Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Yugo dan Arkan


__ADS_3

Karena terus saja mendapat telpon dari karyawannya, Ibu akhirnya pamit pulang padahal Rain masih sangat rindu padanya. Rain memandang kepergian Ibu dengan wajah murung. Bibi yang melihatnya hanya bisa mengusap-usap punggung Rain lembut.


"Sabar, ya". Ucap Bibi seraya tersenyum dan diangguki oleh Rain.


Tok


Tok


Tok


Pintu diketuk namun tidak ada yang masuk. Bibi dan Rain saling berpandangan. Rain bergegas membuka pintu dan sedikit kaget dengan sosok yang berdiri di hadapannya. Perempuan yang dibilang Ega adalah pacarnya. Perempuan yang kemarin Ega bawa ke rumah dan membuat emosi Bibi tak terbendung lagi.


"Maaf, Mbak. Izinkan Saya masuk menemui Bibi". Rain tidak menjawab, pandangannya justru teralih pada anak usia tiga tahun yang digandeng oleh perempuan itu. Perempuan itu berjalan beriringan dengan anaknya mendekati bed Bibi. Bibi menatap tidak suka.


Ekhem, perempuan itu berdehem.


"Saya tahu, kalian pasti tidak menyukai Saya. Kemarin Saya hanya pura-pura saja saat di rumah Pak Ragga. Saya salah satu karyawan di kantor Pak Ragga. Maaf ya, Mbak Rain. Sebagai bawahan Saya hanya menuruti perintah Pak Ragga. Ini anak Saya" Ucap perempuan itu seraya melirik anaknya yang sedang sibuk memainkan mobil-mobilan kecil di tangannya.


Bibi mengangguk-angguk mendengar penjelasan perempuan itu. Dari arah pintu masuklah Ega dengan wajah datarnya. Langkahnya menuju bed Bibi tanpa menoleh siapapun dan berdiri tepat di samping Rain.


"Gimana, Bi? percaya kan?" Ega menatap Bibi dengan wajah masih datar.


Bibi tersenyum mengangguk sambil melirik pada Rain yang matanya terus tertuju pada anak kecil itu seraya memegangi perutnya.


"Neng Rain kenapa perutnya?" Tanya Bibi yang terus melihat Rain masih memegangi perutnya.

__ADS_1


"Enggak, Bi. Hanya nyeri datang bulan saja". Jawab Rain melengkungkan senyum melihat anak kecil itu yang terlihat lucu karena komat-kamit sendiri.


"Dikompres pakai air hangat Mbak, Saya tahu rasanya kan sakit sekali Mbak". Kata perempuan itu. Rain yang sekarang sudah mengerti dengan keadaannya tersenyum mengangguk dan berkata


"Iya, Mbak. Tapi nanti juga reda. Karena baru semalam saya datang bulannya". Rain berjalan mendekati anak kecil itu, lalu mensejajarkan diri dengannya.


"Hai ganteng. Boleh kenalan nggak? Aku punya kue lho kalau kamu mau kenalan". Kata Rain tersenyum ramah. Anak kecil itu balas tersenyum dan menusuk lesung pipi Rain.


"Iih koq Kamu jahil sih, Jawab dulu dong!" Seru Rain mengacak rambut anak itu.


"Sayang, Ayo jawab pertanyaan Kakak" Kata perempuan itu pada anaknya.


"Namaku Arkhan, Kakak cantik siapa namanya?" Arkan dengan senyum menggemaskan membuat Rain tidak tahan dan langsung menggendong tubuh Arkan.


"Boleh kan Mbak anaknya Aku gendong?" Rain menoleh pada perempuan itu.


"Oke, Mbak namanya siapa?" Tanya Rain mengulurkan tangan


"Mika, Mbak" Mereka berjabat tangan dan melepaskannya kembali.


"Bi, Aku duduk di sofa ya. Aku mau ngobrol nih sama anak ganteng. Ayo, Mbak duduk di sofa". Rain mengajak Mika dan langsung diangguki olehnya.


Bibi menatap bahagia ke arah Rain. Ega merasakan hatinya dialiri sesuatu yang hangat dan menenangkan.


"A, itukah perempuan yang amat Aa benci?" Bibi berbisik pada Ega.

__ADS_1


"Bi, Aku udah janji buat cari tahu dulu kejadian sebenarnya". Jawab Ega dengan menoleh ke arah Rain yang sedang menyuapi Arkhan kue.


"Cepatlah A, kasihan Neng Rain. Dia bahkan harus bekerja karena Aa tidak pernah menafkahinya. Dosa!" Kata Bibi dengan penuh penekanan.


Ega tidak menjawab, hatinya kembali kesal melihat bunga mawar yang tergeletak di atas meja di samping bed Bibi.


Mika dengan berat hati akhirnya pamit karena jam istirahatnya sudah selesai jadi harus kembali ke kantor. Mika berjalan menggendong Arkan dan diikuti oleh Rain di belakangnya.


"Pak, Bi Saya pamit ya. Saya harus balik ke kantor" Kata Mika menoleh ke arah Bibi dan Ega bergantian.


"Kamu bawa anak ke kantor?" Tanya Ega dengan tatapan tajam.


"Tidak, Pak. Anak saya nanti saya titipkan ke Ibu saya. Rumah Ibu saya dekat dengan kantor".


"Mbak Mika, nanti ajak lagi Arkan menemui saya ya. Saya masih pengen main padahal" Kata Rain mencubit gemas pipi Arkan.


"Iya, Mbak. Nanti kalau ada waktu". Jawab Mika seraya menurunkan badan Arkan yang terus meminta gendongannya dilepaskan.


"Saya anggap itu janji, ya!" Seru Rain seraya tertawa.


"Anak ganteng nggak mau cium kakak dulu nih?" Rain menunjuk pipinya pada Arkan. Arkan tentu saja mencium pipi Rain, bukan hanya sebelah namun dua-duanya bahkan juga kening Rain.


"Waah senangnya dicium anak ganteng" Rain berseru seraya memegangi pipinya. Lalu meraih Arkan ke dalam pelukkannya dan menciumi wajah Arkan dan melepaskan kembali pelukkan itu.


Mika dan Arkan lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Perasaan Rain kembali hampa walau sebenarnya sedikit lega juga karena ternyata Mika itu bukan pacar Ega.

__ADS_1


Rencana Tuhan memang selalu indah. Baru saja kemarin Rain merasakan sedih yang tiada tara. Ega membawa perempuan lain ke rumah dan Bibi masuk rumah sakit. Tapi hari ini Rain diberi kejutan manis oleh kelakuan Yugo dan Arkan yang menggemaskan. Sampai hilang saja rasanya kesedihannya selama ini. Banyak yang bisa membuat Kita bahagia jika saja kita selalu pandai bersyukur.


Rain melirik bunga mawarnya, dan tersenyum.


__ADS_2