
Sebelum berpindah episode jangan lupa LIKE, KOMEN, DAN VOTE yaa. Makasih.
🍂🍂🍂
Di atas gundukan tanah merah itu keluarga Sela dan Rehan masih enggan untuk beranjak. Disana juga ada Rain dan Ibunya.
"Mbak, sebaiknya Mbak sekeluarga pulang. Di rumah Kita bisa lebih khusu berdoa. Kasian almarhumah jika terus-terusan melihat keluarganya menangis seperti ini" Ibu mendekat ke arah Mama Sela yang menangis memeluk batu nisan.
"Apa yang harus saya lakukan agar Sela bahagia?" Sambil terus terisak Mama sela menciumi batu nisan.
"Kalian pulanglah, lebih baik kalian mengaji agar mendatangkan kebaikan pada Almarhumah. Dan satu lagi, jangan pernah sebut lagi namanya. Kasihan nanti akan menambah sakit almarhum di alam sana". Mama Sela memandang tajam ke arah Ibu, protes.
"Mbak bisa diskusikan masalah ini dengan ustad atau kiayi, Saya hanya sebatas tahu". Ibu mengerti dengan sorot mata marah Mama Sela yang tersinggung dengan ucapannya.
"Permisi Tan, Rain sama Ibu pamit pulang ya. Kasihan suami Rain sesang sakit". Rain segera meraih bahu Ibu agar berdiri.
"Semuanya, Rain dan Ibu pamit ya. Assallamuallaikum".
Tidak ada yang menjawab salam Rain, semua yang ada di situ memandang penuh kesal kepergian Rain dan Ibunya.
"Dia tidak mengerti kesedihanku" Gumam Mama Sela dan menangis lagi.
🍃🍃🍃
Rain tiba di rumah saat adzan dhuhur berkumandang. Saat masuk ke kamar dia disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Suaminya sedang melaksanakan shalat, baru saja takbiratul ihram. Hati Rain bergetar manakala Ega melantunkan bacaan shalatnya dengan begitu fasih. Rain terus mematung memandangi gerakan-gerakan shalat suaminya itu. Sampai tidak menyadari jika suaminya sudah selesai dengan shalat sunnah nya.
"Eh ada bidadari, jadi malu dilihatin". Ujar Ega saat melihat Rain berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh cinta. Rain segera mendekat padanya hendak memeluk namun dengan sigap Ega menghindar.
__ADS_1
"Maaf sayang, Aku nanti batal. Barusan cuma shalat sunnah. Lebih baik Kamu wudhu Kita shalat berjamaah". Ega mengedipkan matanya pada Rain. Senyum Rain mengembang dan langsung beranjak meninggalkan kamarnya.
Selesai shalat dan makan siang keduanya memutuskan duduk di teras menikmati gerimis yang mulai turun.
"Mas, badannya masih pada sakit nggak?" Rain meneliti lebam di wajah suaminya yang mulai menghilang.
"Alhamdullillah berkurang, Aku juga udah buka perban di kepala"
Rain melihat memang sudah tidak ada lagi perban itu.
"Aku sampai nggak sadar lho kalau udah dibuka"
"Kamu terlalu fokus sama ketampanan Aku". Ega mencubit pipi Rain, gemas.
"Iya, Aku terlalu memuja ketampanan Kamu Mas. Rasanya mata ini diciptakana cuma untuk memandang Kamu" Rain dengan senyum berbinar memandang wajah suaminya itu tanpa menemukan cela sedikitpun.
"Jangan kaya gitu lah Yang, Allah nanti cemburu. Jangan mencintai siapapun melebihi cintamu pada Sang pemilik kehidupan" Ega mengusap sekilas wajah Rain.
Rain seperti tersadarkan oleh perkataan suaminya.
"Kamu pinter banget sekarang Mas. Tahu banyak soal agama"
"Aku dulu sempat pesantren lho, cuma tiga tahun sih saat SMP. Jadi kalau soal baca niat mandi junub lengkap dengan tata caranya setelah melakukan itu, Aku sudah hafal" Ega memelankan suara di akhir kalimatnya.
"Maas, geli Aku dengernya. Tapi serius Kamu pernah pesantren? pantesan bacaan ngaji dan shalat Kamu fasih ya. Wudhu kamu juga nggak asal-asalan" Rain menyandarkan kepalanya di bahu Ega, bahu itu menjadi tempat favoritnya sekarang.
"Besok anter ke rumah sakit ya, Aku pengen cepet sehat Yang. Aku nggak sabar menikmati malam panjang sama Kamu" Ega lagi-lagi menggoda Rain.
__ADS_1
"Mas, koq cuma itu sih di otaknya". Rain mencubit pinggang suaminya itu pelan.
"Eeh jangan cubit di situ, Aku nanti nggak bisa nahan". Ega terus saja menggoda istrinya yang mukanya sudah merah padam.
Rain menarik kepalanya dari bahu Ega dan menggeser posisi duduknya sedikit menjauh.
"Iih gitu aja marah, sengaja bikin Aku tergoda ya bibirnya dimajuin gitu" Ega tertawa seraya menyentuh bibir Rain yang cemberut.
Rain kesal, dia beranjak meninggalkan Ega ke dalam rumah membawa mukanya yang sudah merah persis buah tomat.
"Eeh itu kenapa mukanya merah amat" Teriak Ibu saat keluar menghampiri Ega dan melihat Rain masuk dengan wajah kesal dan merahnya.
"Aku godain Bu, Dia kesal deh". Jawab Ega.
"Ibu juga dulu suka gitu kalau digoda Papa Kamu" Ibu tersenyum getir.
"Ibu sama Papa saling mencintai ya?"
"Siapa yang bisa menolak pesona Papa Kamu, dia tampan dan menyenangkan. Wajahnya selalu teduh saat dipandang". Ibu mengenang masa-masa indahnya bersama mantan kekasihnya itu.
"Harusnya dulu Ibu menikah sama Papa"
"Kalau Ibu menikah sama Papa Kamu. Nggak akan ada Rain dan Ragga sekarang. Kisah cinta kalian nggak akan pernah ada". Ibu mengelus pipi menantunya penuh sayang, seperti melihat pantulan Rakha.
"Maaf ya Bu, Ega udah nyakitin Rain. Mulai sekarang dan seterusnya Ega hanya akan membuatnya tersenyum. Kalaupun harus menangis, Ega pastikan itu adalah tangisan bahagia". Ega meraih tangan Ibu mertuanya dan menciumnya penuh hormat.
"Ibu juga mau berterimakasih, selama ini Kamu tetap menjaga kehormatan Rain. Apa yang terjadi sama Sela membuat Ibu merasa beruntung karena Rain jatuh cinta pada orang yang tepat" Ibu segera memeluk Ega penuh sayang. Ibu sekarang lebih bisa menerima Ega setelah tahu ada darah Rosa dan Rakha di sana. Orang-orang yang sangat berarti di masa lalu.
__ADS_1
"Bagi Ibu Kamu udah seperti anak sendiri, Ibu akan menyayangi kamu seperti Ibu sayang pada Rain" Ibu mengurai pelukkannya dan berlalu meninggalkan Ega karena Ibu sudah merasa tidak kuasa menahan tangisannya.
Itulah Ibu. Yang ditampakkan hanyalah senyumannya. Jika ingin menangis, maka Dia akan melakukannya sendiri dan tidak ingin dilihat siapapun