Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Tak Ingin Jauh


__ADS_3

Rain menelusuri wajah tampan suaminya itu. Dahinya diperban dengan banyak baret di kedua ujung pelipisnya. Darah yang mengering di ujung bibirnya yang membengkak dan kebiruan itu kenapa sangat menyayat hati Rain?. beruntung tidak seluruhnya wajah itu rusak.


"Kenapa nggak bisa jaga diri sih?" Rain berkata dengan suara parau. Matanya beralih ke lengan, tangan dan perut yang banyak terdapat sayatan. Bahkan di bagian perut darah itu kembali mengucur. Rain mengusap dada putih suaminya yang penuh memar kebiruan.


"Jangan diusap, ngilu tau". Ega mengedipkan sebelah matanya menyembunyikan rasa pusing di kepalanya.


"Pakaikan baju, Aku tadi nggak mau disentuh sama cewek laknat itu" Ega menyerahkan kaos yang sedari tadi dipegangnya seraya menunjuk Nita dengan dagunya. Rain hanya menggeleng lalu mengambil kaos suaminya.


"Mas nya bungkuk, Aku kesulitan" tinggi Rain memang hanya sebatas dada Ega. Ega menurut, dibungkukan badannya sehingga dengan mudah Rain memasukan lubang kaos itu ke dalam kepala Ega. Perlahan Rain mengangkat tangan kiri Ega dan berhasil memasukkan bagian tangan kaos itu. Tiba di bagian tangan kanan Rain merasa ngeri dengan luka yang cukup parah itu. Rain pelan sekali melakukannya namun tetap saja Ega meringis menahan nyeri.


"Woy, Inget nih dunia bukan cuma milik Loe berdua. Berasa nonton drakor nih Gue jadinya". Teriak Nita yang sedari tadi merasa geli dengan tingkah pasangan suami istri itu.


Ibu, Bibi dan Pak Riko hanya tertawa kecil. Sementara Ega tidak menghiraukannya.


"Mas dirawat aja ya, Aku takut luka-luka ini infeksi. Ini juga badannya anget lho Mas" Rain menempelkan punggung tangannya pada pipi dan leher Ega.

__ADS_1


"Aku mau tidur aja di kamar Kamu sambil dipeluk. Tadi udah diperiksa koq sama dokter. Obatnya juga dibawa ke sini" Ega menarik pinggang Rain agar lebih mendekat ke tubuhnya.


"Seminggu ini Aku makannya nggak teratur, sekarang Aku laper banget". Bisik Ega yang langsung membuat Rain tertawa.


"Rain, sebaiknya Kalian ke kamar aja. Ibu risih banget deh liat Kalian begitu. Kasihan ini ada bapak-bapak yang seumur hidupnya menjomblo nanti jiwa kesepiannya meronta-ronta" Ibu bicara sambil melirik Pak Riko yang memandang Ibu dengan tatapan tajam. Rain menarik tubuhnya dari dekapan Ega.


"Rain ke ruang makan ya, Bu". Rain segera meraih lengan kiri Ega namun pandangannya tertuju pada kaki sebelah kiri Ega yang sangat merah dan membengkak. Rain berjongkok dan mengamati luka itu.


"Gimana Mereka ngelakuinnya sih Mas, semua badan Kamu luka gini".


"Sambil makan ya ceritanya, Aku perutnya udah perih banget" Ega memegangi perutnya yang melilit.


"Lagian kenapa nggak pulang dari tadi sih Kalian? Apalagi Loe cewe laknat, Loe udah nggak ada gunanya di sini". Ega membalikkan tubuhnya.


"Dasar Bos laknat. Kasih jatah lah Rain Suami Loe biar nggak uring-uringan terus" Nita menghentakan kakinya lalu melangkah keluar dengan gayanya yang centil diikuti Pak Riko dan Bibi yang sebelumnya sudah pamit kepada Ibu.

__ADS_1


"Hati-hati ya kalian, terimakasih udah antar suami Aku". Rain berteriak memandangi kepergian mereka yang hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.


Rain memapah suaminya menuju ruang makan. Perasaannya dibuat tak karuan dengan kondisi suaminya yang sangat mengkhawatirkan. Ibu memandangi anak menantunya itu penuh haru. Ibu hanya ingin Rain selalu tersenyum bahagia menjalani kehidupannya dengan Ega. Semoga setelah ini menjadikan Mereka lebih dewasa dan bijak dalam menjalani rumah tangganya. Ibu memilih untuk ke kamar saja dan membiarkan anak dan menantunya saling melepas rindu yang beberapa bulan ini terbelenggu oleh dendam.


Rain membantu Ega duduk, dengan sangat hati-hati agar suaminya itu tak kesakitan.


"Pasti badannya sakit semua ya, Mas?" Rain mulai menyendokkan nasi. Ega hanya mengangguk pelan.


"Makannya sama apa?" Ega melihat di meja hanya ada penanak nasi tanpa ada masakkan lain.


"Sama sup daging dan kerupuk aja tuh di dapur, nggak apa-apa kan?" Rain segera ke dapur mengambil sup lalu kembali lagi. Aroma cengkeh berpadu dengan lada ditambah bawang goreng dan seledri sangat menggugah selera Ega.


Rain telaten sekali menyuapi suaminya itu sambil sesekali mengusap sayang pipinya yang menirus.


"Nyesel nggak dari dulu aja kayak gini" Ega mengunyah sangat pelan karena bibirnya terasa sangat sakit.

__ADS_1


"Udah deh makan dulu, nanti ngobrolnya" Rain kembali hati-hati saat menyuapkan makanan ke mulut Ega yang membuka mulutnya saja sangat kesusahan.


Aku nggak mau lagi jauh darimu, Mas.


__ADS_2