Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Lamaran Mencekam


__ADS_3

lHari itu Ibu sengaja tidak ke restoran. Bahkan Ibu meminta salah satu karyawannya untuk membantu memasak di rumah.


"Bu, mereka tuh cuma bertiga. Nggak perlu lah masak sebanyak ini" Rain kaget melihat di dapur sudah banyak sekali bahan masakan.


"Ini yang mau datang kan tamu spesial, Nak" Ibu yang sedang mencuci buah berkata tanpa menoleh ke arah Rain.


Rain kembali ke kamarnya dan duduk di meja rias. Melihat pantulan dirinya di cermin. Tersenyum sambil mencubit pipinya sendiri.


Rasanya kenapa mau meledak gini ya? Rain memegangi dadanya yang terus berdebar. Dipandangi bingkai poto yang ada di depannya. Mengusap sayang pada wajah Ega di poto itu.


Tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk menikah secepat ini. Dulu yang ada di pikirannya setelah lulus sekolah itu, Rain ingin melanjutkan kuliah keguruan seperti yang telah jadi cita-citanya sejak kecil. Namun, bukankah jodoh itu rahasia Tuhan sang pemilik skenario kehidupan?


***********


Deru suara mobil Ega membuat Rain yang baru saja selesai menata hidangan di meja makan membuat jantungnya berdetak lebih cepat lagi


Nggak bisa diajak kompromi banget sih, ni jantung!


Rutuk Rain seraya merapikan penampilannya.


Sementara Bibi yang sudah datang dari sore memilih berdiam saja di kamar Rain.


Ibu di kamar masih siap-siap. Rain segera ke depan saat Ega terdengar mengucap salam.


"Cantik banget sih!" Seru Ega membuat Rain tersenyum simpul.


Pak Rakha dan Mawar tak lama datang. Rain segera menyalami calon mertuanya itu lalu mempersilahkan duduk.


"Waah rupanya tamu istimewa sudah datang!" seru Ibu yang baru keluar dari kamarnya.


Ibu duduk di samping Rain.


"Kenalkan, Bu. Ini Papa saya" Ucap Ega.

__ADS_1


Ibu dan Pak Rakha saling menatap.


Deg!


Ibu dan Pak Rakha saling berjabat tangan. Lalu, Pak Rakha membuka pembicaraan


"Baiklah Ibu.. Pak Rakha menjeda kalimatnya


"Yana, panggil saja Yana," ucap Ibu dengan suara bergetar.


"Bu Yana, kedatangan Saya kemari adalah ingin melamar Nak Rain untuk menjadi istri bagi anak Saya, Ragga".


Ibu menghena nafas panjang.


"Sebelum Kami menjawab, Saya pamit bicara empat mata dengan putri Saya bisa?"


"Silahkan, Bu" Jawab Ega.


"Baiklah, mohon maaf. Silahkan sambil menunggu bisa dinikmati hidangnya" Ibu segera beranjak dan diikuti Rain.


"Rain, apa Kamu mengenal baik siapa Pak Rakha itu?" Tanya Ibu serius.


"Rain hanya sempat beberapa kali bertemu, Bu. Selama ini Mas kan nggak serumah sama Papanya. Pak Rakha selalu memperlakukan Rain dengan baik, koq" Jawab Rain.


"Kamu yakin Mas mu itu bisa membuatmu bahagia?"


Tanya Ibu mencengkram lengan Rain.


Rain hanya mengangguk.


"Baik, panggilkan Mas mu itu kemari!" Seru Ibu memijit dahinya.


Tak lama Rain dan Ega datang.

__ADS_1


"Ragga Hadiwijaya, apa Kamu yakin akan menikahi putri Saya. Saya hanya takut pada akhirnya Kalian hanya akan saling menyakiti." Kata Ibu dengan berkaca-kaca.


"Bu, bukankah Kita udah bahas ini sebelumnya" Rain menyahuti pertanyaan Ibu.


"Ibu tanya Mas mu, Kamu diam!" Ibu memperingati Rain dengan bibir bergetar.


"Saya yakin, Bu. Saya mencintai Rain. Kami akan bahagia." Jawab Ega tanpa keraguan.


"Kamu tidak akan terpengaruh oleh siapapun yang bicara buruk tentang Rain? Kamu akan selalu setia dan percaya pada Anakku?" Ibu mendongakan mata menahan tangisannya.


"Tentu, Bu" Ega menatap Ibu berusaha meyakinkan.


Mereka bertiga kembali ke ruang tamu menemui Pak Rakha dan Mawar. Setelah ketiganya duduk, Ibu membuka pembicaraan.


"Baik, Pak Rakha yang terhormat" Ibu bicara penuh penekanan dengan suara bergetar.


"Saya terima lamaran putra Anda untuk putri Saya, Rain Khadija"


"Alhamdullillah" Ega dan Rain mengucap syukur bersamaan.


Sementara Mawar mendengus kesal. Pak Rakha menghela nafas pelan.


"Saya ingin diadakan akad saja dulu dan dihadiri keluarga inti saja, dan Saya minta akad diadakan Tiga hari setelah hari ini" Tukas Pak Rakha membuat semuanya keheranan dan saling melempar pandangan.


"Saya tidak suka dibantah" Lanjut Pak Rakha membuka kancing jasnya


Masih saja sombongmu itu Kau pelihara, awas saja Kau menyakiti putriku. Batin Ibu.


Akhirnya Aku menemukanmu, Zein. Kali ini Tidak akan kulepaskan. Pak Rakha menyeringai.


Akhirnya Mereka sepakat akan mengadakan akad nikah tiga hari lagi. Mereka makan malam dengan suasana canggung dan dingin. Pak Rakha dan Mawar mohon pamit terlebih dahulu sementara Ega tetap tinggal.


Ibu menatap kepergian Pak Rakha dengan berjuta rasa yang tak karuan. Sudahlah, dada Ibu penuh sesak dan kamar menjadi pilihan Ibu untuk menumpahkan segala rasa.

__ADS_1


Rain hanya menyadari itu sebagai bentuk kesedihan Ibu karena akan melepas anak gadisnya.


__ADS_2