kalian kakak beradik".


"Dia istri saya. Rain istri saya". Jawab Ega penuh penekanan seraya merangkul bahu Rain dari samping. Rain merasakan jantungnya terpompa lebih cepat dan perasaan hangat itu kembali mendesir di hatinya. Tangan yang satu terkepal kencang dan tangan satunya mencengkran kuat gamisnya.


"Maaf, Mas. Mbak Saya minta maaf. Saya sudah lancang" Kata dokter itu menatap Ega dan Rain bergantian.


Ega dan Rain tersenyum mengangguk. Dokter itu kembali keluar dengan mengambil langkah seribu.

__ADS_1


Rain segera menjauhkan diri dari Ega. Entahlah, tubuhnya bergetar hebat. Rain kembali duduk kali ini memegangi dadanya yang penuh sesak.


"Kenapa, Rain?" Tanya Ega menelisik ke wajah Rain.


"Perutku tiba-tiba sakit lagi Mas" Beruntung Rain memiliki alasan yang tepat untuk menjawab.


"Baksonya jangan dimakan, Ya. Aku belikan Bubur kacang hijau, mau?"


Rain mengangguk.


"Tunggu, ya. Nanti Aku sekalian belikan Kiranti" Ega merasa sedikit khawatir pasalnya saat berpacaran dulu Rain bahkan sempat pingsan menahan nyeri datang bulannya.


Rain mengangguk masih memegangi dadanya. Ega berlalu setelah beberapa detik memperhatikan wajah Rain yang sangat merah.


******


Ega kembali dengan membawa sebungkus bubur kacang hijau dan lima botol kiranti di tangannya.


"Maaf, lama ya?" Ega mulai menyunggingkan senyuman saat bicara pada Rain.


"Nggak apa-apa Mas".


Ega segera mengambilkan mangkuk dan menuangkan bubur itu. Kepulan asap masih terlihat di sana, aroma pandan langsung menyeruak saat dengan sempurna bubur itu tertuang ke dalam mangkuk.


"Waah kayaknya lezat, Mas". Rain sudah berdecap saja. Ega hanya tertawa lalu


"Buka mulutmu, biar Aku suapi".


Rain mengerenyitkan dahi


"Ayo, aaaaa"


Baiklah Rain menurut saja, jadilah malam itu Rain memakan bubur kacang hijau disuapi oleh Ega. Rain tak melepaskan pandangannya dari wajah tampan suaminya itu.

__ADS_1


Semakin diikhlaskan ternyata semakin mudah, terimakasih Ya Rabb. Bukalah lebih dalam lagi hati suami hamba.


__ADS_2