Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Diantar Mas (last)


__ADS_3

Cukup dengan waktu 15 menit Rain sampai di kampusnya. Rain kesal sekali kenapa kampusnya sangat dekat dengan rumah.


"Makasih, ya mas!" Rain membuka sabuk pengamannya. Padahal masih ada waktu 30 menit sampai keberangkatannya ke puncak. Rain tiba-tiba punya ide gila, mudah-mudahan Ega mau menerima idenya itu.


"Emm Mas, mulai kelas jam berapa?" tanya Rain sebelum benar-benar turun.


"Dua jam lagi, sih" jawab Ega merapikan posisi rambutnga. Jelas saja membuat jantung Rain meronta-ronta


'Ya Rabb, beruntung dia suami Aku jadi ini mata nggak zinah terus-terusan terpesona lihat ketampanannya' batin Rain.


"Mas, mau nggak makan bubur ayam dulu. Aku traktir Mas deh. Aku baru gajihan lho, Mas" Kata Rain hati-hati takut Ega marah.


Ega melengkungkan senyum tipis di bibirnya, sejujurnya Dia juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan istrinya itu.


"Enak nggak buburnya? kalau enak boleh nambah ya?" Ujar Ega seraya membuka sabuk pengamannya.


"Boleh, Ayo Mas. Takut kehabisan". jawab Rain seraya turun dari mobil dan diikuti oleh Ega.


Mereka melangkah menuju kantin kampus berjalan bersisian, Rain sengaja tidak membawa ranselnya. Berat.


Tiba di kantin ternyata banyak juga yang mengantri untuk membeli bubur.


"Lihat, Mas. Sampai mengantri kan?" Kata Rain menunjuk barisan mahasiswa yang mengantri itu.


"Mas duduk dulu di sini. Biar Aku yang antri buat pesen buburnya".

__ADS_1


Ega menurut saja duduk di bangku panjang itu. Saat Rain sedang mengantri tiba-tiba ada dua orang mahasiswa duduk di samping Ega.


"Eeh lihat tuh si Danu, pantesan Dia rela ngantri padahal ada si Rain di sana" kata salah satu dari mereka.


"Rain sih cantiknya emang luar dalem, gila tampangnya aja masih perawan gitu. Siapa yang nggak mau sama Dia". Timpal mahasiswa satunya.


Ega geram sekali mendengarnya. Ingin rasanya Ega menghajar mereka saat itu juga tapi sebisa mungkin dia tahan karena tidak mau membuat Rain kecewa.


"Tapi denger-denger Dia susah banget dideketin. Loe tahu Pak Doni? Dosen aja naksir sama Rain!"


"Gue nyesel nggak masuk keguruan aja biar sekelas sama, Rain"


"Emang udah yakin Loe bakal diterima sama Rain?"


"Ya enggak, tapi setidaknya bisa deket deh".


Rain kembali membawa dua mangkuk bubur di tangannya dengan senyum mengembang. Ega sudah bisa menguasai emosinya.


"Maaf ya Mas, lama". Kata Rain menyerahkan satu mangkuk bubur pada Ega. Dua mahasiswa tadi saling menyikut melihat Rain dan Ega terlihat akrab.


"Makasih ya, Sayang" Jawab Ega. Rain terkejut namun segera mengetahui keadaan saat dia melihat dua mahasiswa itu. Sebab Rain sudah familiar dengan mereka yang sering menggodanya.


"Sama-sama, Mas. Ayo dimakan" Kata Rain menyembunyikan gugupnya.


'Aku tahu Mas ucapanmu hanya pura-pura, mereka pasti tadi membicarakanku kan mas?" batin Rain.

__ADS_1


Karena merasa jengah, dua mahasiswa itu pergi. Rain dan Ega menghabiskan bubur tanpa bicara.


Setelah membayar Rain dan Ega masih duduk di bangku itu.


"Mas, enak nggak?" tanya Rain sambil mengayun-ayunkan kakinya.


"Enak dong, kalau nggak kenyang pasti nambah" Jawab Ega mengusap kepala Rain. Sudah berani ya Ega kontak fisik.


"Mas, ayo ke parkiran. Kayanya udah mau berangkat nih". Ujar Rain seraya berdiri melangkah meninggalkan Ega.


Benar saja, di parkiran semua sudah siap bahkan bus sudah datang. Rain mengambil tas di dalam mobil suaminya. Lalu kembali menghampiri Ega yang berdiri di samping mobilnya.


"Mas, Aku berangkat ya. Mas jangan telat makan. Aku nanti pasti kangen deh" Kata Rain berniat menggoda Ega. Ega tidak menjawab malah menggandeng tangan Rain menuju bus.


Di parkiran para mahasiswa berbaris menunggu diabsen terlebih dulu sebelum masuk ke dalam bus. Rain berdiri di sana bersama Ega di sampingnya.


Ega membalikan tubuh Rain ke samping agar berhadapan dengannya. Ega meraih kedua pipi Rain, katanya


"Hati-hati, ya. Baik-baik di sana. Jangan membahayakan diri sendiri"


Cup!


Ega mencium kening istrinya penuh sayang tanpa merasa malu dilihat mahasiswa di sana. Rain bahagia sekali, bodo amat jika nanti menjadi bahan ghibahan mereka. Toh selama ini Rain selalu bilang sudah memiliki suami.


Ega melepaskan ciumannya.

__ADS_1


"Kabarin kalau ada apa-apa". Kata Ega seraya memperlihatkan ponsel yang dulu dia pakai sebagai pertanda bahwa nomornya yang dulu telah aktif kembali. Rain mengerti itu. Menganguk melambaikan tangannya.


__ADS_2