
Tiba di ruang tamu Bibi baru saja datang membawa dua koper milik Rain. Rain berusaha biasa saja. Jangan sampai Bibi tahu tentang sikap Ega.
"Makasih, Bi" Ucap Rain seraya senyum tulus.
"sami-sami Neng. Ayo Bibi bawakan ke kamar" Rain dengan cekatan mencegah.
"Biar Aku saja, Bi. Bibi istirahat saja di kamar Bibi".
Bibi mengangguk lalu berjalan ke kamarnya. Rain membawa salah satu koper yang diyakini ada mukena di dalamnya. Lalu satu kopernya dibiarkan di dekat sofa ruang tamu. Dengan susah payah Rain menaiki tangga membawa koper itu. Pintu kamar masih terbuka, Ega duduk termenung di depan meja belajarnya.
"Nggak ada tempat untukmu di kamar ini" Kata Ega dengan nada kasar.
"Jangan ngaco, suami istri mana boleh pisah kamar!" Rain dengan suara bergetar menjawab seraya mengeluarkan handuk, baju dan mukena dari kopernya.
"Aku membencimu" Ucap Ega penuh penekanan.
"Sayangnya Aku terlalu mencintaimu" jawab Rain berlalu ke kamar mandi.
Ega memukul meja dengan kasar.
Rain sengaja membiarkan tubuhnya beberapa menit diguyur air dari shower. Rain sengaja menyalakan kran air untuk menyamarkan suara tangisnya. Rain menangis sejadi-jadinya dengan dada sesak. Tangannya digunakan menutup kedua pipi dan matanya.
__ADS_1
"Menangislah Rain, setelah ini berjuanglah mempertahankan cintamu. Rebutlah kembali cintamu. Ini bukan sinetron dengan penuh drama dan penyiksaan suami terhadap istri. Kamu adalah Rain Khadija, gadis polos yang pintar menyembunyikan perasaan" Rain memberi semangat pada dirinya sendiri.
Setelah dirasa cukup lega karena sudah menangis dan meluapkan emosi, Rain keluar kamar mandi dan langsung shalat dhuhur. Sementara Ega terlelap di tempat tidur dengan posisi tengkurap dan kepala ditutup bantal.
Drtt drtt drtt
Ponsel Ega bergetar, panggilan masuk dari Pak Riko
'Hallo, Mas. Semua sudah beres. Nanti malam Saya ke rumah Mas Ega'.
'Terimakasih, Pak. Saya tunggu. Jangan berhenti bekerja meskipun Papa sudah tiada'.
Hidup harus terus berjalan meski akan banyak kerikil dan rintangan. Rain bertekad untuk melawan dendam dan benci Ega.
Rain melihat isi kulkas yang ada hanya beberapa telur. kornet dan susu cair.
"Hmm, Bibi sepertinya belum belanja" Gumam Rain. Dilihatnya penanak nasi. Kosong. Rain segera memasak nasi sebelum membuat dadar telur. Setelah selesai dengan menanak nasi, Rain mengeluarkan beberapa telur dan kornet dari kulkas. Rain rencananya akan membuat omelet saja yang praktis. Dengan cekatan Rain membuat omelet dalam waktu sekejap.
Rain menaruh omeletnya di meja makan lalu kembali ke kamar membawa kopernya yang tadi dia letakkan di samping sofa. Ega sedang memakai kaos saat Rain masuk ke kamar. Rain berusaha biasa saja, dan mengatur nafasnya. Padahal jelas-jelas aroma tubuh suaminya itu mbuat jantungnya berdebar. Dengan cekatan Rain menaruh baju-bajunya ke dalam lemari baru yang seminggu lalu dibeli Ega.
'Alhamdullillah, bersyukur minggu lalu Aku nggak nolak pas Mas ngajak beli lemari' Batin Rain seraya tersenyum tipis.
__ADS_1
Ega turun dengan rambut basah dan acak-acakan. Rain menghela nafas panjang mengetahui Ega keluar dari kamar.
'Aku tidak akan terlihat menyakitkan, Mas. Silahkan balaskan dendammu padaku dan Aku tidak akan diam lemah menerima siksaanmu. Aku akan cari tahu semuanya Mas. Kenapa Kamu buta sekali tidak mencari tahu kebenarannya?' Rain berbicara dalam hati dan segera memunguti pakaian kotor Ega dan handuk basah yang ada di atas tempat tidur dan membawanya ke bawah.
Ega sedang duduk di meja makan dengan rokok di tangannya.
'Kamu berusaha membuatku membencimu? Aku ulangi Mas. Aku mencintaimi, bahkan sejak awal pertemuan Kita'.
Rain menghampiri Ega.
"Mas, mau makan?" Tanya Rain berusaha menatap mata Ega namun seperti sengaja Ega membuang pandangannya.
"Siapa yang akan percaya Kamu nggak kasih racun di sana" Jawab Ega sambil menunjuk omelet dengan dagunya. Jawabannya sebenarnya sangat menyakitkan tapi Rain menepisnya.
"Aku nggak minat kasih racun, nanti Aku kasih pelet" Jawab Rain tersenyum.
Cih! Ega meludah. Rasanya Rain benar-benar sakit hati.
'Menangislah, gadis bodoh' umpat Ega dalam hati.
Rain hanya tersenyum tipis.
__ADS_1