
Siang itu Ega mengajak Rain menemui Pak Rakha di kediamannya. "Semalam Papa telpon nyuruh Kita ke apartemennya". Kata Ega saat keduanya keluar dari kafe setelah makan siang.
"Aku tuh malu sebenernya kalau ketemu Pak Rakha" Ucap Rain dengan wajah gelisah.
"Udah lah, biarin aja Papa dengan pemikirannya. Nanti setelah menikah juga Kita nggak akan sering ketemu. Papa tuh selalu sibuk. Kadang Aku lupa kalau punya Papa" Kata Ega tersenyum lirih. Rain tidak menjawab lagi, sibuk menenangkan dirinya.
Setelah tiba mereka disambut antusias oleh Pak Rakha. Tapi, kenapa setiap bertemu Mawar selalu tidak ada.
"Mama muda mu itu sibuk mengurus bisnisnya" Begitu jawaban Pak Rakha saat Rain menanyakan keberadaan Mawar.
"Begini, Rain. Sebelum kalian menikah ada baiknya Kamu tahu masalalu Ega dan juga Saya" Pak Rakha mengawali pembicaraan dengan nada serius.
__ADS_1
"Ega udah cerita koq pa!" Sahut Ega demi melihat raut kegelisahan di wajah Rain ingin rasanya segera pulang.
"Cerita yang mana? Bahkan Kamu sendiri tidak tahu detail ceritanya seperti apa!" Kata Pak Rakha dengan raut tidak menyenangkan.
"Ada sesuatu yang harus Kamu tahu, Mama mu itu dulu sempat sakit jiwa saat menikah dengan suami pertamanya" Ucap Pak Rakha, matanya menerawang seolah mengingat sesuatu.
"Dengarkan saya bicara, jangan menyela!" Ucao Pak Rakha saat Ega terlihat membuka mulutnya.
Pak Rakha mengakhiri ceritanya dengan senyum getir.
"Waktu itu Papa bilang, mama sengaja meninggalkan Aku dan menikah lagi" Kata Ega dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Waktu itu Papa nggak mau buat Kamu memikirkan hal-hal seperti ini. Sekarang sudah waktunya Kamu tahu" Jawab Pak Rakha menunduk. Ega mengepalkan tangannya menahan emosi.
Benarkah semua ini? batinnya.
Tubuh Ega bergetar, air matanya sudah tak terbendung.
Berani sekali laki-laki itu membunuh Ibuku. Membiarkanku hidup tanpa seorang ibu.
Rain segera memeluk Ega memberikan ketenangan.
"Menangislah" Rain berbisik halus. Ega pun menangis menumpahkan segala rasa sakit yang selama ini menyelimuti hatinya. Rain mengusap lembut punggung Ega memberikan kehangatan sekaligus kekuatan. Rain merasa takut sekali dengan sosok calon mertuanya itu. Pak Rakha sepertinya orang yang penuh amarah dan dendam. Sementara Ega meredakan tangisnya, Rain diam-diam memberanikan diri mengintip Pak Rakha yang duduk di hadapan mereka. Pak Rakha menunduk, tangannya mengepal namun bibirnya menyeringai jahat. Rain ketakutan. Benarkah semua yang dikatakan Pak Rakha tentang masa lalu Ega?
__ADS_1
Rain melepas pelukannya saat Ega sudah tak menangis, Rain berbisik pelan sekali "Aku mau pulang" Nadanya ketakutan sekali. Ega mengangguk dan keduanya langsung berpamitan pada Pak Rakha. Tangan Rain bergetar saat menyalami Pak Rakha. Rain menjadi sangat takut.