
Hari pertamanya bekerja Rain merasa sangat senang, walaupun hanya sebagai guru bantu. Rain sangat cepat akrab dengan murid-murid di sana. Bu Rika pun dengan cepat bisa menyayangi Rain.
Pukul 12:30 Rain sudah diizinkan pulang. Rain memutuskan jalan kaki saja karena jaraknya memang tidak terlalu jauh.
Rain tidak mendapati Bibi saat tiba di ruang tamu. Sebelum ke kamarnya akhirnya Rain memutuskan untuk ke kamar Bibi. Bibi sedang berbaring, namun tidak tidur.
"Bibi kenapa? Sakit?" Tanya Rain seraya duduk di tepi ranjang mengusap-usap kepala Bibi.
"Sakit hati lihat neng Rain disakitin terus" Jawab Bibi dengan muka kesal. Rain malah tertawa.
"Mas pulang jam berapa, Bi?"
"Tadi bilangnya pulang jam 5" Jawab Bibi seraya berusaha duduk.
"Udah, Bibi tiduran aja istirahat. Rain juga mau ke kamar. Rain mau nyetrika baju mas abis itu lanjut masak". Jawab Rain seraya beranjak meninggalkan Bibi di kamarnya.
Di ruang setrika, Rain menatap baju Ega seperti menatap orangnya saja. Bahkan sesekali dia menciumi dan memeluk pakaian Ega yang hendak dia setrika itu. Tak butuh waktu lama bagi Rain membereskan pekerjaannya.
Tanpa rasa lelah Rain segera berkutat di dapur. Memasak ayam goreng serta kentang balado yang menjadi favorit suaminya itu. Selesai menyelesaikan semuanya, Rain segera menuju kamar. Setelah sebelumnya membawa dua butir telur rebus dan tumis brokoli ke dalam kamar untuk makan malamnya. Rain sudah bertekad untuk mengikuti permainan Ega, Dia akan berusaha tidak terlihat oleh suaminya itu.
******
Siangnya setelah pulang mengajar, Rain mendapati Ega yang sedang duduk di ruang tv. Rain sengaja tidak ingin menyapa dan melewati Ega dengan langkah cepat menuju kamarnya.
__ADS_1
Bibi yang awalnya hendak menonton, membalikkan langkahnya untuk kembali ke kamar karena melihat ada Ega di sana. Ega yang melihat tingkah Bibi dengan cepat beranjak dan menarik tangan Bibi.
"Bibi kenapa, sih? Marah sama Aku?"
Bibi tidak menjawab dan menepis tangan Ega.
"Maafkan Aku kalau ada salah, Aku nggak mau Bibi cuekin".
Mendengar itu Bibi malah teetawa
"Aa juga jahat kan sama Neng Rain?". Bibi menatap sinis Ega.
"Itu beda ceritanya, Bi". Ucap Ega dengan suara lembut.
"Bibi nggak pernah lho A ngajarin buat jadi pendendam!" teriak Bibi.
"Bibi kasian sama Neng Rain, Bibi mau bantu tapi bingung gimana caranya. Bibi bingung harus tanya pada siapa tentang kebenarannya sedangkan Aa sendiri dengan mudahnya percaya pada Pak Rakha yang lebih banyak bohongnya!" Bibi teriak-teriak seperti kesetanan dengan tangis yang mulai pecah.
"Bi, Bibi nggak ngerti keadaannya. Bibi nggak tahu apa yang Aku rasain. Aku nggak merasakan kasih sayang dari Mama dan itu karena ulah Mereka!". Ega masih merangkul bahu Bibi.
"Percuma saja, ngomong sama Aa. Aa ego.... belum lagi Bibi melanjutkan bicaranya tiba-tiba Bibi merasa mulutnya kelu dengan dada yang terasa nyeri
"Aaaaaaaaa
__ADS_1
Bibi berteriak memegangi dadanya, Rain yang mendengar teriakan Bibi dari kamar keluar dengan masih menggunakan mukena.
"Bibi, Bibi kenapa Mas?" Rain kaget melihat Bibi yang memegangi dadanya dan meringis kesakitan.
"Ayo, Mas. Kita bawa ke rumah sakit. Aku pakai jilbabku dulu"
Tanpa menunggu jawaban Ega, Rain kembali ke kamar membuka mukenanya dan memakai jilbabnya. Rain kembali ke ruang tv dan memapah Bibi ke luar untuk dibawa ke rumah sakit bersama Ega.
Rain menemani Bibi duduk di kursi belakang sambil terus mwngucap dzikir dan sholawat. Air mata Rain terus berderai.
"Mas, lebih cepat. Bibi semakin melemah" Teriak Rain sambil terus terisak dengan bibir yang terus bergumam sholawat dan dzikir.
Setelah sampai di Rumah sakit Bibi langsung dibawa ke UGD. Rain dan Ega disuruh menunggu di luar. Rain terus menangis dan mondar-mandir di depan ruang UGD.
"Mas, Aku takut Mas. Aku nggak mau Bibi kenapa-napa" Rain masih mondar mandir. Ega yang sama khawatirnya tetap berusaha tenang. Entah mengapa, Ega sedang memikirkan perkataan Bibi tadi tentang apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar Papanya telah berbohong.
Saat Rain masih mondar mandir, dokter yang menangani Bibi keluar dari UGD.
"Gimana keadaan Bibi saya dokter?" Tanya Rain menatap penub harap pada dokter yang masih muda itu.
cantik. Gumam dokter itu.
"Dokter, gimana?" Rain sekali lagi bertanya. Ega ikut menghampiri dokter itu.
__ADS_1
"Mbak cantik keluarga pasien?" Tanya dokter tersenyum pada Rain. Ega yang melihatnya merasakan kesal dalam hatinya.
"Pasien sudah ditangani dan keadaanya membaik, sebentar lagi bisa dipindah k ruang perawatan". Ega dan Rain senang mendengarnya. Keduanya kompak menghembuskan nafas lega.