Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Ini Ujian


__ADS_3

Selama Ujian ini Rain benar-benar fokus belajar. Rain dan Ega jarang mengobrol bahkan hampir tidak pernah. Rain pun tidak pernah menerima panggilan Ega. Pesan-pesan Ega pun tidak Rain baca.


Ega sebenarnya sudah geram dan sangat rindu pada kekasihnya itu. Tapi, perjanjian tetap perjanjian. Bahkan saat memberi Ega bekalpun Rain tidak pernah bicara.


Ampun deh Gue, untung cantik dan gue cinta. Kalau nggak, udah Gue tendang loe ke planet mars. Batin Ega saat bertemu Rain di parkiran dan Rain mengabaikan sapaannya seperti tidak saling mengenal.


Sela yang sadar akan hal itu pun merasa aneh. Sela segera mengejar Rain dan langsung bertanya


"Loe kenapa sama Ega? putus?"


"Sembarangan aja, itu mulut kalau ngomong difilter dulu lah." Rain kesal dengan ucapan Sela.


"Abisnya Gue liat beberapa hari ini Lo cuek-cuekan. Kalau Lo bosen Gua bersedia nampung." Kata Sela terkekeh.


"Enak aja kalau ngomong, nggak ada ya Aku bosen sama Ega." Rain menyentil kuping Sela.


"Terus kenapa?" tanya Sela penasaran.


"Aku tuh sengaja biar Ega bener-bener serius ngerjain ujiannya, makanya Aku minta satu minggu ini kita nggak usah ketemu dan komunikasi dulu." Jawab Rain panjang lebar. Sela hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Tapi kalau dalam seminggu ini Ega malah kepincut adik kelas gimana?" Sela menggoda Rain.

__ADS_1


"Coba aja kalau Dia berani." Kata Rain.


"Waah kelihatannya Ega udah bertekuk lutut ya sama Lo Emang loe kasih apa sama Ega?" Bisik Sela di akhir kalimatnya.


"Gue cuma kasih CINTA." Jawab Rain seraya berlalu meninggalkan Sela karena sudah ada angkot. Sela hanya geleng-geleng mendengar jawaban Rain.


Ega dengan wajah kesal masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di samping Bibi yang sedang nonton sinetron.


"Tumben nggak pacaran?" Tanya Bibi


"Itu dia, selama seminggu ini Rain minta buat nggak ketemu dulu. Telpon nggak boleh sekedar chat nggak boleh. Kangen banget Aku Bi." Jawab Ega.


"Udah berapa hari nggak pacaran?" tanya Bibi lagi.


"Ya sabar dua hari lagi!" Seru Bibi.


"Dua hari rasanya dua tahun, oh Rain Lo bener-bener nyiksa Gue." Ega segera berlari ke kamarnya. Lebih baik mandi agar kepalanya sedikit sejuk.


****


Rain selesai shalat Ashar duduk santai sambil membaca-baca materi untuk ujian besok.

__ADS_1


"Gimana ujiannya Sayang?" Tanya Ibu yang baru pulang dari restoran.


"Lancar, Bu." Jawab Rain tersenyum manis.


"Ega koq ga anter jemput jarang main juga ke sini?" tanya Ibu lagi sambil menyeruput tehnya.


"Sengaja sih Bu Rain minta selama seminggu ini nggak ketemu atau telpon dulu. Biar sama-sama fokus belajar." Jawab Rain masih membaca.


"Kamu sayang banget ya sama Ega?" Tanya Ibu.


"Sayanglah, Bu" jawab Rain tapi masih fokus membaca.


"Apa sih yang bikin sayang?" Tanya Ibu lagi.


Rain mulai serius menjawab pertanyaan Ibu. Rain menutup bukunya.


"Ega tuh baik bu, dia tuh selalu melindungi dan ngejaga Aku banget. Walaupun bicaranya suka ngawur tapi nggak pernah macem-macem sih, Bu. Dia juga nggak banyak nuntut walaupun cemburuan sih. Ega juga nggak egois Dia selalu bisa ambil jalan tengah kalau kita lagi berselisih. Dan satu lagi sih Bu yang bikin sayang" Rain menjeda kalimatnya


"Apa?" Tanya Ibu penasaran


"Dia ganteng banget Buuu, apalagi kalo lagi nyetir," imbuh Rain seraya cekikikan sendiri membayangkan wajah Ega.

__ADS_1


Ibu tersenyum menatap putrinya itu. Bagaimanapun akhirnya Rain pasti menikah. Ibu sepertinya mulai memimirkan tentang pernikahan keduanya. Membiarkan keduanya lama-lama berpacaran juga tidak baik. Ibu sepertinya sudah mulai yakin dengan Ega, melihat Rain dan Ega yang saling mencintai.


Ibu sepertinga memang harus merelakan putri tersayangnya itu. Rain kembali membaca sementara Ibu beranjak ke belakang karena air matanya sudah mulai menggenang. Ah, Ibuuu.


__ADS_2