Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Hujan dan Senja


__ADS_3

Senja menyapa saat Rain duduk di balkon kamarnya, dan ini untuk pertama kali. Pemandangan yang disuguhkan ternyata cukup indah. Gerbang tinggi itu jelas terlihat dari balkon. Ternyata rumah ini memiliki halaman luas dengan taman yang banyak ditumbuhi dengan tanaman. Rumput itu terlihat seperti karpet jika dilihat dari atas. Sisa-sisa air hujan masih bergelayut manja pada ujung-ujung daun dan pepohonan.


"Rumah ini besar, tapi sama sekali bukan rumah impianku" Gumam Rain menatap pada sekumpulan semut yang berjalan berbaris pada pagar besi. Selain penyuka hujan rain juga penikmat senja, namun rasanya sudah lama dia tidak menyapa senja semenjak mengenal Ragga. Ragga benar-benar telah banyak menyita waktu dan pikirannya. Ikatan batin yang kuat, saat dalam pikirannya ada nama Ragga. Saat itu juga suaminya itu terlihat membuka gerbang. Rain sedikit merasa bersalah seharusnya Dia membukakan gerbang itu untuk suaminya.


Rain berlari-lari kecil meninggalkan pertemuannya dengan senja. Hampir saja Dia terjatuh karena menginjak ujung gamisnya sendiri. Senyumnya sudah mengembang sejak melihat suaminya membuka gerbang tadi.


"Jangan lari-lari, Neng". Bibi yang sedang ada di ruang televisi berteriak tanpa dijawab Rain. Rain membuka pintu tepat saat Ega mengucap salam.


"Waalaikumsalaam kekasihku"


Rain dengan senyum lebarnya meraih tangan Ega dan menciumnya lalu beralih mencium sekilas pipi Ega dan cepat menarik tangan Ega untuk mengikuti langkahnya yang sedikit berlari. Ega menurut saja walaupun masih keheranan. Rain masih tidak berkata apa-apa sampai akhirnya mereka tiba di balkon kamar.


"Haduuh, cape hah hah" Rain berusaha mengatur nafasnya dan duduk di kursi kayu sambil meluruskan kakinya.


"Kenapa sih ngajak lari-lari?" Ega ikut mendudukkan dirinya di kursi sebelah Rain.


"Aku mau menikmati senja sama Kamu. Kita sudah cukup sering menikmati hujan bersama. Sekarang kita menikmati senja ini bersama" Rain menatap lurus ke depan kemudian mendongakan matanya ke langit yang sedikit cerah padahal tadi pagi hujan deras. Bunyi dedaunan yang diterbangkan angin dengan cuitan burung menambah indah suasana senja ini.


"Lihat Mas, pohon pinang itu. Berapa tahun umurnya?" Rain menunjuk pohon palem yang disebut Rain pohon pinang.


"Aku nggak tahu pohon itu berapa tahun umurnya dan itu bukan pohon pinang. Itu pohon palem, Sayang". Ega membelai pipi istrinya yang terasa dingin itu.


"Ya sudah, biarkan. Eh itu burung gereja ya yang kakinya nyangkut? kasihan". Rain menunjuk burung pipit yang kesulitan terbang karena kakinya tersangkut pada sela-sela ranting pohon.


"Itu burung pipit, burung gereja biasanya datangnya pagi saat matahari lagi muncul". Ega mencubit gemas pipi Rain yang memajukan bibirnya.


"Salah terus dari tadi". Rain menghentak-hentakkan kakinya, merajuk.


"Hanya kurang tepat, eh Aku punya burung Beo". Ega menarik dagu Rain agar tidak menunduk lagi.


"Mana? Jangan ngarang". Rain masih cemberut.


"Ini lagi cemberut burung Beonya". Ega tertawa dan tawa itu menular pada Rain.


"Masa disamain sama Burung Beo!"

__ADS_1


"Habis bawel, tapi Aku sayang". Ega menarik kepala Rain agar bersandar di bahunya.


"Mas, kapan Kita ke Bandung?" Rain ternyata selain bawel juga keras kepala.


"Aku masih sibuk, Aku juga selain kuliah kan harus kerja" Ega berusaha menjawab senormal mungkin padahal emosinya mulai terusik.


"Mas jangan cari-cari alasan. Aku pengen lihat perkebunan itu. Aku tahu pasti bangunan rumahnya itu bergaya belanda. Pasti di sekelilingnya banyak bunga. Ayolah ajak Aku ke bandung". Rain terus merengek dan membuat Ega menggeser kepala Rain dan beranjak.


"Aku siap-siap dulu mau ke mesjid. Tutup pintu dan jendelanya sebelum adzan".


Aku lebih baik pergi saat marah, sebab Aku tak ingin melukaimu dengan berkata kasar.


Rain sedikit kecewa karena sulit sekali membujuk Ega agar mengajaknya ke Bandung.


"Hai senja, lama tak menyapamu. Tadi itu suamiku, kekasihku. Tampan ya? Tapi sepertinya dia sedang marah. Aku ke dalam ya, senja". Rain meninggalkan balkon lalu menutup pintu dan kamar.


Terbiasa sendiri membuat Rain kecil hingga remaja memilih bertemankan hujan dan senja saat Ibunya tidak ada di rumah. Rain sering berlama-lama di luar rumah menikmati senja sambil menunggu Ibu pulang dari restoran. Begitupun saat hujan, jika orang lain akan ke dalam rumah saat hujan. Justru Rain malah akan berdiam diri di luar menikmati hujan bahkan sengaja bermain-main dengan hujan. Setelah kenal dengan Ega, senjanya hampir dia lupakan dan baru hari ini sempat disapa.


Aku tahu Kamu marah dan pergi karena tak ingin menyakitiku


Rain masih berusaha agar terus bisa pergi ke Bandung, tepatnya ke perkebunan teh itu. Ini hari ke tujuh setelah kejadian sore itu. Hari ini Rain dan Ega sedang berada di rumah Ibu. Ega dan Ibu terlihat sedang menikmati teh di teras sementara Rain sibuk di kamarnya mengemasi baju-baju yang dia beri julukan "baju laknat" untuk diberikan kepada yang lebih membutuhkan.


"Bu, Rain setiap hari masih minta diajak ke Bandung". Ega membuka percakapan sore itu yang hujan rintik-rintik. Ini minggu terakhir di bulan Desember.


"Ibu rasanya baru kemarin meninggalkan Bandung dan berpisah dengan Papamu" Suara Ibu terdengar lirih.


"Kita bisa bujuk Rain agar melupakan keinginannya jika Bandung hanya membuat Ibu terluka" Ega sedikit mengecilkan suaranya takut terdengar Rain.


"Rain sudah sejak lama ingin ke Bandung, Ibu nggak yakin Dia bisa lupa dengan cepat". Ibu menatap kosong ke arah depan.


"Ibu sendiri gimana? Jujur saja Ega memang nggak bisa menolak Rain lebih lama lagi"


"Kita memang harus ke sana, Ibu harus bisa berdamai. Setidaknya biarkan Rain mengunjungi ayahnya". Ada senyum tipis di bibir Ibu.


Rain keluar dari kamarnya membawa dua kantong besar pakaian laknat nya.

__ADS_1


"Kamu buang semua baju laknatnya?" Tanya Ibu.


"Iya, Bu. Haduh Aku bahkan malu pernah menggunakannya". Rain ikut duduk merasakan lelah setelah membongkar lemarinya.


"Yang di rumah Kita juga dibuang? yaa sayang dong Aku nggak bisa lagi lihat cewek seksi pas nyetrika baju". Ega terkekeh sambil menjawil dagu Rain.


"Pikirannya kesitu doang sih" Rain mengibaskan ujung hijabnya pada wajah suaminya.


"Kamu buang semua Rain?" Tanya Ibu.


"Enggak, Bu. Itu tuh bener-bener yang nggak pantes Rain pake aja" Jawab Rain.


"Baju Kamu yang dulu-dulu itu kan emang nggak pantes dipake. Dan Ibu berdosa sudah membelikannya untukmu".


"Nanti Rain nego saat pembagian dosa, Ibu nggak akan Rain ajak-ajak".


Pletak


Ega memukul pelan kening Rain dengan ponselnya dan berkata


"Asal aja kalau ngomong, perlu dimasukkin pondok nih Bu mulutnya".


Ibu hanya menggeleng lalu beranjak, jika sudah seperti itu mereka berdua akan lupa di mana berada.


"Yaudah masukin, nanti banyak akhi di sana. Pasti banyak yang lebih ganteng". Ejek Rain menjulurkan lidah.


"Huh, sejak kapan jadi genit gini". Ega lagi-lagi memukul kening Rain.


Rain hanya tertawa dan kembali mengingat sesuatu.


"Jadi, kapan ke Bandung?"


Ega sudah tidak bisa lagi menolak.


"Insyaallah sabtu depan" Ega bicara pelan sekali namun didengar Rain dan tentu saja dia bertepuk tangan ria dan berlarian ke dalam rumah memberi tahu Ibu.

__ADS_1


Aku tidak bisa tidak jika sudah berhadapan denganmu.


__ADS_2