
Rain sedikit kaget saat tiba di rumah Ega. Komplek perumahan elit. Rumah besar dan mewah. Ega menggenggam tangan Rain masuk ke dalam rumah. Terlihat Bibi sedang duduk santai menonton televisi.
"Assalamualaikum, Bi." Salam Rain langsung mencium punggung tangan Bibi.
Bibi tersenyum senang, "eh neng geulis, sini duduk!"
Rain menurut, duduk di samping Bibi.
"A ega beli makan nggak? Bibi nggak masak." Kata Bibi menoleh pada Ega yang masih berdiri.
"Enggak, memangnya sejak kapan Bibi suka masak?" Ega tertawa. Selama ini Ega melarang Bibi masak mereka lebih suka membeli makanan matang.
"Nanti Ega beli, Bi." Katanya lagi.
"Sayang, Aku mandi dulu yaa. Kamu mau ikut atau sama Bibi di sini?" Ega menggoda Rain, sengaja. Rain otomatis menggeleng memasang wajah kesal. Ega tertawa sambil berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.
"Bibi masak nasi nggak?"
"Kalau nasi mah ada, Neng."
"Bibi dan Ega mau nggak Aku buatkan nasi goreng?"
__ADS_1
"Mau, yang spesial ya?" pinta Bibi. Rain mengangguk seraya mengacungkan jempol tangannya. Mereka berdua segera ke dapur.
Setelah mengikat rambutnya tinggi, dengan lihai Rain mengupas bawang dan memotong bakso juga sosis. Dia akan membuat nasi goreng spesial sesuai permintaan Bibi. Gerakan memasaknya sangat lihat, bahunya naik turun seirama. Setelah matang dia menatanya di atas piring.
Nasi gorengnya terlihat menggugah selera dengan telur mata sapi juga irisan timun dan tomat. Rain menghidangkan dua piring nasi goreng di atas meja makan. Kenapa hanya dua? tentu saja hanya Bibi dan Ega yang memakannya. Rain membuat roti panggang dengan selai nutela dan segelas besar coklat panas untuk dirinya sendiri.
Ega kembali dengan tubuh segar, rambutnya basah. Dia hanya memakai kaos rumahan dan celana pendek namun kenapa terlihat makin tampan. Senyumnya mengembang melihat hidangan nasi goreng di atas meja. Rain dan Bibi sudah duduk manis menunggunya.
"Ayo, makan! Nanti keburu dingin." Ajak Rain.
Ega segera duduk, Dia membaca do'a dalam hati. Suapan pertama membuat matanya berbinar.
"Rain, besok nikah aja yuuk. Aku pengen makan ini setiap hari."
"Udah dong A, kalo makan jangan ngobrol. Habiskan dulu makannya!" seru Bibi yang juga terlena dengan nasi goreng buatan Rain.
Rain hanya senyum-senyum, mereka kembali melanjutkan makan. Setelah selesai Rain segera membawa piring-piring kotor itu ke tempat pencucian piring dan membersihkannya.
Awalnya Ega dan Bibi melarang tapi Rain tetap memaksa melakukannya. Pekerjaan seperti itu bukan hal berat bagi Rain. Selesai membersihkan piring dan meja Rain kembali duduk bergabung dengan Bibi dan Ega yang sedang duduk di ruang TV.
"Sini, sayang!"Ega menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Rain menurut.
__ADS_1
Bibi pindah ke karpet dan mulai merebahkan tubuhnya sambil kembali menonton acara sinetron. Tapi, kembali duduk. Bibi menguap, rasa kantuk mulai mengajaknya untuk segera menemui bantal dan teman-temannya.
"A, Bibi ke kamar ya? Ngantuk pisan."
"Ya udah Bi, istirahat dulu sana." Jawab Ega tanpa menoleh karena sibuk dengan ponselnya. Bibi segera bangkit dan sebelum pergi Bibi kembali bicara, "awas ya jangan pada ngapa-ngapain, Neng kalau di apa-apain panggil Bibi!"
Rain tertawa sementara Ega mendengus kesal. Bibi benar-benar pergi.
Hening
Ega masih memainkan ponselnya
Rain meliriknya, memanggil nama Ega berulang-ulang namun yang dipanggil hanya menjawab "Hhmmm."
Rain mulai kesal, Dia sengaja menghentak-hentakan tumit kaki ke atas lantai.
Ega dengan cepat menyelesaikan ketikan di ponselnya lalu meletakan ponselnya di meja.
"Kenapa, sayang?" Ega menatap lekat kekasihnya itu.
"Ayo, ceritakan. Ceritakan semuanya!" Rain memasang wajah penuh harap. Ega menghela nafas, mungkin sekaranglah saatnya Ega membagi kisah hidupnya. Mungkin dengan Rain lah Ega akan berbagi kesedihannya.
__ADS_1
Ega mulai bercerita
"Dari kecil Aku nggak pernah tahu sosok Mama, Aku cuma lihat lewat photo. Papa bilang Mama ninggalin Aku dan nikah sama laki-laki lain. Jadi, Aku tuh dari kecil dirawat sama Bibi. Sesekali Papa suka datang sih ke Bandung. Papa tuh sering banget gonta ganti istri setelah Istri pertamanya meninggal. Saat usia 6 tahun Aku sempat ketemu istri pertama Papa, dia sangat baik tapi karena mengidap kanker servik beliau meninggal. Semenjak itu Papa sering banget kawin cerai. Papa banyak mengabaikanku. Sampai akhirnya Papa nyuruh Aku pindah ke sini dan mulai membantu Papa terjun dalam pekerjaannya." Panjang lebar Ega menceritakan masa lalunya. Ega menghela nafas sebelum melanjutkan cerita. Rain setia mendengarkan.