
Woke, boleh kita kenalan di iegeh juga? Anisa_Harir nungguin yaa. Aku minta lagi LIKE, KOMEN dan VOTE kalau ada poin lebih yaa. Menjelang episode terakhir. Nanti kubuat novel baru dengan judul KIBLAT CINTA BUMI
🍂🍂🍂🍂
Waktu memang selalu berputar tanpa menunggu sang pemain sandiwara kehidupan walau hanya sekedar untuk buang angin. Rain, Ibu, Bibi dan tentu saja Ega sudah sampai di rumah impian Rain itu. Pembangunan restorannya pun sudah masuk tahap finishing. Rain mengembangkan senyum saat rumput-rumput hijau itu menyambut kedatangan mereka sebagai penghuni baru, bukan sebagai tamu.
"Mas, boleh ke tengah sana sebentar? Aku mau bertemu senja!" Ucap Rain menunjuk hamparan kebun teh yang tetap sama seperti terakhir ditinggalkan.
"Untuk apa bertanya jika bisaku cuma berkata iya atas segala hal yang Kamu pinta?. Hati-hati, nanti ku susul". Ega menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lalu membawa dua buah kopee ke dalam rumah diikuti Bibi dan Ibu.
"Kamu terlalu memanjakan Rain" Ujar Ibu saat mereka tiba di ruang tamu dan disambut Alis dan Mang Odang.
"Siapa yang terlalu dimanjakan?" Tanya Mang Odang.
"Ituloh Mang, Ega terlalu memanjakan Rain. Semua keinginannya dituruti". Jawab Ibu lalu menarik lengan Bibi dan memperkenalkan pada Mang Odang dan Alis.
"Ini dia yang merawat Aa sejak bayi. Panggil saja Bibi". Kata Ibu membuat ketiga orang ini bersalaman secara bergantian.
"Wajar saja kalau Aa memanjakan istrinya, kan sedang hamil. Semua lelaki pasti begitu saat istrinya hamil". Alis menengahi.
"Sayangnya Aku tidak merasakan itu". Ibu dengan raut sedihnya tersenyum kecil.
🍂🍂🍂
Pagi itu Ibu dan Bibi ikut berbaur memetik teh bersama para warga yang lainnya. Ibu tersenyum bahagia dan tangannya masih cekatan memetik pucuk-pucuk menghijau itu.
"Bu, Rain berangkat ya". Rain melambaikan tangannya dan hanya dibalaa oleh Ibu dengan mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi.
Rain dan suaminya kini satu kampus walau beda jurusan. Mual muntah yang sudah hilang sejak pertama pindah ke rumah yang selalu sejuk dan ramai oleh gelak tawa itu.
"Seneng deh bisa satu kampus, bisa saling menjaga". Rain membuka pembicaraan saat mobil mereka keluar dari area perkebunan dan memasuki jalan utama menuju kampus.
"Lucu ya, ada ibu-ibu hamil muda tapi wajahnya masih imut". Ega terrawa kecil melihat perut istrinya yang membuncit dengan usia kehamilan 6 bulan.
"Nanti kalau Dedek sudah besar orang-orang mikirnya Aku Kakaknya". Rain melirik genit ke suaminya.
"Enak aja, nggak bisa kaya gitu. Nanti Aku kasih stempel istri orang di jidat Kamu". Ega memukul pelan jidat istrinya itu.
"Ya sudah nanti Aku juga stempelin jidat Kamu Bapak beranak satu". Kelakar Rain membuat keduanya tergelak.
__ADS_1
Pembicaraan itu dihentikan dan saling bergelut dalam pemikiran masing-masing. Menikmati jalanan di pagi hari yang sangat sibuk. Suara klakson kendaraan yang bersahutan diiringi umpatan-umpatan kecil dari para pengendara. Semua orang sama saja, ingin berada paling depan agar sampai dengan cepat pada tujuannya.
"Pagi-pagi udah padat gini ya". Ega sepertinya sudah terbawa emosi dengan mobil di depannya yang sedari tadi menguasai jalannya saja.
"Sabar, Kita nggak akan telat. Inget ada Ibu hamil di sini". Rain tersenyum seraya menunjuk pada perutnya. Emosi Ega sedikit lega.
Akhirnya sampai juga mereka di kampus walau perjalanan sangat padat. Rain dan Ega segera turun. Pandangan Rain tertuju pada seorang wanita berambut coklat mengenakan mini dress dan perutnya terlihat buncit. Wanita itu bersandar pada sebuah mobil BMW hitam yang terparkir tidak jauh dari mobil Ega.
"Mas, itu Cecil bukan sih?" Rain menarik lengan suaminya yang baru akan menggandeng tangannya. Ega melihat ke arah yang ditunjukkan oleh istrinya.
"Iya sepertinya". Gumam Ega.
"Mas, Dia koq kaya Aku ya. Perutnya buncit, Mas". Rain memegangi perutnya sendiri.
Tanpa menunggu jawaban suaminya, Rain berjalan mendekati wanita yang diyakininya Cecil itu.
"Assallamuallaikum".
Wanita itu menaikkan kepakanya seraya dengan cepat menutupi perutnya dengan jaket kulitnya.
"Rain?" Wanita itu ternyata benar Cecil.
"Cil, bukannya Loe di Jakarta?". Ega yang baru datang tambah membuay Cecil kaget.
Tiba-tiba datang seorang lelaki dengan menyampirkan tas ransel di pundaknya.
"Erkan?"
"Ragga?"
Keduanya sama-sama kaget.
"Sayang, kenalin ini Erkan. Satu angkatan sama Aku pas SMA". Ega mengenalkan istrinya pada teman lamanya itu. Erkan mengulurkan tangannya namun Rain hanya mengatupkan kedua tangannya di bawah dagu.
"Rain" Rain tersenyum tanpa menatap lawan bicaranya.
"Namanya bagus, hu-jan". Celoteh Erkan sedikit membuat suasana mencair.
"Loe pindah lagi ke sini, Ga?". Tanya Erkan.
__ADS_1
"Iya, istri Gue yang pengen". Jawab Ega merangkul pundak Rain.
Namun, Cecil sepertinya tidak begitu suka dengan obrolan singkat ini. Cecil menggerak-gerakan kakinya yang memakai flat shoes coklat di atas aspal.
"Ya sudah, Kita ke dalam duluan. Kayaknya Kalian udah janjian ya?" Ega melirik Cecil dan Erkan bergantian.
"Nanti Kita ngobrol lagi, Ga!" Sahut Erkan.
"Kita nggak sedeket itu buat ngobrol deh, Kan!". Ega menonjok pelan bahu Erkan dan berlalu meninggalkan Cecil serta Erkan.
"Mas, koq Kamu bicaranya gitu?". Rain yang berjalan digandeng suaminya itu merasa terganggu Ega berbicara yang menurutnya tidak enak didengar.
"Kita kan bukan teman, Yang. Bahkan dulu Aku babak belur karena Dia pikir Aku merebut Cecil dari Dia".
Rain menghentikan langkahnya.
"Sebenarnya Kamu sama Cecil tuh pernah pacaran nggak sih?" Rain melepaskan tangan Ega dari tangannya.
"Enggak, tapi hampir. Dan itu penyebab Erkan mukulin Aku. Udahlah, semuanya udah berlalu. Lagian, Kita pindah atas kemauan Kamu". Ega mengingatkan.
"Aku nggak mau ya ada kata CLBK di antara Kalian". Rain kembali melangkah, Ega mengikutinya.
"CLBK bukannya buat yang udah jadi mantan ya?" Tanya Ega kembali menggandeng Rain.
"Khusus buat Kamu sama Cecil jadinya Cinta lama belum kelar". Rain berusaha menepis tangan suaminya, tiba-tiba kesal mendengar suaminya hampir jadian dengan Cecil.
"Kamu cemburu, Aku suka. Cemburu tanda cinta". Ega malah sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Rain.
"Aku nggak cemburu!"
"Tapi cinta kan?" Ega berbisik di telinga Rain namun Rain malah memukul perut suaminya itu. Cemburunya seorang istri sedang hamil itu mengerikan.
.
.
.
Episode selanjutnya TAMAT ya, gaes. Nanti kubuat part extra buat tahu siapa nama anak Rain dan Raga juga rasa penasaran Rain terhadap perut Cecil. Vote dan like juga komennya masih ditunggu
__ADS_1