Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Beli tespack


__ADS_3

"Jadi kapan kita ke Bandung lagi?" Pertanyaan Rain malam ini sebelum mereka beranjak tidur membuat Ega gemas dan menciumi pipi istrinya itu berkali-kali.


"Iih jawab dulu". Rain mendorong tubuh suaminya itu dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Sekarang isi otaknya cuma Bandung ya? Bibi sampai ngeluh tuh setiap hari yang Kamu bahas cuma Bandung. Sampai Bibi hapal dialog yang terus saja Kamu ulang". Ega duduk dan bersandar di pinggiran tempat tidur. Berusaha menarik bantal dari wajah istrinya.


"Salah sendiri Bibi nggak mau ikut". Suara Rain tidak terdengar jelas.


"Jangan ditutup gitu, nanti kehabisan nafas"


"Biar habis sekalian nafasnya". Rain semakin erat menutup wajahnya.


"Bagaimana Aku bisa hidup kalau nafasmu habis? Hidupku kan nafasmu". Ega membisik di telinga Rain dan langsung Rain melempar bantal itu ke lantai.


"Ya ampun aku kehabisan oksigen karena digombalin cowok nih". Rain duduk dan tertawa sampai matanya berair.


"Nggak ada yang lucu!" Ega menyentil dahi Rain pelan.


"Aku mau pindah ke Bandung, Kita tinggal di rumah itu". Rain mengikat rambutnya yang berantakan.


"Ngaco, rumah itu diisi sama Kakek dan Tante Alis. Kamu tega ngusir mereka?" Ega membuang pandangannya dari Rain.


"Uang Kamu kan banyak, buatkan lagi rumah untuk mereka. Lahannya juga masih luas" Rain tidak mau kalah dan merangkak menindih tubuh suaminya.


"Kerjaan Aku di sini gimana?"


"Pendapatan perkebunan itu banyak nggak sih?" Rain mulai memberikan sentuhan kecil di leher suaminya.


"Ya banyak, cukup buat keluarga Kita". Jawab Ega mulai tidak bisa konsentrasi.


"Tinggalkan kerjaan Kamu di sini. Kasih aja ke Pak Riko. Hotel dan perusahaan. Kita kelola perkebunan itu saja. Aku mulai bosan tinggal di kota ini". Rain menenggelamkan wajahnya di leher suaminya yang berhasil dibuatnya tidak fokus.


"Baiklah, Kita pindah. Aku memang tidak pandai jika berdebat denganmu". Jawab Ega mengelus rambut istrinya.

__ADS_1


"Aku kan wanita yang Kamu cinta, Kamu kalah jika berdebat denganku". Rain membiarkan suaminya melakukan sesuatu yang akan membuatnya bahagia. Sudahlah keinginanya sudah terlaksana jadi biarkan suaminya mendapat hadiah.


🍂🍂🍂


Rain akhirnya memutuskan sesuatu yang berat hari itu. Dia berhenti dari kegiatannya di sekolah sebagai Guru bantu. Bagi Rain keinginannya tinggal di Bandung lebih besar dari apapun saat ini.


Rain keluar dari gedung sekolah ini dengan wajah sendu dan memasuki mobil yang sudah terparkir rapi di depan gerbang.


"Menyesal dengan keputusanmu?" Itu pertanyaan pertama dari mulut suaminya saat Rain mengenakan sabuj pengaman.


"Cuma sedikit sedih, teringat dulu saat pertama kali ke sini". Rain menunduk meremas ujung hijabnya. Bagaimanapun saat itu adalah masa-masa sulit.


"Maafkan Aku, Aku akan membuatmu bahagia apapun itu caranya". Ega mengerti maksud pembicaraan istrinya itu.


"Itukah alasannya kenapa Mas selalu mengalah saat bicara denganku?" Rain memicingkan matanya menunggu jawaban suaminya.


"Iya, rasa bersalahku membuatku hanya ingin membahagiakanmu. Kamu bahagia?" Ega meraih tangan istrinya itu.


"Bahagia dong". Rain mengerlingkan matanya.


"Sabar, Kita sudah melakukannya dengan baik. Bahkan berlebihan". Rain bicara dengan penuh penekanan dan menatap tajam suaminya dengan senyum tipis. Ega hanya tertawa, mengerti dengan ucapan istrinya itu.


Tanpa ada percakapan lagi, Ega melajukan mobilnya membelah jalanan yang siang itu mulai ramai. Tujuannya adalah kampus Rain.


🍂🍂🍂🍂


"Besok Aku nggak masak lagi, ya. Aku juga nggak kuliah dulu ya?" Rain yang merasakan tubuhnya sangat lelah dan tak ingin melakukan apa-apa bicara pada suaminya tanpa membuka matanya.


"Kamu sakit? Aku nggak apa-apa kalaupun setiap hari begini. Tapi ini bukan Kamu banget deh!" Ega meraba kening dan leher istrinya, namun tidak demam.


"Aku selalu lemas dan pusing. Badanku rasanya lelah semua". Rain dengan suara pelan masih bicara tanpa membuka mata.


"Jangan-jangan Kamu hamil?".

__ADS_1


Rain membuka matanya, mengingat sesuatu.


"Beli tespack Mas, sana cepetan".


Rain dengan tidak sabarannya mendorong tubuh suaminya.


'Kata nya lemes, tapi tenaganya kuat banget buat mendorongku'


Ega bicara dalam hati, mana berani jika berkata langsung. Ega masih diam kaget dengan perlakuan istrinya.


"Cepat. Aku tidak mau cepat menua hanya karena selalu bawel padamu". Rain mengambil dompet Ega di meja samping tempat tidurnya dan melemparnya pada Ega. Ega hanya memutar bola matanya dan berlalu meninggalkan istrinya hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaos rumahan.


Rain kembali menjatuhkan tubuhnya karena tiba-tiba menjadi lemas lagi.


"Kalau setiap hari begini, Aku bisa jadi tambah bodoh karena selalu bolos kuliah". Matanya mulai terpejam.


30 menit kemudian Ega kembali mendapati istrinya sudah tertidur. Dia berbaring di samping istrinya yang meringkuk tanpa menggunakan selimut.


"Apa benar Kamu ada di sini?" Ega mengelus perut istrinya dan menciumi pucuk kepalanya. Mengingat semua kejadian yang pernah dilewati. Bagian terburuknya adalah ketika dendam menguasai dirinya dan dengan sengaja menyakiti wanita yang kini menjadi alasannya untuk terus bahagia.


Mereka berdua memiliki masa lalu yang buruk. Sama-sama kehilangan sosok orangtua sedari kecil. Ega sekarang menyadari bahwa ketentuan Allah memang selalu yang terbaik. Tugasnya sekarang memang hanya harus berdamai dengan keadaan dan kenyataan. Lihatlah bagaimana cara Allah membalas segala duka dan lukanya saat kecil lewat Rain.


Rain memanglah bukan lawan yang bisa Dia bantah saat bicara. Tapi di balik semua itu Rain adalah istri yang selalu bisa menyenangkan suaminya. Dia memaksa Ega ke Bandung untuk mengulang kesedihan namun juga bisa membuatnya merasakan kehangatan keluarga lewat kerabat Mamanya.


Rain memaksa untuk pindah ke Bandung bukan tanpa alasan. Rain hanya ingin mereka lebih dekat dengan tempat peristirahatan orangtuanya. Bisa setiap saat menabur bunga di atas pusara Ayah dan mertuanya setidaknya bisa dijadikan alternatif untuk berbakti pada mereka yang sudah tiada.


Entah dari mana Rain berfikiran jauh seperti itu, namun malam itu setelah berhasil membuat Ega berkata iya untuk pindah ke Bandung Rain bicara sangat serius.


Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu dan Anak-anak Kita sebanyak-banyaknya. Berhentilah menjadi sibuk karena mengurus hartamu. Kita tidak pernah tahu apakah di masa selanjutnya Kita akan bersama mengulang kebersamaan Kita? Mengingat Kita hanyalah dua orang pendosa yang pintar menyembunyikan aib. Jadi, marilah untuk terus bersama tanpa memikirkan yang lainnya.


Kata-kata Rain itulah menjadi penguat dan tekad bulatnya untuk kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengulang kesedihan, melainkan memulai kebahagiaan. Ega sudah dengan sangat rapi menyiapkan semuanya. Sesuai permintaan Rain, pembangunan rumah untuk Mang Odang sedang dilakukan dan sudah berjalan 50 persen.


Ega menyelimuti tubuh istrinya yang sekarang terlihat berisi itu. Dia memeluknya erat, selalu begitu.

__ADS_1


Aku ingin hanya Kau yang terlihat saat mata ini terbuka, maka biarkan Aku menatapmu sebelum terpejam. Mimpi yang indah, Rain. Bandung menantimu.


Terimakasih sudah mampir. Like, komen dan vote. Love you


__ADS_2