
Tiga hari setelah kejadian itu, barulah tubuh Rain merasa sangat baik. Bibi yang mengira Rain hamil jadi malu sendiri pasalnya kata dokter Rain hanya mengalami masuk angin dan asam lambungnya tinggi.
Sore itu Bibi dan Ega datang berkunjung. Rain yang sedang membaca novel di ruang tv menyunggingkan senyuman saat mendengar deru mobil di halaman rumahnya. Rain beranjak dari duduk dan berlari ke ambang pintu. Senyumnya mengembang melihat pujaan hatinya yang juga tersenyum manis.
Ketiganya sekarang kembali duduk di ruang tv. Ibu tentu saja belum pulang dari restoran.
"Neng, maaf ya Bibi kemaren mikir yang enggak-enggak." Bibi mengawali pembicaraan. Rain mengangguk tersenyum.
"Iya, Bi. Untung bukan Ibu yang berfikiran seperti itu"
"Tenang aja, Bi. Setelah sah nanti, Ega akan cepat bikin pikiran Bibi itu jadi kenyataan" Ega dengan jahilnya menyikut perut Bibi.
"Eta mah wajib, kudu A". Sahut Bibi lalu keduanya tertawa.
Rain hanya tersenyum. Membayangkan akan ada makhluk kecil calon manusia di dalam perutnya kelak.
"Kenapa ketawa-ketawa gitu Yang?"
"Aku lagi ngebayangin kalau hamil tuh gimana?" Rain mengelus perutnya yang rata.
"Daripada bayangin hamil, kita belajar aja sekarang supaya cepet hamil yuk" Ega berbisik di telinga Rain.
Bugh! Rain memukul bahu Ega dengan sangat keras. Lalu beranjak untuk membuatkan mereka minum.
"Jangan dijahilin terus, A. Kasihan" Kata Bibi yang ikut beranjak menyusul Rain.
****************************************
__ADS_1
Tepat adzan magrib Ibu kembali dari restoran dengan membawa beberapa bungkus masakan. Selepas sholat Rain menata masakan itu di meja makan. Ega yang sedari tadi memperhatikan Rain, terus saja menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Mereka berempat makan tanpa bersuara. Selesai membersihkan piring, Rain bergabung dengan Ibu dan yang lainnya di ruang tv.
"Bu, sebenarnya Ega ada hal penting yang harus disampaikan" Ega membuka pembicaraan.
"Ada apa? Bicara saja." Jawab Ibu mengelus kepala Rain yang bergelayut manja dipelukkannya.
"Bu, besok malam Papa akan datang melamar resmi Rain" Kata Ega penuh keyakinan.
"Koq mendadak sekali. Bukankah rencananya bulan Agustus? Ini Masih bulan Juni, Ga" Ibu kaget, Rain juga mengurai pelukkannya.
"Sebenarnya, Papa mengira Rain itu hamil. Karena kejadian kemarin. Ega sudah jelaskan tapi Papa tidak percaya" Ega menjelaskan panjang lebar alasan Papanya ingin cepat melamar. Rain dan Ibu istighfar bersamaan.
Itulah Pak Rakha, siapa yang bisa membantah kata-katanya. Dia tidak mau mendengar penjelasan Ega dan lebih membenarkan pemikirannya bahwa Rain itu hamil.
"Ok, baiklah. Ibu rasa tidak ada salahnya jika niat baik ini dipercepat"
"Bu, Papa juga meminta akadnya dilangsungkan seminggu setelah lamaran" Kata Ega lagi dengan penuh kehati-hatian.
"Apa?" Teriak Ibu sambil berdiri dan memijat-mijat pelipisnya.
"Orang seperti apa Papamu itu sampai-sampai harus serba dadakan begini" Seru Ibu mendengus kesal.
"Ibuuuu" Rain berusaha menenangkan Ibu.
Ibu kembali duduk dan mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Gimana, Sayang? Kamu sudah siap jika seminggu lagi menikah?" Tanya Ibu pada Rain. Rain mengangguk takjub. Dalam hati Ega bersorak. Seminggu lagi Rain bisa dilihatnya setiap saat. Mereka akan menghabiskan waktu bersama. Untuk pertama kalinya, Ega merasa beruntung jadi putra Pak Rakha. Sikap Papa yang diktator itu ada gunanya juga. Batin Ega.
Sebelum pulang Rain sempat mencuri obrolan dengan Bibi di dapur.
"Bibi, besok dateng ya!" Rain merengek pada Bibi.
"Tapi, Neng. Bibi mah takut sekali atuh berhadapan sama Bapak" Jawab Bibi dengan wajah ditekuk.
"Bibi ke sini nya duluan, trus nanti bisa ngumpet di
kamar Aku. Masa Bibi nggak ada di hari spesial Aku" Rain berusaha meyakinkan Bibi yang akhirnya mengangguk.
"Hayoh, Kalian ngobrolin apa?" Eg tjba-tiba datang.
"Bibi, dipanggil Ibu tuh diajak nonton lagi" Seru Ega pada Bibi. Bibi beranjak tanpa menjawab.
"Sudah siap jadi nyonya Ragga?" Ega mulai menggoda Rain. Rain hanya tersenyum mengangguk.
"Besok dandan yang cantik, ya!" Ega mengacak rambut Rain.
"Emang biasanya nggak cantik?" Tanya Rain mengerucutkan bibirnya.
"Gitu aja ngambek, mana ada Rain Khadija nggak
cantik. Kamu selalu cantik dan akan tetap jadi yang tercantik" Ega mencubit gemas pipi Rain yang merona. Jantung Rain berdesir hebat.
"Bilang sama jantung, ini udah mau nikah. Nggak usah berdebar gitu".
__ADS_1
Bugh! Rain memukul bahu Ega dan berlalu meninggalkannya.