
Tak terasa waktu liburan tinggal beberapa hari lagi. Ega banyak sekali menggerutu karena tak berhasil sekalipun mengajak Rain walau sekedar ke bioskop. Selalu ada alasan menolak. Tapi, Ega tak pernah bisa marah. Mereka setiap hari bertemu dan tak lebih dari 2 jam sebab menurut Rain lama-lama bertemu hanya akan membuat rindu berkurang. Ega tahu itu hanya alasan Rain. Rain memang sangat menjaga kepercayaan Ibunya.
Hari itu sedari shubuh Rain merengek pada Ibu untuk ikut ke restoran. Ibu bukan tak mengizinkan, tapi janganlah lupakan Ega yang tingkat protectivenya akan bertambah jika Rain berada di restoran.
"Ibu boleh saja, tapi Ega mu itu bagaimana?" tanya Ibu yang sedang mengolesi roti dengan nutela.
"Ega ngizinin koq, tapi Dia mau ikut juga." Jawab Rain memainkan kedua alisnya.
Ibu hanya menghela nafas panjang. Bukankah terakhir Rain dan Ega ke restoran mereka berdua berisik sekali berselisih tentang Rain yang memoles bibirnya dengan lipstik dan membuatnya dipuji cantik oleh pemesan katering Ibu?.
"Ya sudah, sebentar lagi Kita berangkat. Kamu nggak usah dandan. Repot kalau kejadiannya seperti tempo hari." Jawab Ibu mengingatkan.
Rain tersenyum semangat segera mengganti baju. Rain mengenakan jeans biru dan sweater warna broken white yang kebesaran di tubuhnya. Rambutnya digerain indah tanpa memoles apa-apa di wajahnya. Awas saja berani protes batin Rain lalu segera keluar kamar dan berangkat ke restoran. Rain mengetikan pesan saat dalam perjalanan pada Ega.
*ketemu di restoran, ya. Aku tunggu*
Sampai di restoran seperti biasa Ibu langsung sibuk mengecek belanjaan Mbak Tari yang selalu dipercaya Ibu belanja sehari-harinya. Rain sengaja duduk di depan restoran melihat pegawai mulai sibuk.
Ekhem, seseorang berdehem. Rain kira Ega, ternyata
"Sendiri aja anak cantik?" itulah Rehan.
__ADS_1
"Seperti yang Kakak lihat" Jawab Rain datar.
"Ibu mana?"
"Sibuk di dapur." Rain masih tak berekspresi.
"Boleh ngobrol bentar nggak?" Tanya Rehan duduk di sebelah Rain.
"Yaudah ngomong aja!" Rain ketus.
"Di taman depan, yuk" ajak Rehan.
"Di sini aja!" Rain mulai risih.
Rain berfikir sebentar, lebih baik dituruti asal tidak mengganggu lagi.
"Yaudah ayo, nggak usah lama." Rain segera beranjak.
Setibanya di taman mereka duduk di kursi, Rain menjaga jarak.
"Ayo bicara!" titah Rain.
__ADS_1
Rehan menghela nafas panjang.
"Rain, kenapa sih Kamu nggak pernah ngertiin perasaan Aku? berkali-kali Aku nembak Kamu selalu aja nolak dan sekarang tiba-tiba pacaran sama cowok nggak jelas. Apa sih lebihnya Dia?"
Jleb, Rain rasanya dipanah ribuan tombak tepat di hatinya.
"Kalau Kakak cuma mau bicara itu, Aku pergi saja!" Rain merasakan matanya panas. Dia tidak suka Ega nya dikatai cowok nggak jelas. Rain berdiri namun belum sempat melangkah Rehan menarik tangannya kuat dan kasar membuat Rain kembali duduk. Rain mulai takut.
"Jangan macem-macem Kak!" Tegas Rain.
"Di mana saja cowok sialan itu menyentuhmu? di sini?" Rehan menunjuk dahi Rain. Rain menepis tangan Rehan.
"Sekali saja, Rain. Biar Aku merasakan apa yang cowok itu rasakan. Atau bahkan kalian pernah melakukannya?" Tanya Rehan menatap liar Rain.
Rain mendorong Rehan dan segera berdiri. Tapi lagi-lagi Rehan dengan kuat mencengkram tangan Rain membalikan tubuh Rain ke hadapannya. Rain menunduk, dalam hati Dia terus memanggil nama Ega. Rehan hendak menyentuh pipi Rain namun segera ditepis oleh Rain.
"Ooh Kamu mau langsung di sini?" Tanya Rehan hendak menyentuh Bibir Rain dan lagi-lagi ditepis.
Rain berontak, Dia berlari. Namun, Rehan malah mendorong tubuh mungil itu sampai tersungkur. Rain mulai menangis, tenggorokannya sakit. Rehan tertawa jahat. Rain hendak berdiri namun dengan cepat Rehan mengijak tangan Rain dan menjambak rambutnya. Rain merintih kesakitan.
Rehan meraih dagu Rain mendekatkan bibirnya ke bibir Rain. Namun, tiba-tiba seseorang dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Rehan hingga tersungkur. Sela. Dia datang tepat waktu. Sela membantu Rain berdiri.
__ADS_1
Rehan gagal. Rehan segera berdiri dan berlari karena tidak mungkin lagi menyentuh Rain dengan adanya Sela. Rain menangis sejadi-jadinya. punggung tangannya merah, lecet. Sela memapahnya untuk kembali ke restoran.