Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
END


__ADS_3

Tenang, setelah ini kubuatkan extra chapternya ya.


****


Rain memeluk suaminya itu seraya mencium pucuk kepalanya.


"Maaf ya, Mas. Aku baru bisa bilang sekarang. Aku pasti udah banyak banget nyusahin Kamu selama hamil dan ngurus Kaf. Makasih buat semuanya". Rain mengurai pelukkannya lalu mencium kening suaminua, lama. Sampai Ega merasakan desiran hebat di hatinya. Rasanya sudah lama mereka tidak memiliki waktu berdua seperti ini.


"Itu udah kewajibanku. Justru Aku yang minta maaf suka bikin kesel bikin kamu marah-marah" Ega berdiri lalu mencium kening Rain, dan lama.


Ceklek. Pintu di buka oleh Ibu yang membawa Kaf dalam gendongannya.


"Eeh maaf, Ibu pikir kalian nggak lagi.. Ibu gelagapan tak dapat meneeuskan kalimatnya. Raib segera berlari menghampiri Ibu.


"Nggak apa-apa Bu. Justru Rain yang harusnya minta maaf karena ngebiarin Kaf terlalu lama sama Ibu". Rain berusaha mengambil Kaf dari gendongan Ibu namun Kaf malah menepis tangan Rain.


"Kaf, sama Bunda ya?" Rain berusaha mengambil alih Kaf.


"Sudah biarkan, Ibu cuman minta baju ganti Kaf. Basah semua ini habis mamam Jeruk".


Terlihat baju Kaf memang basah dan penuh noda orange bekas Jeruk.


Ega dengan sigap mengambil setelan baju tidur Kaf di dalam lemari lalu mendekat ke arah Ibu dan Rain.


"Sama Baba ya pakai bajunya, Eninnya capek lho". Ega merentangkan tangannya namun Kaf malah mengibaskan tangannya.


"No no no Baba". Ega tertawa melihat tingkah anaknya.


"Sudah, biar Ibu saja yang urus. Kalian teruskan saja yang tadi. Mungkin sudah bisa nih dikasih adik". Celoteh Ibu seraya mengambil baju Kaf dari tangan Ega dan kembali keluar sambil menutup pintu. Ega dan Rain malah tertawa.


"Ibu pengertian banget ya". Ujar Ega yang langsung dapat pukulan keras di lengannya dari Rain.

__ADS_1


🍂🍂🍂


Rain kembali masuk ke kamarnya tanpa berhasil membujuk Kaf yang ingin tidue bersama Eninnya.


"Lho, Kaf nya mana Sayang". Ega yang sedang berbaring sambil memainkan ponsel duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


"Kaf nya tidur sama Enin. Tadi nangis nggak mau digendong Bunda. Tapi stok ASInya udah banyak. Tadi sempet pumping juga". Rain merebahkan diri di samping suaminya.


"Capek banget ya ngurus Kaf sendirian, mau ku suruh pegawai restoran buat bantuin?" Ega memijat punggung istrinya.


"Nggak usah, Mas. Ini hanya terjadi sekali dalam hidupku. Aku nggak capek koq lagian ada Bibi juga Ibu. Tante Alis sama Kakek juga kadang bantuin". Rain menarik tangan Ega agar tidur di sampingnya.


"Sholat dulu, yuk. Udah lama banget lho Sayang. Aku sampe lupa kapan terakhir kita bisa kaya gitu". Ega berbisik di telinga Rain.


"Ya udah ayo" Rain beranjak duluan dari tempat tidurnya. Ega tersenyum bahagia mengikuti langkah istrinya.


🍂🍂🍂


Sore itu senja kembali hadir dengan indahnya. Semburat jingga merahnya terukir sempurna di langit membuat siapa saja akan tersenyum senang melihatnya.


"Nah, kalau langit warnanya orange gitu namanya senja. Senja nya cantik kan?" Rain menunjuk pada langit dan Kaf ikut-ikutan menunjuk.


"Hai senja, Aku kenalkan pada putraku. Namanya Ahmad Sakaf. Aku menyayanginya dengan seluruh hidupku. Hidupku kini lengkap senja. Kamu tak perlu lagi melihatku menangis dan meminta Ibuku untuk cepat pulang".


Ega tersenyum, mengelus pipi Rain yang terlihat lebih berisi. Wajahnya sekarang sudah lebih terlihat dewasa.


"Hai senja. Terimakasih selama ini sudah menjaga jodohku. Terimakasih telah menemani hari-harinya. Salamku untuk Sang penciptamu. Terimakasih untuk segala kehidupan yang bahagia ini. Maaf dulu pernah menyakitinya. Aku menyayangi Rain dan Kaf melebihi diriku sendiri tanpa mengurangi cintaku pada Sang pencipta Kita".


Rain dibuat terperangah karena Ega ikut menyapa senjanya. Ega hanya tersenyum tipis dipandang oleh istrinya yang tanpa mengedipkan matanya.


"Udah jangan di pandang terus, diliatin pengunjung yang lagi foto-foto tuh". Ega menunjuk beberapa orang remaja tanggung sedang berada di sekitaran kebun teh dan mengambil gambar senja yang sore ini sempurna sekali jingga indahnya.

__ADS_1


Kaf ikut-ikutan menunjuk orang-orang di sekitarnya dengan mulut tak berhenti mengoceh


"Tuh tuh tuh".


"Ya sudah, lihat senja nya udah ya. Kita siap-siap sholat magrib".


"Kaf digendong Baba ya". Kaf mengangguk merentangkan tangannya menunggu diraih Ega. Ega berjalan dengan sebelah tangan mengendong Kaf dan sebelah lagi menggandeng istrinya.


Kaf sudah tertidur pulas setelah Rain memberinya ASI selama 30 menit. Kaf memang selalu lama saat menyusu pada Ibunya. Terkadang Rain sampai ikut tertidur saat menyusui putranya itu. Setelah Ega melayangkan protesnya beberapa waktu lalu. Kini mereka sengaja mengganti tempat tidurnya dengan tempat tidur baru yang memiliki pinggiran agar Kaf dapat tidur di pinggir dan Rain di tengah. Itu solusi dari Rain agar dapat dengan adil berada di tengah di antara suami dan anaknya. Rain mencium kening putranya lalu membetulkan letak selimutnya.


Ega yanh baru selesai mengerjakan sesuatu di laptopnya segera beranjak ke tempat tidur lalu mengecup sekilas kening putranya.


"Selamat tidur sayang". Ucapnya lalu beranjak ke samping istrinya.


"Bundanya juga bobo dong, atau mau melakukan dulu sesuatu?" Goda Ega seraya menciumi pipi Rain berkali-kali.


"Udah ahh, nanti Kaf bangun kalau berisik terus". Rain menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Makasih ya Sayang, sudah mau menerimaku kembali. Aku pernah salah dan mengedepankan egoku tapu Kamu tetap sabar dan bertahan. Aku ingin selalu menatapmu sebelum tidur dan melihatmu saat bangun tidur". Ega membawa istrinya ke dalam pelukkannya.


"Iya, Aku juga terimakasih Kamu udah selalu memberiku yang terbaik. Jadi sekarang nggak nyesel lagi kan karena terlahir sebagai putra Mama dan Papa?" Rain mengusap punggung suaminya.


"Bahkan jika ada revisi, Aku akan merevisi bagian itu dalam hidupku" Ega tertawa lirih.


"Kita berangkat dari luka dan kesepian yang sama, dan kini saatnya Kita berusaha agar Kaf tidak merasakan hal yang sama. Kita isi hari-hari Kaf dengan kasih sayang Kita". Rain mengeratkan pelukkannya.


Sesal tiada arti, sebab hidup bukan untuk diratapi tapi untuk dijalani. Rain dan Ragga adalah bentuk dari kisah cinta anak remaja yang penuh gelora. Mereka memutuskan sesuatu yang besar dengan pernikahan di usia muda. Cobaan datang tidak main-main lewat cerita masa lalu orangtua.


Semua dendam sudah selesai namun inilah kisah awal dari Ragga dan Rain sesungguhnya. Menjadi orangtua dan berumah tangga adalah perjalanan ibadah yang panjang. Setiap harinya adalah pelajaran sekaligus pengamalan. Dua insan usia muda yang masih haus akan waktu berdua. Berusaha memberikan limpahan kasih sayang pada putra mereka sebab tak ingin putranya merasakan hal yang sama.


Biarlah waktu menuntun mereka pada kekekalan. Berharap akan ada lagi waktu bersama di masa nanti walau sadar diri hanyalah sama-sama pendosa.

__ADS_1


END.


Terimakasih sudah setia membaca. Nantikan next extra chapternya ya.


__ADS_2