
“Kamu sudah mau menikah dengan Ara, Bunda harap jauhi Freya.” Seorang wanita berhijab babby blue mengekor langkah putranya yang bertubuh tinggi menjulang menuju teras rumah.
“Sakaf dengar Bunda, nggak?” protes wanita itu ketika tak ada jawaban dari sang putra.
“Kaf dengar, Bun. Iya, Kaf ngerti. Bunda jangan panik gini.”
Ahmad Sakaf, nama pria itu menghentikan langkah tepat di depan BMW-nya kemudian berbalik badan menghadap sang ibu.
“Janji nggak bikin ulah?” pinta Rain, nama wanita yang dipanggil bunda tersebut.
“Insyaallah, Bunda nggak akan kecewa. Kecuali ....” Sakaf melipat bibir, ‘kecuali Ara sendiri yang membatalkan perjodohan ini,' lanjut Sakaf dalam hati.
“Kecuali, apa?” desak bunda.
“Bukan apa-apa, udah ya, Kaf takut telat ngisi acara, nih,” pamit Sakaf sambil mencium punggung dan telapak tangan bunda. “Doakan aku nggak salah bicara di hadapan mereka ya, Bund,” harap Kaf lalu masuk ke dalam kendaraannya.
Hari itu, pria berusia 27 tahun tersebut akan menghadiri sebuah acara yang diadakan di salah satu SMA favorit di kota Bandung. Sebagai seorang pebisnis muda, sekaligus alumni dari sekolah tersebut, Sakaf diundang untuk mengisi acara.
Setibanya di lokasi, langkah pria yang memakai celana hitam serta kemeja navy itu begitu santai memasuki gedung sekolah. Kini bangunan bertingkat itu dicat warna kuning muda, tanaman hias makin bervariatif. Kaf mengulas senyum, bangga pernah menjadi salah satu peserta didik pada sekolah tersebut.
Sebelum masuk ke aula tempat acara diadakan, Sakaf terlebih dahulu diajak oleh seorang staf pengajar yang menyambut kedatangannya ke ruang guru. Di sana, dia berbincang sebentar sambil membahas apa saja yang nanti akan ditanyakan oleh pembawa acara pada Sakaf.
“Boleh tanya tentang calon istri?” kelakar seorang guru bernama Bu Hamidah, guru bahasa Indonesia yang sedari Kaf sekolah sudah mengabdikan diri di sana.
Sakaf tersenyum, ia mengusap tengkuknya. “Silakan, kebetulan mungkin saya sebentar lagi menikah.”
“Aduh, harus dipublikasikan nih. Biar tidak ada yang menaruh harapan,” seloroh Bu Hamidah selanjutnya.
***
__ADS_1
Selesai mengisi acara dengan menjawab beberapa poin pertanyaan, Sakaf lekas meninggalkan gedung sekolah dan bertandang ke salah satu pabrik olahan susu miliknya. Pabrik itu sudah berjalan sekitar dua tahun dengan olahan khasnya yaitu, tahu, permen, dodol dan yoghurt.
Pada bagian depan bangunan juga, kini sudah disediakan restoran dengan menu hasil produksi dari pabrik. Selain memproduksi, sebagian pemasaran juga dilakukan sendiri dengan membangun gerai Frozen food.
Dirasa cukup keberadaannya di pabrik, Sakaf pergi ke gerai Frozen food yang baru satu bulan dibuka, tetapi sudah memiliki banyak pelanggan. Di gerai itu, ia mengecek ketersediaan barang juga mendengarkan cerita karyawan tentang produk apa saja yang banyak diminati.
Selesai urusannya di gerai, Sakaf pergi ke apotek sang adik untuk memastikan gadis bernama Ainun itu baik-baik saja. Semalam ia tak pulang, katanya menemani sahabatnya yang sedang sakit.
Tiba di tempat yang dituju Ainun tak ditemukan keberadaannya. Menurut cerita dari karyawan, gadis itu pergi mengantar temannya berobat. Saat dihubungi, sang adik bilang nanti sore juga akan pulang ke rumah bersama sahabatnya.
Lega dengan penuturan sang adik, Sakaf segera meninggalkan apotik karena harus ke Bogor menemui calon istrinya untuk membicarakan beberapa hal terkait pernikahan mereka. Namun, bukannya menemui sang calon istri, semesta malah mempertemukan Sakaf dengan Freya.
Gadis dari masa lalu yang masih tersemat di hatinya. Sore itu, Sakaf malah pergi menghabiskan waktu dengan Frea. Menuruti semua keinginan Freya mendatangi berbagai tempat mulai dari salon hingga nonton bioskop. Hal yang selama ini tak pernah Sakaf lakukan bersama perempuan bukan muhrim, ia lakukan hari itu.
Kegiatannya bersama Freya baru berakhir malam hari, itupun setelah bunda menelepon dan bertanya sedang di mana pria itu. Baru kali ini Sakaf berbohong, ia bilang mendadak harus mengisi seminar menggantikan sahabatnya.
“Aku pulang ya, Fre,” pamit Kaf ketika waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.
“Jangan gitu, dong. Nanti kita ketemu lagi,” janji Kaf membuat Frea sedikit mengalah.
Freya mengantar Sakaf hingga ke teras rumahnya, perempuan itu sempat hendak ingin memeluk Sakaf tetapi pria itu menolak. “Masih belum boleh, Fre,” kilah Sakaf dihadiahi dengus kesal oleh Frea.
***
“Semalam Kakak dari mana?” todong Ainun yang sudah rapi dengan pakaiannya.
“Kamu kemarin yang ke mana? Kakak samperin ke apotik nggak ada,” balas Sakaf sambil menyuap nasi goreng.
Ainun tak lagi berani menjawab, ia memang menyembunyikan sesuatu yang akan membuat keluarganya tercengang. Apalagi tadi malam ia pulang bersama sahabatnya yang kini bahkan masih tidur.
__ADS_1
Desas-desus Ainun seorang penyuka sesama jenis merebak akhir-akhir ini. Penyebabnya adalah kedekatan anak itu dengan seorang perempuan bernama Nania, selebgram sekaligus putri politisi ternama. Keduanya akrab, lengket bak prangko dengan amplop.
“Nania belum bangun, Nun?” tanya bunda menengahi perdebatan tak kasat mata Sakaf dan Ainun.
Berkali-kali Sakaf bilang tak suka Ainun berteman akrab dengan Nania. Bukan saja karena Nania itu berbeda, tetapi juga pergaulan dan cara berpakaiannya yang jauh dari ketentuan agama keluarga mereka.
“Belum, dia masih sakit, Bunda.” Ainun menunduk, malu sebenarnya pada bunda akan sikap Nania yang tidak bisa menempatkan diri.
Namun, saat ini hanya Ainun yang dapat menolong Nania. Memberi dukungan pada perempuan itu di saat teman yang lain malah menjauh. Ainun dan Nania sudah berteman sejak SMA, hanya saja saat kuliah Ainun memilih bidang kesehatan sedangkan Nania malah tak lanjut kuliah dan memilih sekolah modeling.
“Bangunin, Nun. Suruh sarapan, nanti dia malu kalau makan sendiri.” Baba yang sedari tadi tekun dengan makanannya jadi ikut bicara.
Ainun menurut, ia pergi dari ruang makan padahal piringnya saja masih penuh nasi goreng. Pandangan baba kini tertuju pada Sakaf, kebohongannya kemarin sudah diketahui oleh baba.
“Katanya semalam ada yang jalan sama Freya,” sindir baba, kalem.
Sakaf tak langsung menimpali, ia lupa siapa Ragga Hadiwijaya itu? Pria pendiam yang memiliki mata di mana-mana. Bahkan di Bogor saja penglihatannya bisa tersebar di segala penjuru.
“Jangan main-main Sakaf!” tegas baba penuh kecaman. “Jangan bikin Baba malu sama Om Akash,” lanjutnya dengan melepaskan sendok dan garpu ke atas piring yang sudah tandas isinya.
Sakaf hanya mampu mengangguk, ia paham sudah berbuat salah. Ara adalah gadis baik, meski keduanya dijodohkan dan sama sekali tak ada cinta di antara mereka berdua. Namun, tak sepantasnya Sakaf bermain curang. Apalagi dengan memasukkan Freya ke dalam hubungan dirinya dengan Ara.
“Bicarakan baik-baik dengan Freya, bukankah selama beberapa tahun ini kita tunggu kedatangannya tapi dia sendiri yang tak mau memberi kamu kepastian?” desak baba, sepertinya marah besar atas kebohongan Sakaf.
“Iya, Ba. Sakaf akan segera kasih Freya penjelasan," janji Salaf dengan isi kepala yang mulai carut marut.
***
Assalamualaikum, makasih ya yang udah mampir. Jangan lupa pencet Lope dan kasih komentar biar aku semangat up cerita ini. Moga temen-temen suka, ya.
__ADS_1
(Selengkapnya bisa dibaca di K B M A p p)
Cari nama penaku syaesha05