Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Dua Garis Merah


__ADS_3

Rain berkali-kali membaca cara menggunakan tespack yang kini Dia pegang di tangannya.


"Lho, masih belum dicoba juga?" Tanya Ega yang baru masuk ke kamar sehabis shalat shubuh.


"Takut kecewa, Mas". Jawab Rain menggenggam erat alat tes kehamilan itu.


"Ayo coba dulu, nanti hasilnya biar Aku yang pertama lihat". Ega mendekati istrinya lalu menuntun langkah istrinya ke dalam kamar mandi. Tapi, langkah Rain terhenti di bibir pintu. Antara iya dan tidak.


"Kalau negative gimana?" Rain menatap iba suaminya yang masih mengenakan koko, tampan.


"Kita langsung bikin lagi setelah ini, masih ada waktu sebelum berangkat kuliah". Ega mendongakan kepala menatap jam dinding yang menunjukan pukul 05:15.


"Iish, Mas. Pikiranmu itu lho". Rain mendengus kesal lalu menghentakan kakinya masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu dengan keras.


"Rain, malu-malu terus sih dikasih enak juga".


"Aku dengar lho, Mas. Mulutmu memang harus dijahit". Teriak Rain yang hanya dibalas Ega dengan cekikikan nakal.


10 menit kemudian.


Rain membuka pintu kamar mandi sambil menutup mata dan membawa tespack itu di genggamannya.


"Mas, Kamu di mana? Aku nggak sanggup lihatnya. Aku takut Kamu kecewa". Rain berteriak memanggil suaminya yang padahal sedari tadi masih di posisi awal, setia menunggu istrinya.


Ega sedikit meringis sebab suara teriakan Rain barusan tepat sekali di telinganya. Ega tidak menjawab, biarkan Rain berfikir jika dirinya memang berada jauh.


"Kenapa teriak?". Ega bicara setelah beberapa detik terdiam.


"Ini lihat hasilnya!" Rain masih menutup mata dan menyodorkan tespack itu ke sembarang arah karena benar-benar tak bisa melihat keberadaan suaminya.


"Kalau misalkan positif, Kamu bahagia?" Tanya Ega tanpa mengambil tespack itu walau Rain sudah mengangkat dan menggerak-gerakkan tanganya.


"Jelas bahagia, Mas". Rain mulai merasakan tangannya pegal.


"Kalau negative, gimana?" Ega masih belum mengambil tespack itu, berdiri bersandar pada dinding dengan melipat kedua tangan di dadanya. Jelas, Ega sendiri dibuat gugup dengan kenyataan yang akan Dia hadapi. Dia hanya sedang mengulur waktu.


"Seperti katamu tadi, Kita bikin lagi sekarang juga!" Jawaban Rain membuatnya tersenyum lebar, dan perlahan mengambil alat tes kehamilan itu.


Tespack itu sudah sempurna berada di genggamannya. Terdapat dua garis merah di sana. Dan, Ega langsung memeluk Rain menghujani kepalanya dengan ciuman seraya tidak berhenti mengucap syukur


"Allhamdullillah"

__ADS_1


Rain belum sepenuhnya memahami kondisi suaminya, pelan dia membuka mata dan mengambil tespack itu dari tangan Ega. Air mata kebahagiaan terurai di pipinya.


"Positif, Mas". Katanya lirih dengan suara parau. Ega terisak pipinya sudah banjir air mata. Mereka berpelukan saling menikmati perasaan hangat yang menjalar di hati dan berbagi kebahagiaan itu.


'Ibu, Ayah. Dulu, Sebahagia inikah perasaan Kalian saat tahu akan ada Aku di hidup kalian?' Batin Rain.


Sudah sangat lama mereka menangis saling berpelukkan, sampai akhirnya ponsel Rain berdering,


"Lepas, Mas. Aku harus angkat telponnya". Rain mengurai pelukkannya, segera menerima panggilan dari Ibu.


📞Assallamuallaikum, Bu.


📞 Waalaikumsallaam, Rain. Ibu dari tadi nunggu Kamu di bawah. Ibu bawakan sarapan, kata Bibi Kamu sakit sampai jarang masak?


📞 Cuma lemes aja, Bu. Iya, Rain sama Mas ke bawah.


"Ayo, Mas. Ada Ibu". Rain berlalu meninggalkan suaminya sambil berlari-lari kecil membawa alat tes kehamilan itu untuk ditunjukkan pada Ibu dan Bibi.


Rasa lemas dan pusingnya hilang entah kemana. Rambut berantakannya sudah tidak Dia pedulikan. Dia langsung berhambur ke pelukkan Ibunya saat sosok itu tertangkap matanya sedang duduk di ruang makan bersama Bibi.


"Buuu, Rain hamil. Ibu akan punya cucu". Rain mengurai pelukkannya seraya memperlihatkan alat tes kehamilan itu. Ibu meraihnya dengan mata berkaca-kaca seraya menutup mulutnya.


"Allhamdullillah"


"Selamat ya, kalian berdua akan jadi orangtua". Ibu memandang anak dan menantunya bergantian.


"Makasih, Bu". Ega dan Rain kompak menjawab.


"Waah nggak sia-sia ya, A. Setiap hari ngabisin shampo. Selamat yaa". Bibi cekikikan sendiri dengan kalimatnya membuat Rain tersipu.


"Nggak setiap hari juga, Bi. Semalam kan enggak. Dia udah lemas duluan sebelum menjalankan kewajibannya". Ega menjawil dagu istrinya dan mendapat pukulan keras di dadanya sebagai balasan.


"Sudah, ayo sarapan. Ibu buatkan kalian Bubur ayam". Ibu menunjuk bubur ayam yang sudah tersimpan rapi di meja makan.


Tiba-tiba Rain merasa mual mencium aroma bubur yang khas dengan bau bawang goreng dan seledri itu.


"Owek, owek". Rain berlari ke arah wastafel. Namun hanya cairan bening kekuningan yang Dia muntahkan. Dengan sigap Ega mengikutinya. Dipijatnya tengkuk istrinya yang masih berusaha mengeluarkan cairan tersebut.


"Maaf, Mas. Udah Kamu sarapan aja ya. Aku tiduran aja dulu ya". Rain memijit keningnya, pusing kembali menjalari kepalanya. Rasa pahit dari tenggorokan hingga ke mulut membuatnya kembali muntah sampai perutnya terasa kram.


"Bu, Rain kenapa gini?". Ega berteriak panik memanggil mertuanya. Ibu sebenarnya tidak kaget, mengingat hal seperti ini akan biasa terjadi pada wanita hamil muda.

__ADS_1


"Sudah, jangan terlalu panik. Ini biasa terjadi pada wanita hamil. Kalian nanti periksakan saja ke dokter. Biar Ibu bikinkah teh hangat ya". Ibu mengusap-usap punggung Rain halus.


"Biar Aku aja yang buat, Kamu mau duduk di mana?" Ega memegang bahu Rain.


"Aku di sini dulu, takut nanti mual lagi". Rain menggeleng dan nenar saja perutnya kembali mual.


"Ibu kembali ke meja makan aja". Ucap Ega dan diangguki Ibu.


Ega mengambil teh di dalam salah satu space pada kitchen set. Dia sengaja membuatnya pada gelas besar kesayangan Rain. Saat tangannya selesai mengisi gelas dengan air panas dan mencelupkan teh itu. Tiba-tiba tangan Rain melingkar di perutnya, Rain memeluk suaminya dari belakang.


"Hei, kenapa?" Ega mengusap punggung tangan istrinya dan merasakan jika kepala istrinya bersandar di punggungnya.


"Makasih, Mas. Aku pikir dalam otakmu hanya ada mesum saja. Ternyata Kamu bener-bener menyayangiku".


"Jelas Aku sayang Kamu dong" Ega tertawa tanpa melepaskan elusannya dari punggung tangan Rain.


"Sayang Aku sama Dedek?" Rain tertawa kecil, merasa geli sendiri mengucapkan kata "Dedek".


Ega membalikan badannya dan memeluk istrinya erat.


"Iya, tentu. Sayang Dedek dan Ummahnya". Ega mencium pucuk kepala istrinya sambil terus mengelus punggung istrinya.


"Panggilan Ummah terlalu berharga buat Aku yang masih banyak dosanya, Mas". Rain mengurai pelukkan dan mendongakan kepalanya. Tangisnya sudah berhenti.


"Lalu mau dipanggil apa?" Ega menangkup kedua pipi mulus itu, hidungnya sangat merah.


"Eemm Bunda, boleh?" Rain memicingkan matanya.


"Boleh, Sayang" Ega mengusap sekilas wajah istrinya.


"Do'akan ya, biar Aku sama Dedek selalu sehat". Rain mengelus perut ratanya yang sudah tidak mual lagi.


"Bahkan malaikat akan ikut menjagamu, Sayang" Ega membungkukkan badannya, menyatukan keningnya dengan kening Rain.


"Mas cemburu juga kalau malaikat ikut menjagaku?" Rain polos sekali bertanya seperti itu.


Ega tertawa mendengar ucapan istrinya yang sangat menggelitik.


"Kenapa Kamu tak pernah kehabisan kata untuk menjawab omonganku sih. Sialnya, Aku nggak pernah bisa menang" Ega mengacak rambut istrinya itu dan Rain ikut tertawa. Sejenak mual dan pusingnya hilang.


"Jadi kalian masih mau melanjutkan drama pagi ini sampai buburnya dingin dan nggak enak dimakan? Kalau begitu, Ibu pulang saja!" Teriak Ibu dari arah meja makan membuat Rain dan Ega bersitatap dan langsung menghampiri Ibu berlari-lari kecil.

__ADS_1


Jadi, guys aku ucapin banyak terimakasih udah pada view karya aku sampai sejauh ini. LIKE, KOMEN, DAN VOTE nya selalu Aku tunggu. Sayang kalian semua 💖


__ADS_2