Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Hanya Aku


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu macet dan penuh drama karena berkali-kali Pak Riko Terus-terusan menggoda Ega dengan mengatakan Rain cantik. Akhirnya mereka tiba di Taman bunga itu tepat saat adzan dhuhur berkumandang. Hawa dingin langsung terasa menusuk tulang saat keempat orang itu turun dari mobil dan mulai disuguhkan dengan pemandangan bunga warna-warni yang menyejukkan mata.


Rain membentangkan tangannya menghirup udara segar yang sudah lama Dia impikan.


"Pak Riko, perkebunan teh Papa Rakha masih ada nggak? Rain pengen deh ke sana, Rain pengen merasakan udara sejuknya".


Pak Riko, Ibu dan Ega saling memandang. Bagaimana bisa Rain ingin mendatangi tempat yang menyisakan kenangan buruk bagi Ibu dan suaminya itu.


"Ada dong, Rain. Sekarang diurus sama warga sekitar. Saya hanya menerima keuangannya saja". Jawab Pak Riko sedikit tidak enak hati.


"Aku mau ke Bandung boleh kan, Mas? Aku juga mau ke makam Papa, Mama, sama emmhh Ayah". Rain sedikit bergumam di akhir kalimatnya. Membuat Ibu dan Ega kembali berpandangan.


"Lebih baik kita sholat aja dulu, ya. Di sini pasti ada mushola kan? Ayo". Ega Langsung berjalan ke arah seorang petugas keamanan dan menanyakan keberadaan mushola. Setelah ditunjukkan letaknya Ega melambaikan tangannya pada Ibu, Rain dan Pak Riko agar mengikuti langkahnua.


Dengan sedikit kecewa karena ucapannya tidak dihiraukan oleh Ega Rain melangkah gontai menuju mushola mengikuti suaminya yang sudah melangkah lebih dulu.


Selesai sholat, Ibu, Rain dan Pak Riko duduk di teras mushola menunggu Ega yang belum selesai. Setelah banyak kejadian yang Dia lewati, Ega sekarang selalu lebih berlama-lama saat berdzikir dan berdo'anya. Dia sadar kedua orangtuanya sudah tiada dan sebagai anak Ega hanya bisa berbakti kepada mereka lewat doa nya setiap selesai shalat.


"Mas Ega sekarang lebih kelihatan agamis ya, Rain. Andai dulu mondoknya diteruskan, Dia pasti sudah diincar oleh para kiayi untuk menjadikannga menantu". Ujar Pak Riko yang dijawab tatapan sinis oleh Rain dan Ibu.


"Pantesan menantu Gue kesel banget sama Loe, Loe kalau ngomong nggak pake filter Ko". Ibu meninju bahu Pak Riko yang duduk agak jauh darinya. Sedangkan Rain, hanya menunduk sendu seraya memainkan ujung hijabnya.


Saat suasana sedang kaku begitu, Ega datang dengan rambutnya yang masih basah bekas air wudhu. Melihat raut wajah kesal Ibu dan Rain yang menunduk membuat Ega merasa heran dan langsung menatap tajam ke arah Pak Riko yang dibalas Pak Riko dengan mengucap "Tidak tahu" tanpa suara.


"Yang, kenapa? Ayo keliling lihat bunga. Masa jauh-jauh ke sini cuma mau maenin kerudung doang". Ega berusaha meraih tangan istrinya itu.


Rain mendongakan kepalanya dan menatap suaminya yang berdiri di hadapannya. Lalu beralih memandang Ibu


"Bu, Rain boleh kan jalan-jalan berdua aja dulu sama Mas, Ibu nggak apa-apa kan sama bapak-bapak jomblo dulu sebentar?". Rain bicara dengan nada lirih namun membuat Ibu dan Ega tertawa mengejek memandang ke arah Pak Riko.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Pergilah, nanti Ibu carikan jodoh Bapak-bapak jomblonya biar ada yang kasih perhatian jadi mulutnya nggak asal terus kalau ngomong". Jawab Ibu dan cukup membuat Rain terhibur dan tertawa. Rain meraih tangan suaminya dan menggenggamnya lalu berdiri dan beranjak dari sana.


"Kenapa ngga sama Loe aja sih Zein, kan kita sama-sama jomblo". Ucap Pak Riko yang sedari tadi terdiam.


"Apa kata dunia? dua mantan Gue ganteng-ganteng dan ujung-ujungnya berakhir sama Loe? Gue nggak mau diketawain arwah mantan Gue, Ko" Ibu tertawa puas sambil beranjak dan diikuti oleh Pak Riko yang mendengus kesal.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rain sebentarpun tidak melepaskan genggamannya pada Ega. Bibirnya terus bergumam Masyaallah dan ya Allah saat menikmati setiap keindahan macam-macam bunga yang dilihatnya.


"Harusnya Kamu jangan dateng kesini". Ujar Ega


"Kenapa?" tanya Rain.


"Kasihan bunganya, jadi minder karena ada yang lebih indah dan cantik. Rain Khadija". Jawab Ega seraya mencium punggung tangan istrinya itu.


"Yugo masih suka kasih Kamu bunga?". Tanga Ega, tiba-tiba teringat dengan murid Rain itu.


"Udah engga Mas, dia mutusin Aku gara-gara tempo hari Mas datang ke sekolah itu. Bahkan Aku harus bujuk Dia supaya mau bicara sama Aku". Rain tertawa kecil mengingat kelakuan Yugo.


"terus sekarang gimana?"


"Udah biasa aja sih, cuma mulai ngedeketin lagi. Suka maksa nyuruh Aku makan bekelnya". Rain berhenti di tengah-tengah hamparan bunga aster kuning yang menggoda matanya. Rain berjongkok di depan hamparan bunga itu membuat Ega harus sedikit membungkuk.


"Kita foto-foto ala prewedd yu, Mas. Mumpung warna baju kita match dan viewnya bagus nih di kelilingi bunga". Ujar Rain dengan mata berbinar.


Ega hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada Pak Riko dan Ibu agar mendekat.


"Kenapa Mas?". Tanya Riko yang tangannya membawa kamera.

__ADS_1


"Tolong fotoin Aku sama Rain, ya. Poto ala-ala prewedd". Ujar Ega.


"Giliran ada butuhnya aja Saya dipanggil, tadi nggak diajak". Jawab Pak Riko seraya memotrer hamparan bunga aster itu.


"Nggak usah banyak omong, Ko. Itung-itung nyenengin hati anak Gue yang tadi Loe bikin kesel". Ibu mencibir dengan melirik tajam Pak Riko


"Iyaa, silahkan ambil gaya ya tuan dan nona muda. Dayang Riko siap memotret". Ujar Pak Riko yang disambut tawa gelak mereka bertiga.


Usai berfoto-foto dengan berbagai gaya dan latar Rain dan Ega kembali memisahkan diri di teras masjid selesai sholat ashar.


"Mas Kamu nggak inget ini hari apa dan tanggal berapa?


"Ooh iya, Aku harus bayar pajak mobil ya. Untung Kamu ingetin". Ega menepuk jidatnya. Rain malah menggeleng kesal.


"Tadi emang Pak Riko bicara apa sampe bikin kamu kesel"? Ega mengalihkan perhatian Rain seraya mengusap rambutnya yang basah dan membuat beberapa ukhti yang hendak keluar dari area meajid melirik Ega sambil berbisik satu sama lain.


"Pak Riko bilang kalau Kamu nerusin mondok nanti dipinang jadi mantu kiayi katanya". Rain memajukkan bibirnya, hatinya kesal. Pertama, tidak ada yang ingat dirinya berulang tahun. Kedua, atas ucapan Pak Riko dan ketiga kejadian barusan saat ukhti-ukhti itu melirik suka ke arah suaminya.


"Masih mau lanjut atau pulang?" Ega mengangkat dagu istrinya itu agar wajahnya bisa Dia lihat. Bening-bening kristal sudah menggenang di ujung mata bulat dengan bulu yang tidak terlalu panjang. Wajahnya merah dengan hidungnya yang mungil itu sedikit berair. Tanpa merasa jijik Ega mengusap cairan dari hidung Rain.


"Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang hanya membuatmu terluka. Aku suamimu, kekasihmu"


Rain mengangguk tanpa berkedip karena takut tangisan itu jatuh, padahal matanya sudah sangat perih.


"Kita pulang aja, Ya. Besok ada sesuatu yang harus Aku urus. Aku nggak mau terlalu malam sampai rumah".


Rain sekali lagi hanya mengangguk dan beranjak mengikuti langkah Ega.


Ya, Kamu suamiku, kekasihku. Seberapa banyak wanita yang melirikmu, Aku tak kan biarkan sedikitpun celah di hatimu membuat mereka masuk ke dalamnya. Aku dengan segala kekuranganku yang akan terus memenuhi seluruh rongga hatimu. Hanya Aku. Batin Ran bergelayut manja di lengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2