
Ega masih termenung setelah semua yang dibicarakan oleh Pak Rakha. Tapi, Ega kembali teringat dengan Mama Maria. Pak Rakha menyebutkan jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mama Rosa, lalu bagaimana dengan Mama Maria?
Pusing memikirkan tanpa tahu jawaban akhirnya Ega bergegas menuju tempat tinggal Pak Rakha.
Sampai di tempat yang dituju, Ega mendengar Pak Rakha berteriak-teriak dan suara Mawar yang menangis lalu terdengar pecahan benda yang di lempar. Pintu tidak dikunci, Ega menerobos masuk. Keadaan ruang tamu sungguh berantakan, dengan pecahan beling di mana-mana. Mawar terlihat kusut dengan ujung bibir berdarah.
"Ada apa Pa?" Ega memandangi Pak Rakha dan Mawar bergantian.
"Bukan urusanmu, ada apa kemari?" Pak Rakha yang sedari tadi berdiri segera menjatuhkan diri di sofa panjang itu.
Sementara Mawar, dengan berjalan mundur segera keluar dari sana. Entahlah, mungkin kabur.
"Pa, Aku tidak suka basa-basi. Aku hanya ingin memperjelas semuanga. Papa bilang mencintai mama saat pandangan pertama lalu bagaimana dengan Mama Maria? bukankah Papa menikahi Mama Rosa karena Mama Maria tidak memiliki anak?"
Pak Rakha menghela nafas panjang
"Iya, Maria sendiri yang menyuruh Papa menikah lagi karena Dia sadar diri dengan tubuhnya yang berpenyakitan."
Ega mengangguk mengerti,
"Tapi Papa bilang Mama baru mwninggal tiga tahun lalu?"
__ADS_1
Pak Rakha menatap Ega dalam.
"Papa berbohong karena terpaksa Nak, Papa ingin Kamu tidak mengetahui yang sebenarnya. Namun Papa juga tidak bisa terus menerus menutupi kebohongan ini. Kasian Mamamu Papa tidak rela wanita itu bahagia!"
Ega kembali mengangguk.
"Apa sebelumnya Papa tahu Rain itu siapa?"
Pak Rakha menggeleng
"Tapi, Papa pernah melihat Zein di sebuah restoran. Jadilah Papa teringat dengan masa lalu itu dan menceritakannya padamu. Balaskan dendam Mama dan Papa mu nak!"
Pak Rakha merangkul bahu Ega. Ega sekarang yakin jika dendamnya harus terbalas.
"Baiklah, Pa. Besok Aku akan menikah dengannya. Papa hadir?"
Pak Rakha menggeleng
"Papa harus mengurus Ibu tirimu itu. Berani-beraninya Dia berselingkuh dengan pemuda seusiamu. Lihatlah sekarang Dia kabur. Dia harus mati!"
Ega bergidig melihat seringai Pak Rakha. Merasa sudah tidak adalagi yang harus dibicarakan Ega pun segera pulang dengan perasaan hancur lebur.
__ADS_1
***
Sementara itu di kamarnya Rain merasa gelisah yang tak berkesudahan. Dia berniat menelpon Ega, namun diurungkan demi teringat kata-kata Ega saat sore tadi sebelum pulang
Tahan kangennya sampai besok. Jangan telpon atau kirim pesan. Biar kangennga besok kita pecahkan sama-sama di kamarmu
Rain tersenyum simpul mengingat senyuman manis Ega saat mengucapkan kalimat itu.
Akhirnya Rainpun benar-benar terlelap pukul 23:00 setelah menggulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri berkali-kali.
Ega sendiri masih enggan memejamkan mata. Ega mematikkan poselnya dan mematahkan SIM cardnya. Disimpannya ponsel itu di laci meja belajarnya. Rasanya sudah tidak sudi menggunakan ponsel yang penub dengan foto Rain.
Pak Rakha sendiri mulai mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Mawar.
'Jangan main-main denganku Mawar. Bahagia sekali hidupku sebentar lagi Kau mati di tanganku Mawar. Dan, Zein bermain-mainlah dulu sebelum Aku juga melemparmu ke dalam neraka karena telah berani mempermainkan hidupku.'
Ibu sendiri merasa sangat bimbang. Ibu gelisah di satu sisi takut jika pernikahan Rain tidak akan berhasil.
'Kenapa kita harus kembali bertemu setelah jauh-jauh Aku pergi dan menutup diri? Kali ini Aku tidak akan mengalah jika menyangkut kebahagiaan Anakku!'
Malam itu Rain, Ibu, Ega dan Pak Rakha benar-benar tenggelam dalam rasa yang sulit dimengerti. Ibu dengan segala kegundahan hatinya dan merasa takut jika Pak Rakha akan berbuat jahat pada pernikahan putrinya. Rain sendiri terus merasakan gelisah dan resah. Ega dan Pak Rakha dengan segala dendam dan amarahnya.
__ADS_1
Ragga Hadiwijaya, dalam sekejap mengubur dalam impian dan cintanya terhadap Rain Khadija. Bahkan menyesal pernah mencinta terlalu dalam. Mencintau Rain adalah sebuah kesalah. Maka membenci adalah penawarnya.