Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Rencana


__ADS_3

Sebulan berlalu di semester dua ini. Hujan sudah mulai berkurang di Februari akhir. Rain dan Ega sama-sama merasakan cinta yang bertambah setiap harinya. Rain dengan segala kepolosannya dan Ega dengan segudang kejahilannya.


Tak jarang mereka juga meributkan hal-hal kecil seperti Rain yang selalu lupa mengikat rambutnya tinggi-tinggi saat berada di sekolah. Tentu saja membuat Ega kebakaran jenggot Atau Rain yang diam-diam jika hari Sabtu dan Minggu datang ke restoran tanpa sepengetahuan Ega.


Dari hal-hal kecil itulah Rain menyadari bahwa betapa Ega bukan sekedar overprotective namun juga memiliki ketulusan yang dalam. Ega selalu serius dengan ucapan cintanya. Walaupun Rain seringnya membuat kesal karena susah sekali mengajak Rain jalan-jalan ke luar.


Jum'at terakhir di bulan Februari, siang itu seperti biasa Ega mengantar Rain pulang sekolah. Dalam perjalanan selalu ada obrolan ringan.


"Nggak kerasa ya, kita tuh udah mau dua bulan lho sama-sama." ujar Rain begitu melihat tanggal di layar


ponselnya.


"Udah mau dua bulan tapi nggak pernah ngedate. Di rumah terus nih kita." Keluh Ega tanpa senyuman.


"Maunya ke mana?" Tanya Rain.


"Ke mana keq, ke bioskop keq. Dinner keq, atau ke pantai gitu." Jawab Ega.


Rain kembali menatap ponsel dan berpikir sejenak.


"Nggak ah kalo ke bioskop nanti cium-cium deh." Tebak Rain.


"Siapa yang berani cium Kamu? Atau Kamu pengen dicium ya?" Ega bertanya dengan mendekatkan tubuhnya ke samping Rain.

__ADS_1


"Kamu lah, Kamu kan suka tiba-tiba cium kepala sama kening Aku." Jawab Rain mengusap-usap dahinya.


"Yang penting kan bukan di bibir. Aku ciumnya juga cium sayang bukan nafsu." Kata Ega mengusap kepala Rain.


"Makasih, udah setulus itu sayang sama Aku." Ujar Rain tersenyum membalas mengusap rambut Ega.


"Makasih doang?" Tanya Ega.


"Ehmmm nanti Aku pikirin buat ngedate deh." Jawab Rain yang mendapatkan kata hore dari Ega.


*********


Selepas isya Rain menemui Ibunya yang baru pulang dari restoran. Ibu sedang berbaring di kamarnya.


"Engga, Sayang." Jawab Ibu mengusap-usap tangan Rain yang melingkar di perutnya.


"Bu, apa keputusanku buat nikah muda udah bener? Padahal Aku belum bales apa-apa ke Ibu." Tanya Rain menciumi pundak Ibunya yang posisinya membelakanginya.


"Kamu udah jadi anak baik dan nurut aja itu udah sebuah balasan terbaik Sayang." Jawab Ibu masih mengelus tangan Rain.


"Rain janji akan selalu nurut sama Ibu," kata Rain.


"Kamu bahagia sama Ega?" tanya Ibu. Rain mengangguk dan anggukan itu bisa dirasakan Ibu.

__ADS_1


"Ibu lihat Ega memang baik dan tulus juga bisa menjaga Kamu." Kata Ibu membalikan tubuhnya menghadap Rain.


"Janji nanti jadi istri yang baik dan jangan manja. Jangan suka membantah seperti yang Kamu lakukan sekarang!" Kata Ibu mencubit hidung Rain. Rain mengangguk sambil tersenyum.


"Besok Ega ulang tahun. Boleh Rain bikin kue trus jalan-jalan berdua sama Ega?" Tanya Rain hati-hati.


Ibu berfikir sejenak tidak langsung menjawab.


"Kalau Ibu keberatan Rain cuma bikinin kue aja nggak jalan-jalan." Kata Rain dengan nada kecewa.


"Boleh, koq. Ibu percaya sama kalian berdua" Jawab Ibu memeluk Rain penuh sayang.


"Makasih, Ibuu" Rain balas memeluk erat.


*****


Sementara itu di kamarnya Ega sedang uring-uringan karena panggilannya tak dijawab Rain. Pesannya juga tak dibalas.


Saat mengecek ponsel Rain hanya tertawa melihat pesan-pesan dari Ega. "Dasar cowok, nggak bisa apa sedikit aja mendem perasaan. Maaf, kali ini giliran Aku yang ngerjain Kamu." Rain bicara sendiri tanpa membaca pesan itu.


Besok dia harys bangun pagi-pagi untuk membuat kue dan memberi Ega kejutan.


Sementara Ega masih terus mengumpat. Rasakan Ega!

__ADS_1


__ADS_2