
Seperti biasa pagi-pagi sekali Rain sudah rapi. Hari ini Dia membuat bubur ayam, ini untuk pertama kalinya. Rain sudah menyiapkan tiga mangkuk bubur itu di meja makan sebelum tadi mandi.
Derap langkah Ega menuruni anak tangga membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ega sampai di ruang makan dengan masih mengenakan baju rumahan, sepertinya belum mandi.
"Mas, Kamu belum mandi?" Tanya Rain melihat penampilan Ega dari atas sampai bawah. Ega hanya menggeleng seraya tersenyum lalu duduk. Rain ikut duduk disusul Bibi yang baru datang juga ikut duduk.
"Mas, koq jorok sih. Masa belum mandi mau makan?" Rain merengek, lupa kalau Ega masih mendendam.
"Cerewet banget sih, Ibu Guru". Ujar Ega menyuapkan buburnya dan langsung melotot
"Ini bubur yang biasa beli bukan?"
"Bukan, kenapa?" Tanya Rain yang ikut-ikutan menyuapkan bubur ke dalam mulut.
"Besok beli lagi yang ini, sore ini juga deh". jawab Ega kembali menyuapkan bubur itu.
"Nggak, bisa. Besok menunya ganti". Ujar Rain menambahkan kecap manis pada buburnya.
"Ini enak banget Rain, kenalin Aku sama penjualnya. Nanti Aku kasih dia hadiah" Seru Ega terus melahap buburnya. Rain hanya menggeleng tak menjawab.
Setelah sama-sama menghabiskan buburnya, Rain berdiri lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Ega. Ega yang melihatnya merasa kebingungan.
"Kenapa Rain?"
__ADS_1
"Katanya mau kenalan sama pembuat bubur? Ayo kenalan sekarang. Si pembuat bubur ini sibuk!" Seru Rain sambil menggerak-gerakkan tangannya.
Ega ikut berdiri dan mendekatkan tubuhnya ke hadapan Rain. Lalu dijabatnya tangan Rain dan dengan lembut menarik tubuh Rain ke dalam pelukkannya lalu berbisik
"Makasih, ya. Ini bubur terenak yang Aku makan". Ega mengurai pelukkannya dan dengan gerakkan cepat mengecup pipi Rain singkat lalu berlari menuju tangga.
"Maass, Kamu kan belum mandi!" teriak Rain membuat Ega berhenti lalu menoleh le arah Rain dari arah tangga
"Tunggu ya, Aku antar Kamu ke sekolah" Teriak Ega seraya mengedipkan mata lalu berjalan dengan langkah besar menuju kamarnya.
Rain kembali duduk sambil memegangi pipinya dan berkata
"Bi, ini bukan mimpi kan?"
"Bukan, Neng. Ini teh jawaban dari setiap do'a istri solehah" Jawab Bibi dengan mata berkaca-kaca. Untuk beberapa saat Rain terpaku sambil mengusap-usap pipinya yang dicium Ega.
Pagi itu untuk pertama kalinya Ega mengantar Rain ke sekolah tempatnya bekerja. Mobil Ega memasuki halaman sekolah dan Ega memarkirkannya dengan rapi di tempat yang sudah di sediakan.
"Kamu pulang jam berapa?" Tanya Ega saat Rain melepas sabuk pengamannya.
"Biasanya jam satu siang Mas". Jawab Rain membetulkan letak hijaabnya yang memang rapi.
"Aku pengen lihat Kamu mengajar, Aku tunggu ya sampai Kamu pulang?" Tanya Ega menatap dalam ke arah Rain. Rain mengerenyitkan dahi
__ADS_1
"Nunggu sampai jam satu tuh lama lho sekarang baru jam tujuh, emang Mas nggak kuliah?"
"Aku ada kelas jam dua" Jawab Ega seraya merapikan rambutnya.
"Ya udah gimana Mas aja, Aku turun ya?" Rain bersiap-siap turun namun Ega menarik tangannya.
"Rain, kan baru jam tujuh. Di sini aja dulu ngobrol"
Rain kembali ke posisi awal. Tangannya masih dipegang oleh Ega. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang, padahal tadi biasa saja. Pipinya rasanya panas sekali namun telapak tangannya tiba-tiba dingin.
"Kamu koq gugup, Rain?" Tanya Ega menelisik wajah Rain.
"Aku cuma inget masa-masa Kita dulu Mas. Kita kan sering kaya gini di dalem mobil" Rain tertawa kecil membayangkan kejadian saat mereka masih mengenakan seragam putih abu.
"Kamu nggak lupa sama semua itu?" Tanya Ega yang masih menggenggam tangan Rain.
"Mana ada Aku lupa, Mas. Bahkan Aku selalu mengingat setiap kejadian yang kita lewati"
"Ingat yang baik-baiknya aja, Rain". Ujar Ega tanpa melepaskan pandangannya dari Rain.
"Kamu pacar terbaik yang pernah ada, Mas" jawab Rain menatap balik Ega dengan air mata yang sudah menggenang.
Ega segera mengambil tisu dan mengusap mata Rain sebelum air mata itu tumpah.
__ADS_1
"Jangan nangis, Bu Guru cantik. Aku janji, Aku akan segera mendapatkan jawabannya"
Rain tersenyum seraya mengangguk, baru saja Ega hendak meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukkannya bel tanda masuk berbunyi merusak momen mereka. Rain dan Ega tertawa bersama. Lalu keduanya keluar dari mobil tanpa berbicara satu sama lain.