Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Pilihan Kebaya


__ADS_3

Hari kelulusan pun tiba. semua murid bersorak gembira melihat di papan pengumuman bahwa semua murid lulus. Namun, tentang nilai tertinggi tahun ini masih dirahasiakan karena akan diumumkan besok saat acara pelulusan sekaligus perpisahan.


Tidak seperti murid lain, Rain mengajak Ega untuk segera pulang. Rain tidak pernah memiliki teman dekat selain Sela. Jadi, acara saling mencoret seragampun tidaklah menarik untuk Rain.


Saat di parkiran Rain dan Ega bertemu dengan Sela yang sedang bicara dengan Rehan.


"Sela!" Sapa Rain.


"Rain, Gue pasti kangen banget nanti sama lo!" Seru Sela, lalu keduanya berpelukan sejenak.


"Lo jadi kuliah di Malaysia?" Tanya Rain.


"LDR, dong!?" Kata Ega ikut bicara.


"Malaysia deket bro" Sahut Rehan seraya memeluk pinggang Sela.


Lalu mereka tertawa bersama.


"Lo besok didandanin siapa, Rain?" Tanya Sela.


"Di salon deket restoran Ibu, sekalian sewa kebayanya." Sahut Rain.


"Ya udah, Kita duluan ya. Aku udah ditungguin Ibu soalnya." Kata Rain, seperti sudah dikomando Ega segera mengambil mobil di parkiran dan kembali melaju setelah Rain duduk manis.


"Kamu ada janji Apa sama Ibu?" Tanya Ega memandang lurus ke depan.


"Aku sama Ibu mau ke salon sewa kebaya buat besok." Jawab Rain merasakan angin sejuk menerpa pipinya.

__ADS_1


"Kenapa nggak beli aja? Aku yang beliin." Kata Ega menoleh ke arah Rain yang memejamkan matanya.


"Mubazir, buat apa beli. Nanti buat akad baru beli." Jawab Rain tanpa membuka mata.


"Kamu kalau lagi merem tingkat kecantikannya berkali-kali lipat loh. Aku jadi nggak sabar liat Kamu tiap malem merem gitu." Kata Ega yang tidak dihiraukan oleh Rain.


*le*bih baik pura-pura tidur daripada ngeladenin omongannya yang ngaco, batin Rain.


"Koq nggak jawab!" seru Ega.


"Yaah Dia malah tidur" Kata Ega lagi memukul stirnya.


Rain dalam hati bersorak, 'rasakan, aku kerjain'.


Alih-alih mengerjai Ega, ternyata Rain malah benar-benar terlelap. Sampai di depan restoran Ibu, Rain masih belum terjaga.


"Sayang, bangun. Nyampe nih!" Ujar Ega mengelus-elus pipi mulus Rain.


"Maaf, ketiduran." ucap Rain dengan suara khas bangun tidur yang terdengar manja.


"Suaranya seksi banget sih, bikin... " Belum sempat Ega melanjutkan kalimatnya Rain dengan sengaja mengibaskan kain penutup kakinya ke muka Ega dan keluar mobil tanpa sepatah katapun.


"Pengen cium" Gumam Ega sambil tertawa melihat tingkah calon istrinya itu.


Rain segera menemui Ibu di ruangannya.


"Kamu sendiri?" Tanya Ibu setelah Rain mencium tangan Ibunya.

__ADS_1


"Sama Ega, Aku tinggalin." Jawab Rain seraya tertawa kecil.


"Anak orang maen tinggal aja, yaudah Ayo Kita ke salon. Jalan kaki aja." Kata Ibu. Saat Rain dan Ibu beranjak Ega sudah sampai mulut pintu.


"Mau ikut nggak ke salon?" tanya Rain pada Ega.


"Ikut ajalah, daripada nanti riweuh nelpon!" Kata Ibu sambi berlalu. Ibu sudah mulai tertular Bibi rupanya, bisa bahasa sunda.


Rain tertawa sementara Ega hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu keduanya jalan beriringan menyusul Ibu. Salonnya memang dekat, hanya terhalang dua ruko dari restoran Ibu.


Begitu sampai Rain langsung memilih-milih kebaya bersama Ibu. Ega terus menguntit Rain.


"Jangan yang dadanya terbuka," ucap Ega saat Rain memegang kebaya warna lilac yang menurut Rain sangat lucu.


"Iya, itu memang agak terbuka di bagian dada" Ucap Kak Dona, pemilik salon. Ibu dan Rain saling pandang.


"Pilihkan yang dadanya tertutup, terus jangan yang ketat. Lalu jangan yang pundaknya kelihatan dan jangan yang transparan" Kata Ega pada Kak Dona membuat Ibu dan Ralin melongo saling pandang. Kak Dona tersenyum dan mengerti keinginan Ega.


"Baiklah, yang dadanya tertutup, tidak menampakan pundak itu ada. Tapi, semua kebaya di sini itu memang ketat, pas di badan. "


"Ya udah ngga apa-apa, yang penting jangan terlihat dadanya" Sahut Ega. Rain masih melongo sementara Ibu dan Kak Dona segera berlalu sambil tertawa.


Setelah selesai memilih kebaya dan membuat janji agar Kak Dona besok setelah shubuh diminta untuk ke rumah Rain, mereka bertiga meninggalkan salon itu.


Ketiganya berjalan beriringan tanpa berbincang, hanya naluri masing-masing yang berbicara.


Keputusannku tidak salah, Ega terlihat sangat mencintai Rain, batin Ibu.

__ADS_1


Ega, semoga cinta Kamu tetap seperti itu, batin Rain.


Mmaaf Sayang, Aku memang overprotective. Aku terlalu mencintaimu' batin Ega.


__ADS_2