Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Kangen Nggak?


__ADS_3

Pukul 14:00 Rain tiba di rumah. Bibi membukakan pintu untuk Rain.


"Koq baru sampe Neng, tadi katanya jam delapan udah jalan?"


"Iya, Bi. Tadi tuh pada berhenti dulu di jalan beli oleh-oleh. Terus ke kampus dulu Aku juga sholat dulu di kampus. Jadi baru sampe deh" Jawab Rain menjelaskan kegiatannya. Bibi mengangguk-angguk mengerti.


"Mas kuliah nggak?" Tanya Rain seraya melepas jaketnya.


"Enggak, dari pagi belum turun. Belum sarapan. Bibi panggil nggak nyahut. Bibi nggak kuat kalo ke atas. Engap" Jawab Bibi memegangi dadanya.


"Ya udah Aku aja yang lihat".


Rain segera beranjak ke kamar Ega setelah menaruh bawaannya di meja ruang tamu.


tok


tok


tok


Ega tidak merespon. Dengan perlahan Rain membuka pintu dan mengintip. Ega sedang duduk menghadap meja belajar serius dengan laptop. Rain masuk berjalan pelan.


"Mas, Aku pulang nih". Kata Rain berdiri di belakang Ega. Ega tidak menjawab, kembali dingin.


"Mas, koq nggak kuliah?" Rain bertanya lagi namun masih tidak dijawab.

__ADS_1


'Kenapa sih Mas? sebentar baik sebentar jahat?' Batin Rain.


"Mas, salahku apa?" Rain lagi-lagi bertanya. Kini Dia memang lebih berani dan cerewet menghadapi Ega.


"Kamu kenapa nggak kasih kabar sih? posting Ig aja bisa!" Jawab Ega menatap layar laptop tanpa menoleh.


"Oh my god, Mas. Akun Aku aja Kamu block gimana bisa Aku ngabarin Kamu" Seru Rain memutar bola matanya jengah.


Ega beranjak, berdiri di hadapan Rain


"Alasan aja Kamu, Aku nggak pernah block akun Kamu. Kamu jangan... " Ega mengingat sesuatu. Oh tidak. Bukannya Ega memang mengganti seluruh nomornya? Bukankah SIM cardnya dia patahkan tempo hari itu?


"Mas, maafin Aku. Aku berkali-kali kirim pesan dan itu selalu ceklis satu. Aku telpon di jaringan biasa nomor kamu nggak aktif" ujar Rain memperlihatkan ponselnya pada Ega.


Ega mengusap kasar wajahnya. Di sini yang salah diringa, bukan Rain. Ega memang memakai kembali ponsel lamanya, tapi nomornya kan sudah tidak aktif.


Rain tertawa kecil, jadi ini masalahnya tiba-tiba marah.


"Ya udah, Mas. Ayo turun. Aku beliin Kamu mochi". Rain menarik tangan Ega. Jadilah mereka berdua berjalan sambil berpegangan tangan sampai ruang tamu. Bibi yang melihat itu merasa bahagia karena semakin hari Ega dan Rain semakin dekat kembali.


"Bibiiii, jangan banyak-banyak makan mochinya!" Seru Rain saat melihat wadah bekas mochi yang berserakan di meja.


"Tiga kotak doang, Neng" Jawab Bibi dengan mulut penuh.


"Bibi jangan terlalu banyak makan yang manis-manis. Inget, Bi" Rain duduk di samping Bibi sambil memeluk penuh sayang. Ega ikut duduk di samping Rain dan dengan sengaja menyentil dahi Bibi

__ADS_1


"Nakal nih" Bibi dan Rain tertawa.


Rain membuka kotak mochi lalu memberikannya pada Ega.


"Kenapa beli mochi, emang mochi oleh-oleh khas puncak?" Tanya Ega menyantap mochi itu.


"Nggak tahu, ikut-ikutan aja. Lagian kan murah. Uangku kan nggak sebanyak uang Mas. Aku harus pikir-pikir dulu sebelum membeli sesuatu". Jawab Rain sekenanya tanpa maksud menyinggung Ega. Namun Ega dan Bibi saling melempar pandang. Merasa perkataannya barusan membuat Ega tersinggung Rain beranjak.


"Aku ke kamar dulu, Ya. Capek banget". Rain menyambar tasnya dan berlari ke kamarnya.


Ega tanpa memperdulikan Bibi, mengejar Rain dan ikut masuk ke kamar.


"Kamu ngapain, Mas?" Tanya Rain saat tiba-tiba Ega sudah ada di kamarnya.


"Kamu kangen nggak sama Aku?" Ega balik bertanya.


"Enggak kangen, tapi rindu" Jawab Rain seraya menaruh tasnya di lantai dan mulai membuka hijabnya.


"Rain, besok Kita susul Pak Riko ke Malang mau nggak?" Tanya Ega. Rain terlihat berfikir. Kuliahnya memang libur dua hari ini, tapi Rain sudah ada janji untuk mengajar.


"Aku udah janji ada jam mengajar, Mas" Jawab Rain lesu.


"Ya udah, Sabtu gimana Rain?" Tanya Ega tersenyum dan diangguki Rain.


"Ya udah istirahat gih, Aku ke kamar lagi". Ucap Ega mengacak rambut Rain. Ega berlalu dengan sedikit rasa kecewa. Padahal sudah sangat ingin mengetahui kejadian sesungguhnya. Rain juga menatap kepergian Ega dengan kecewa

__ADS_1


'Padahal Aku berharap kamu bilang kangen terus peluk Aku Mas'. Batin Rain seraya merebahkan tubuhnya


__ADS_2