
Sesuai janjinya dengan Ibu, sore itu dengan menggunakan taksi online Rain pergi ke rumah Ibu. Rain sudah memikirkan banyak jawaban jika nanti Ibu bertanya mengapa tidak diantar Ega.
Rain tiba di pekarangan rumah dengan jantung berdebar. Di teras itulah biasanya Rain menunggu Ega menjemputnya untuk ke sekolah. Rain tersenyum kembali mengingat tingkah konyolnya yang selalu menutupu kaki dengan kain saat naik mobil Ega. Rain berdiri sejenak di teras, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Rain ingat sekali saat itu Ega hendak pulang dan Rain mengantarnya sampai naik mobil. Ega yang sudah duduk di balik kemudi membuka jendela kacanya dan memanggil kembali Rain yang akan masuk, Rain seketika langsung kembali berdiri tepat di wajah Ega yang sedang duduk di balik kemudi
'Apa sih manggil-manggil udah mau pulang juga!" Seru Rain saat itu dengan pura-pura memasang wajah kesal.
'Nanti kalau udah nikah, ini rambut harus ditutup ya. Kalau perlu ini muka juga tutup' Jawab Ega mengelus rambut Rain lalu mengusap sekilas wajah Rain. Saat itu Rain tidak menjawab hanya tersenyum tipis lalu kembali ke dalam dan menutup pintu.
Kejadian-kejadian manis selalu Rain ingat ulang agar bisa jadi penawar luka saat Ega berusaha menyakitinya. Suara Ibu membuka pintu membuyarkan lamunan Rain
"Eeh pengantin baru, sendiri aja nih?" Sapa Ibu yang langsung dibalas Rain dengan pelukkan.
"Mas nya kasihan Bu, banyak kerjaan. Jadi Rain sendiri aja" Jawab Rain dengan senyum manis.
"Bener nih? biasanya juga Mas mu itu nggak mau jauh-jauh dari Kamu!" Tanya Ibu mencubit pipi Rain gemas.
__ADS_1
"Bener Bu, kan sekarang udah nikah. Harus kerja lah, Rain mau dikasih makan apa kalau Mas kerjaannya cuma buntutin Rain?" Jawab Rain berlalu ke dalam rumah dan langsung diikuti Ibu.
Di meja ruang tamu sudah berjajar beberapa potong gamis cantik dan hijab pashmina serta segi empat. Rain membelalakkan matanya melihat pakaian itu.
"Ibu mau jualan atau apa?" Tanya Rain seraya menyentuh satu persatu pakaian itu.
"Itu buat Rain. Katanya mau hijaban. Ibu udah siapin ini dari enam bulan lalu. Gemes aja Ibu liat gamis cantik-cantik banget gini" Ibu mengambil salah satu gamis berwarna mocca lalu mencocokkan pada tubuh Rain.
"Bagus nih, nanti tambah cantik. Biar nggak dikomen terus sama Mas mu. Bukannya dia nggak suka kalau Kamu pake baju minim dan memperlihatkan lehermu" Ibu kembali melipat gamis itu lalu mengambil salah satu pashmina berwarna broken white dan langsung memasangkannya di kepala Rain.
******
Sementara di rumah Ega masih di kamarnya mengerjakan seauatu di laptopnya. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada kejadian semalam saat Rain mencium hidungnya. Sebenarnya Ega semalam tidak benar-benar tidur. Ega mengusap wajahnya kasar. Sejujurnya Dia tidak bisa menghilangkan sepenuhnya kenangan tentang Rain di pikirannya. Tapi, emosi dan dendam mengalahkan akal sehat dan logika. Katakanlah saat ini kondisinya Ega sedang merasakan Cinta dan benci secara bersamaan.
Ega menghentikan aktifitasnya. Menutup laptopnya, menaruhnya di meja lalu berjalan ke luar kamar karena merasa lapar. Ega ingin meminta tolong Bibi memesan makanan. Namun, di meja makan Bibi terlihat sedang menata masakkan
__ADS_1
"Masak nih? siapa yang masak?" Tanya Ega menyelidik Bibi.
"Bibi dong, kan belajar" jawab Bibi dengan sombongnya.
"Ya udah ayo dong makan, Aku udah laper banget nih". Mereka berdua pun makan dengan Ega yang terlihat sangat menikmati suapan demi suapan masakan yang terasa lezat itu.
Padahal itu adalah masakkan Rain yang sore tadi dimasak sebelum berangkat ke rumah Ibu. Ega tidak curiga karena percaya saja dengan kata-kata Bibi. Sampai semua masakkan itu habis tak tersisa meninggalkang piring kosong.
"Ini enak banget sih, Bi. Harusnya dari dulu belajar masak" Kata Ega saat sudah merasa sangat kenyang.
"Koq dihabiskan sih, A. Kasian nanti neng Rain makan apa?" Bibi menatap piring-piring kosong dengan perasaan hampa.
"peduli apa Aku sama Dia, biar aja cari makanan di luar" Jawab Ega merasa kesal Bibi menyebut-nyebut nama itu.
"Tega Aa mah!" Bibi mendengus kesal seraya beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Ega hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tetap duduk karena merasakan perutnya yang sangat penuh dan berat sampai-sampai sesekali dia mengelus perutnya seperti Ibu hamil saja.