Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
TAMAT JANGAN?


__ADS_3

Usia kehamilan Rain sudah masuk bulan ke 9. Rain sudah mulai mengambil cuti kuliah. Ega selalu jadi suami yang paling siaga. Restoran itu juga sudah dibuka sejak dua bulan yang lalu. Lucunya belum diberi nama tapi tetap ramai pengunjung. Apalagi dengan ide dari Rain perkebunan itu dibuka untuk umum dengan catatan tidak merusak ataupun memetiknya. Sudah banyak terdapat bangku-bangku yang terbuat dari kayu di sekitaran perkebunan. Rain tidak mematok harga bagi siapa saja yang ingin masuk ke perkebunan sekedar untuk berfoto. Tapi, syaratnya hanya satu. Yaitu, makan dulu di restoran. Strategi Rain memang berhasil mengambil perhatian pengunjung. Apalagi sekarang Rain menamai perkebunan mereka dengan nama SENJA.


rain sendiri sudah memiliki spot khusus untuknya saat melihat senja datang. Sebuah kursi panjang dengan ukiran nama Ragga dan Rain yang tidak boleh diduduki siapapun.


Sore itu Rain merasakan pingganggnya sangat panas dan sakit. Namun, Dia tidak berani bilang pada siapapun karena alasan takut membuat khawatir. Ega dan Ibu yang baru kembali dari restoran mendapati kursi yang menghadap ke arah matahari terbenam itu tidak diduduki sang pemilik.


"Tumben Rain nggak duduk di sana padahal cuacanya sedang bagus". Gumam Ibu.


"Ibuuuu". Rain yang sedang berada di kamar mandi pribadinya berteriak karena melihat ada bercak darah pada celana dalamnya.


Ibu dan Ega langsung berlarian menuju kamar dan mendapati Rain sedang berdiri di kamar mandi sambil menangis.


"Ada apa, Rain?" Ibu panik.


"Sayang, Kamu kesakitan?"


Ega langsung mendekat dan mengusap perut Rain.


"Bu, perutku sakit. Mules tapi nggak keluar. Tadi ada bercak darah di celanaku. Bu Dedeknya nggak mau gerak. Bu Dedek kenapa?" Rain menangis menjatuhkan kepalanya di bahu Ega.


"Itu namanya kontraksi Nak, Ayo siapkan mobil Ga. Bawa Rain ke klinik". Ibu menarik tangan Rain untuk bersiap dan Ega segera keluar menyiapkan mobil.


"Pingganggnya panas nggak, Nak?". Ibu mengusap pinggang Rain.


"Iya, Bu. Sakit banget. Bu, ini ketubannya kayanya pecah. Tiba-tiba ada cairan keluar Bu". Rain menunjuk ke arah pahanya yang terasa basah.


Ega kembali karena khawatir istrinya masih kesakitan.


"Ayo, Sayang. Mobilnya sudah siap". Dengan sigap Ega menuntun langkah Rain. Sementara Ibu membawakan tas perlengkapan bayi yang memang sudah mereka siapkan beberapa hari lalu.


Kehamilan Rain terbilang normal dan sehat. Mereka akan mempercayakan persalinan pada seorang bidan yang berada di sebuah klinik tak jauh dari rumah.


"Jangan mengaduh sayang, Dzikir sebanyak-banyaknya". Ega mengingatkan Rain yang mulai terlihat kepayahan.


Rain menurut, bibirnya terus melafadzkan dzikir tanpa suara. Hanya lima belas menit dan mereka sudah sampai di klinik. Ega langsung berlari ke dalam meminta kursi roda dan dengan cepat segera kembali mendudukkan Rain di kursi. Ibu terus melapalkan di'a seraya mengelap keringat Rain yang bercucuran di dahi.


Rain rasanya sudah tidak bisa berkata-kata. Dzikirnya tidak Dia hentikan sampai dibaringkan di ruang persalinan oleh Bidan.


"Sedikit lagi ya, Teh. Pembukaannya sudah sempurna. Teteh atur nafas dulu". Bidan itu berusaha menenangkan Rain.


"Mas, sakit Mas". Rain membenamkan wajahnya di perut suaminya yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Ega, Ibu sholat dulu ya. Sudah magrib. Semoga Rain cepat melahirkan". Ibu merasa takut sekali melihat anaknya. Tapi Dia percayakan sepenuhnya pada Allah juga Ega yang sudah pasti lebih Rain butuhkan keberadaannya.


"Ayo, Teh. Silahkan tarik nafas lalu buang" Bidan terus berusaha menuntun proses kelahiran. Ega tak henti melafadzak dzikir dan menciumi wajah Rain.


"Ayo, Sayang. Berjuanglah. Sebentar lagi Kita bertemu Dede.


"Ayo, Teh. Silahkan lakukan lagi". Bidan lagi-lagi menuntun Rain.


"Kamu kuat Sayang". Ega mengusap kepala Rain dan mencium kening Rain sekilas.


"Sedikit lagi, Teh. Kepalanya sudah terlihat".


Rain melakukannya dalam sekali hentakan dan


"Oooeeeeeek". Bayi berjenis kelamin laki-laki itu berhasil lahir dengan selamat dan sempurna.


"Alhamdullillah".


Ucap syukur Rain Ega beserta bidan dan seorang asistennya.


"Bayinya laki-laki Teh, A". Ucap Bidan yang sudah selesai memakaikan popok pada bayi mungil yang masih merah itu.


"Tetehnya silahkan diberi minum dulu, A. Nanti saya berikan Dedenya untuk IMD". Ucap Bidan sambil menggendong Bayi Rain.


Rain menghabiskan satu botol kecil air mineral.


"Teh Rain buka dulu ya hijabnya, biar Dedeknya bisa di IMD sekarang". Bidan itu mengingatkan Rain. Rain menurut dan melepas hijabnya dibantu Ega.


"Sebaiknya di adzanin dulu, Bu". Ega mengangkat tangannya.


"Di letakan di boxnya aja, Bu. Suami Saya tidak meyakinkan deh udah bisa gendong Dedek". Ucap Rain membuat Bu Bidan dan asistennya tersenyum sementara Ega hanya nyengir kuda. Bidan segera menaruh kembali Bayi Rain ke dalam box di samping ranjang Rain. Ega dengan gemetar mendekati Bayi kecilnya yang menggeliat itu.


"Assallamuallaikum sayangnya Baba, terimakasih sudah membantu Bunda mudah melahirkan Kamu". Ega terisak. Melantunkan Adzan tepat di telinga bayinya dengan suara gemetar. Ega menangis setelah selesai mengadzani anaknya. Dia beralih mendekati istrinya.


"Terimakasih, Sayang. Ini hari yang paling membahagiakan". Ega meghujani wajah Rain dengan ciuman.


"Udah, Mas. Malu sama Bu Bidan". Rain berbisik.


"Sekali lagi" Ega mengecup sekilas bibir Rain tepat saat Ibu masuk ke dalam ruangan itu.


"Haduuh, satu saja baru lahir. Sudah mau nambah rupanya" Kelakar Ibu dan disambut tawa oleh semuanya.

__ADS_1


Bidan segera mengangkat tubuh mungil itu dan membuka sedikit popoknya untuk dilakukan IMD. Bidan meletakkan bayi Rain dengan posisi tengkurap di atas dada Rain.


"Asaallamuallaikum anak Bunda. Terimakasih sudah jadi anak baik". Rain mengusap lembut pipi putranya.


"Didekatkan ke payudara ya teh, biar Dedeknya nanti terbiasa". Ucap Bidan.


"Mas, sana Kamu keluara dulu" Rain menyuruh suaminga keluar.


"Kenapa harus keluar? Aku juga pengen lihat" Ega menggeleng tetap pada posisinya.


"Nggak boleh, Aku malu". Rain memukul lengan suaminya.


"Udah jadi bayi gini masih bilang malu?" Ega mengerenyitkan dahi, jengah dengan sikap istrinya.


"Udah dong, Ga. Kamu nggak akan bisa lawan istrimu lagipula kamu harus sholat", Ibu mengingatkan menantunya itu. Ega pun keluar dan berjalan menghentakkan kakinya.


"Sayang, terimakasih sudah kasih Ibu cucu. Selamat ya nak. Ibu tadi nggak bisa nahan nangis jadi keluar sekalian sholat". Ibu mengecup pipi Rain dan mengusap rambuy Rain halus.


"Iya, Bu. Aku paham gimana Ibu. Ini semua pasti berkat do'a Ibu juga". Rain mulai merasakan bayinya sedang menghisap ASInya. Dia tertawa.


"Pintar sekali sayang, nanti Bunda makannya yang sehat ya biar ASI Dedek jadi banyak". Rain mengusap kepala putranya penuh kasih.


"Besok lusa semoga sudah keluar ya, teh ASInya. Saya keluar dulu". Kata Bu Bidan seraya beranjak diikuti asistennya.


"Teh Rain beruntung ya, Bu. Suaminya ganteng banget dan kelihatannya sayang banget juga sabar banget ngadepin Teh Rain". Ujar Sang asisten


"Jadinya banget banget kitu nya". Sahut Bu Bidan lalu keduanua tertawa.


Kelahiran bayi laki-laki itu sungguh anugerah bagi Rain. Dia memang sangat menginginkan memiliki Bayi laki-laki sebagai anak pertamanya. Rain terus mengukir senyuman melihat bayi yang tengkurap di dadanya itu menggeliat dan menggerak-gerakkan tangannya.


"Hiduplah dengan bahagia, Sayang. Bunda akan selalu di samping Dedek".


.


.


.


Belum tamat koq, kan belum dikasih nama.


LIKE, KOMEN DAN VOTE nya ya bila ada poin lebih

__ADS_1


__ADS_2