
Rain tidak bisa didebat, itu kenyataannya.
"Aku pusing, Bu. Rain terlihat lugu saat pertama bertemu. Dia polos. Tapi sulit sekali mematahkan argumennya sekarang ini". Ucap Ega seraya meremas rambutnya. Siang itu, sebulan setelah kepulangan dari Bandung Ega sengaja menemui Ibu di resroran. Dia butuh waktu bicara dengan Ibunya.
"Dia memang seperti itu. Kamu ingat kebohongannya saat membayar belanjaan bulanan itu? Dia tidak mau menerima saat Ibu ganti uangnya".
Ega hanya menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya kasar, lalu menjatuhkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Menyesal sudah menjadikan Dia istrimu? kalian masih sama-sama muda, Ibu hanya takut Kamu bosan". Ibu menyentuh bahu menantunya, berusaha memberi ketenangan.
"Tidak ada yang ku sesali selain pernah menyakitinya. Aku hanya takut membuatnya bersedih. Aku sudah urus kepindahan Kita, Aku harap Ibu juga siap". Kini giloran Ega yang menyentuh bahu Ibu. Kembali duduk tegak.
"Ibu akan ikut, Rain sedang hamil. Ibu baru tahu kalau selama ini Dia kesepian. Ibu akan tebus dosa Ibu". Ibu menepuk punggung tangan Ega seraya beranjak, namun sebelum benar-benar pergi Ega kembali bicara
"Minggu depan Kita berangkat ya, Bu. Aku pamit". Ibu hanya mengangguk tanpa menolah, bahunya bergetar. Entah menahan tangis atau malah sudah tumpah tangisnya.
🍂🍂🍂
Rain sedang duduk di balkon kamarnya dengan kaki dinaikkan ke atas kursi kayu itu. Mual sedari pagi membuat Rain sampai siang ini belum mampu memasukkan apapun lagi ke mulutnya. Apel yang sengaja Ega kupaskan lalu dipotong dadu warnanya sudah menghitam. Tak sepotongpun Ia sentuh.
Senyum di bibirnya mengembang saar gerbang tinggi itu dibuka oleh seorang lelaki tampan yang membuatnya selalu jatuh cinta.
Bisaku cuma dua, mencintaimu dan mendebatmu.
Rain melambaikan tangannya saat Ega mendongakan kepalanya ke atas balkon setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Ega tersenyum lalu berlari memasuki rumah.
"Kita hitung ya, De. Sampai hitungan berapa Baba sampai di sini". Rain memejamkan matanya seraya mengusap perut yang mulai sedikit membuncit.
Ega bertemu Bibi yang sedang duduk di ruang makan.
"Assallamuallaikum, Bi".
"Waalaikumsallaam, Aa".
"Rain udah makan? Dia belum minum susunya ya?". Ega menghampiri Bibi dan memeluk bahu Bibi sebentar.
"Dari pas Aa tinggal belum turun, dibuatkan sekalian aja A susunya. Dari tadi kedengerannya muntah terus". Bibi khawatir.
Ega mengangguk. Mengambil gelas kecil lalu menuangkan susu rasa coklat itu beberapa sendok dan disiramnya dengan air panas.
"Ega ke atas ya".
Bibi mengangguk dengan perasaan haru di hatinya. Bayi mungil yang dulu Dia rawat dengan penuh kasih bisa menjadi sesosok suami yang penuh kasih dan bertanggung jawab. Padahal saat SMA di Bandung Dia seringkali mengencani wanita hanya untuk danfaatkan. Entah mungkin berangkat dari masa lalu yang sama. Rain dan Ega bisa menjadi pasangan yang saling menguatkan.
"Koq Baba lama ya, Dek. Dedek udah pengen dipeluk?" Rain bicara pada janinnya seperti janin itu sudah ada di luar saja.
__ADS_1
Ega samar-samar mendengar suara istrinya itu.
"Nanti cium Baba sama-sama ya". Rain masih asyik berbicara sambil mengelus perutnya.
"Assallamuallaikum kesayangan".
Ega segera mencium kening dan perut istrinya itu bergantian tanpa menunggu jawaban salamnya.
"Mas, ngagetin deh". Rain pura-pura marah.
"Ini, minum dulu susunya. Kasihan Dedek". Ega menyerahkan susu itu. Rain suka sekali meminum susunya saat masih terasa panas. Disesapnya susu itu pelan-pelan sampai habis.
"Lain kali pakai jilbab ya saat duduk di sini" Titah Ega dan hanya diangguki Rain seraya mengelap ujung bibirnya yang basah terkena susu.
"Sabtu ini Kita siap berangkat ke Bandung, Kamu harus kuat. Harus makan"
Mata Rain berbinar, ditangkupnya pipi suaminya itu dengan kedua tangannya. Aneh, setiap malam dipandang tapi saat setengah hari saja tak dijumpai sungguh membuat rindu.
"Makasih, Aku mau makan sekarang. Ayo suapin, Mas".
Ega tertawa lalu meraih tangan istrinya untuk ke bawah.
"Makannya sama apa?" Tanya Rain saat mereka menapaki anak tangga.
"Sayur asem buatan Ibu". Jawab Ega mengusap punggung tangan Rain yang bergelayut di lengannya.
🍂🍂🍂
Ibu sedang duduk di kamar Rain. Disapukkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mengingat segala kenangan bersama putrinya itu. Terlalu banyak waktu yang Ibu lewatkan tanpa melihat pertumbuhan anak gadisnya itu. Teringat setiap hari sejak kelas 4 SD Rain selalu sendirian di rumah saat siang hari. Kebiasaan Rain saat sore adalah duduk di teras memandang langit dan berhitung dari 1 hingga 100 sambil menunggu kepulangan Ibu.
Jika sedang tidak beruntung, hitungan sampai seratusnya bisa berulang-ulang Rain lakukan. Senyum Rain akan mengembang saat Ibu datang apalagi jika membawa martabak coklat keju kesukaannya. Maka Rain akan berlari ke arah Ibu lalu bergelayut manja di lengan Ibunya.
Pandangan Ibu beralih pada sprei yang beberapa waktu lalu Rain cuci pagi-pagi sekali. Sprei itu masih terlipat rapi di atas kursi meja rias setelah Rain menyetrikanya hari itu. Terukir senyum di bibir Ibu saat pagi itu dengan sangat sengaja Ibu menggoda putri kesayangannya soal apa yang mereka lakukan semalam. Rain jelas gelagapan dan tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya.
"Kamu terlalu cepat tumbuh, Rain. Bahkan Ibu menyesal sudah banyak melewatkan waktu denganmu".
Ibu beranjak ke meja rias Rain dan mengambil potret Rain dan Ega yang memakai baju seragam. Poto itu terbingkai indah pada figura berwarna silver. Senyum Rain terlihat bahagia dengan Ega yang memandangnya penuh sayang. Ragga memang terlihat serius sejak awal, sampai hari ini Dia bisa membuktikan ucapannya yang selalu membuat Rain tersenyum, sekalipun menangis itu adalah tangisan bahagia.
Pikiran Ibu teralihkan pada ponselnya yang berdering.
📞 Hallo, Pak Bambang?.
📞 Iya, Bu. Besok pembeli rumah Ibu akan datang untuk melihat-lihat.
📞 Silahkan, Pak. lebih cepat lebih baik.
__ADS_1
📞 Baik terimakasih, Bu. Selamat malam.
Pak Bambang ketua Rt tempat Ibu tinggal menjadi perantara untuk menjual rumah itu. Rumah berjuta kenangan yang dibangun di atas keringat dan air mata Ibu. Ibu menjualnya karena menghargai tekad Rain yang benar-benar tidak ingin lagi kembali ke kota kelahirannya itu.
"Semoga kali ini Kamu bahagia, Nak. Ibu akan selalu di sampingmu.
Ibu keluar dari kamar itu dengan perasaan yang tiba-tiba rindu Rain. Ponselnya kembali berdering. Rain melakukan panggilan video call. Ibu segera duduk di tempat yang paling terang sinar lampunya.
//Hallo, Asaallamuallaikum Enin//
Rain yang sedang berbaring di peluk suaminya dari belakang melambaikan tangannya.
//Waalaikumsallaam sayang, duuh baper nih lihatnya. Jomblo bisa apa atuh//
Ibu tertawa melihat tingkah Ega yang mengusap-usap perut Rain
//Enin, makasih ya sayur asemnya. Bunda sama Dedek makan banyak hari ini//
Rain meremas rambut suaminya yang dengan sengaja menyundul-nyundulkan kepalanya ke punggung Rain.
// Sudah, sudah. Lain kali kalau mau hubungi Ibu, pastikan bayi besarmu itu tidak ada di sampingmu//
Ibu melambaikan tangannya dan mematikan panggilan itu. Padahal Ibu hanya tak ingin dilihat sedang menangis oleh Rain.
Rain pasrah saja saat tangan suaminya masuk ke balik kaosnya dan mengusap perutnya.
"Ini udah sedikit buncit ya? Lucu banget".
Rain hanya tersenyum dan ikut mengusap perutnya. Dalam hatinya Dia berharap semoga janin itu berjenis kelamin laki-laki.
"Sayang, kenapa kamu ingin anak pertama kita laki-laki?"
"Aku ingin dicintai dua atau bahkan tiga empat juga boleh sih oleh laki-laki tampan dalam waktu bersamaan". Rain tersenyum geli, malu dengan ucapannya sendiri.
"Apa Aku setampan itu?" Ega menciumi pucuk kepala istrinya yang membelakanginya itu.
"Ngaca, sana!" Rain mendengus kesal dengan pertanyaan yang menurutnya bodoh itu.
Ega hanya tertawa lalu kembali erat memeluk tubuh istrinya, memberikan kenyamanan.
.
.
.
__ADS_1
Like, komen dan kalau ada poin lebih boleh vote ya. Terimakasih semua