Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Aku Suka Hujan


__ADS_3

Siang itu hujan lebat sekali. Ah, perkiraanku benar batin Rain. Rain dan Ega sedang duduk di ruang tamu. Bibi sepertinya sedang di kamarnya. Rain mengumpulkan keberanian untuk mengatakan keinginannya pada Ega.


Ekhem, Rain sengaja berdehem. Ega yang memang sedang memainkan ponselnya segera menoleh ke arah Rain yang duduk bersebrangan dengannya.


Sebenarnya Ega kesal sekali dengan Rain, tidak inginkah Rain duduk di sampingnya saja. Rasanya Ega perlu menghancurkan meja besar dan sofa lainnya di ruang tamu dan biarkan saja hanya satu sofa panjang agar tak ada lagi jarak saat mereka duduk.


"Apa?" Tanya Ega tatapannya masih menyiratkan kekesalan. Rain mengerti betul hal itu, lihat saja matanya mengandung belati saat menatap Rain.


"Ayo ujan-ujanan!" Seru Rain menggedigan bahunya.


"Kaya anak kecil aja, nanti sakit. Jangan macem-macem!" Ega menjawab ketus.


Rain mencium kekesalan yang masih amat dalam di diri Ega. Ok, Rain bisa merayunya. Rain duduk pinggiran sofa sehingga posisinya jadi lebih tinggi dari Ega. Rain dengan sengaja merangkul pundak Ega. Ega masih diam, Ega tahu ini akal bulus Rain.


"Sayang, ayo lah main ujan-ujanan. Aku cuma minta ujan-ujanan bukan belanja." Kata Rain setengah membisik. Ega tak menjawab, sengaja.


"Egaaa." Rain merengek memeluk kepala Ega. Ega mulai melunak. Tapi, belum kalah. Sadar Rayuannya tak mempan, Rain berjongkok di hadapan Ega, tak habis akal. Rain mendongakan kepalanya mencari tatapan Ega. Rain memasang wajah sangat manis dengan senyum tipis dan bertemulah pandangan itu. Ok, Ega kalah. Ega tertawa mengacak rambut Rain.

__ADS_1


"Ya udah ayo. Tapi sebentar dan nggak boleh sakit." ucapnya.


"Ujan deras nggak bikin sakit." Rain segera berlari ke luar bertelanjang kaki.


Bahagia. Itu yang dia rasakan saat kakinya menginjak air hujan. Rain berlaru ke halaman belakang diikuti Ega. Di halaman belakang terdapat taman yang tidak terlalu luas namun sangat indah dengan rumput yang hijau seperti hamparan karpet.


Derasnya hujan membuat tubuh mereka segera basah kuyup. Rain berloncat ria penuh kegembiraan sementara Ega hanya berdiri tanpa ekspresi. Rain terus melompat tertawa bahagia. Ega berkacak pinggang sambil menggeleng melihat tingkah Rain.


Rain menghentikan loncatannya. Dia merentangkan tangan,memejamkan mata dan mengangkat wajahnya menantang hujan. Rain memainkan tangannya yang menangkap air hujan. Sudah 20 menit, Ega rasa sudah cukup.


"Rain, udah ya. Ini terlalu lama. Tadi janjinya cuma sebentar." Ega sedikit berteriak karena suaranya terhalang air hujan.


15 menit Ega kembali turun mendapati Rain dan Bibi sedang di dapur memasak sesuatu.


"Hebat ya, kayanya niat banget buat ujan-ujanan sampe bawa ganti segala." Seru Ega demi melihat ternyata Rain sudah berganti pakaian.


Rain memakai jeans gombrong kesayangannya dan kaos putih lengan pendeknya. Dia lupa, bukankah Ega sudah melarangnya memakai kaos itu lagi tempo hari?

__ADS_1


Rain tersenyum saja tanpa menoleh menyelesaikan acara masaknya.


"Neng Rain sama saja dengan A Ega, penuh perhitungan. Karena tahu mau ujan-ujanan jadi bawa ganti." Kata Bibi yang sedang membuat teh hangat tawar permintaan Rain.


Rain masih tak menjawab Dia segera menyelesaikan membuat pancakenya. Rain segera menata pancake nya. Dia meletakan susunan pancake di tiga piring kecil. Lalu menyiramnya dengan madu dan gula halus. Sangat cantik.


"Ayo makan!" Katanya membawa piring-piring itu dengan nampan ke meja makan.


Mereka bertiga makan tanpa bicara, menikmati pancake yang rasanya sangat pas. Tidak terlalu manis namun lembut.


"Pancake kalo pake bumbu cinta rasanya beda ya, bikin merem melek apalagi yang bikinnya kabogoh nu panggeulisna." Ucap Bibi cekikikan menyindir Ega dan segera berlari karena makannya sudah selesai. Ega tertawa jengah dan Rain hanya menggeleng-geleng tersenyum.


"Kenapa suka hujan-hujanan?" Ega bertanya saat Rain menyuapkan pancake terakhirnya.


"Aku dilahirkan bulan Desember, bulan yang penuh hujan. Makanya Ibu memberiku nama Rain. Aku suka hujan, Aku suka bulan Desember, Aku suka namaku, Aku suka Ibuku dan Aku suka Kamu." Jawab Rain membuat Ega rasanya melayang.


"Aah percuma pinter ngerayu kalo dicium aja nggak mau." Seloroh Ega membuat Rain menimpuknya dengan tisu bekas dan seraya ke dapur membawa piring kotornya. Ega tertawa, tentu saja Dia becanda. Siapa yang berani mencium Rain? Bisa dimutilasi Ega oleh Ibu Rain.

__ADS_1


'I Love You, Rain. More and forever' lirih Ega seraya bangkit membawa piring kotor, tentu saja ke dapur.


__ADS_2