
Sudah sejak pukul 04:00 setelah tahajud Rain berkutat di dapur menghias cake. Bibirnya tak lepas dari senyuman tipis saat tangan mungilnya cekatan melakukan langkah demi langkah menghias cake itu.
Tepat adzan shubuh saat Rain memberikan sentuhan terakhir untuk cake nya. Rain menyimpan cake itu di lemari pendingin sebelum bersiap sholat. Selesai sholat, ponselnya berdering menandakan panggilan dari Ega. Rain tersenyum nakal sebelum mengangkat panggilan itu.
"Yang, Kamu dari malem cuekin Aku lho." Suara Ega berteriak di seberang sana.
"Waalaikumsalaam..." Rain malah tertawa kecil. Ega kesal sekali sebenarnya. Dia menahan nafas dan mengatur emosinya.
"Bii, kalau telpon itu ucap salam dulu!" Rain sengaja melembutkan suaranya. Baiklah, Ega kalah.
"Maaf Yang, aku cuma kangen." Ega ikut bicara lembut.
"Udah sholat?" Tanya Rain.
"Udah."
"Alhamdullillah"
"Hari ini ada acara?"
"Ada, Aku mau bantu Ibu ngurus katering."
"Aku mau ngajak Kamu jalan tadinya"
"Maaf ya, nggak bisa"
"Ya udah"
"Aku tutup ya!"
"Ya!"
Kyaaa! Rain berhasil membuat Ega kesal. Ega membanting ponselnya ke atas kasur dan segera berbaring mengacak rambut. Rain, Kamu lupa ini hari apa?
__ADS_1
Sementara itu selesai mematikan ponsel Rain segera mandi. Dia mematut dirinya di cermin. Hari ini Rain akan berdandan cantik Rain sengaja memoles bibirbya dengan warna pink membuat wajahnya semakin segar. Rain mengenakan dress selutut warna pink yang sangat pas di tubuhnya.
Ok, hari ini utuk pertama kalinya Rain memakai parfum beraroma vanila. Penampilannya sungguh berbeda dari biasa, Rain terlihat dewasa. Merasa cukup puas dengan penampilannya, Rain segera berangkat ke rumah Ega membawa cake. Tidak tega rasanya terlalu lama mengerjai Ega.
******
Setelah tiba di depan rumah Ega, Rain mengatur nafasnya. Jantungnya masih saja tidak bisa berdetak normal jika bertemu Ega.
Sekali menekan bel Bibi langsung membuka pintu. Rain tersenyum mengucap salam dan mencium tangan Bibi. Mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Bibi udah bikin sarapan?" tanya Rain.
"Belum neng, baru aja Bibi mau ke luar beli bubur." Jawab Bibi cengengesan.
"Jangan beli bubur, nanti Rain aja yang bikin sarapan!" kata Rain.
"Nasi goreng ya neng, nanti Bibi siapin bahannya." Ujar Bibi semangat.
"Ok, Rain ke kamar Ega dulu ya!" seru Rain seraya berlalu membawa cake yang sebelumnya sudah Rain keluarkan dari kotak. Dengan senyum mengembang Rain mengetuk pintu.
ceklek, pintu terbuka.
"Selamat ulang tahun, Bi. I Love you!" Seru Rain sengaja menutup wajahnya dengan cake. Ega tertegun sejenak menepuk-nepuk pipinya.
"Bii, Kamu nggak mimpi." Rain tertawa kecil melihat tingkah Ega.
"Yang, tadi Kamu bilang kan... " Ega menggantung kata-katanya.
"Kejutaaan!" Teriak Rain kencang.
Ega tertawa hendak memeluk Rain, namun Rain mendorong tubuhnya.
"Iiih nggak mau dipeluk kalo belum mandi!"
__ADS_1
"Ok, Aku mandi dulu." Ega segera ke kamar mandi.
Sementara Rain kembali ke bawah, meletakkan cake di meja makan lalu ke dapur membuat nasi goreng. Ternyata Bibi sudah memotong-motong sosis, bakso dan sayuran. Rain tinggal mengolahnya.
Selesai mandi Ega turun ke bawah bersamaan dengan Rain yang sedang menata nasi goreng di meja lengkap dengan teh manis hangat.
"Masak apa Yang?" tanya Ega sambil duduk.
"Nasi goreng, Bibi yang minta. Soalnya ketagihan." Bibi dengan cekatan menjawab.
Rain hanya tersenyum seraya duduk.
"Ayo, kalian makan dulu!" Kata Rain.
Tanpa menjawab Ega dan Bibi segera melahap nasi goreng itu tanpa suara. Rain hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
Dalam sekejap nasi goreng itu habis.
"Bibi aja yang beresin, Neng!" Kata Bibi merapikan piring kotor.
"Makasih, Bibii!" Seru Rain.
"Ayo kita duduk di sofa sana!" Ajak Rain pada Ega seraya membawa cake tadi. Ega mengikutinya dari belakang.
Mereka duduk berdampingan.
"Koq nggak ada lilinnya?" Tanya Ega.
"Sengaja, lagian bukan dede-dede lagi kan. Tapi, calon Abbi." Jawab Rain tertawa kecil. Ega menyentil hidung Rain pelan.
"Maaf ya, nggak bisa kasih kejutan yang waah. Nggak bisa juga bikin yang romantis. Cuma kaya gini doang." Ucap Rain menatap dalam Ega.
Ega tak menjawab, hanya dengan cepat mendekap tubuh mungil Rain. Rain membalas pelukan itu tulus. Aroma tubuh Rain begitu segar dihirup Ega. Rain terus mengusap sayang punggung Ega. Ada perasaan hangat di hati Ega. Rasanya tak ingin lagi dia melepas pelukan itu.
__ADS_1