Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Potret Lampau


__ADS_3

Rain duduk termenung bersama Ega di teras rumahnya. Kenapa tiba-tiba semua terasa aneh. Terasa seolah-olah akan ada sesuatu yang hilang. Angin malam terasa dingin membelai pipinya. Rain menggigit bibir bawahnya.


"Sayang!" Panggilan Ega membuat pikirannya buyar. Rain menoleh dengan tatapan sendu.


"Kenapa? Kamu ragu?" Tanya Ega membawa tubuh Rain agar berhadapan dengannya.


Rain menggeleng.


"Terus kenapa?".


Rain tak menjawab, menunduk kembali memikirkan sesuatu.


Mas, maaf. Aku bukannnya nggak bahagia. Jujur Aku pernah memimpikan pernikahan yang indah. Yang penuh dengan bunga dan fotoku, foto Kita. Tapi, rasanya itu tidak mungkin. Maaf, Mas. Dalam kondisi seperti ini Aku malah memikirkan yang tidak-tidak. Aku akan berusaha menerima ini dengan ikhlas.


"Sayang. Tuh kan ngelamun lagi" Seru Ega seraya menarik dagu Rain.


"Nggak apa-apa, Mas. Mas mau pulang atau nginep? Bibi katanya mau nginep?" Rain mengalihkan pembicaraan.


"Emang kalau nginep, boleh?" Tanya Ega menaikkan kedua alisnya.


"Boleh, tapi tidur di teras." Jawab Rain tertawa kecil.


"Nah gitu dong ketawa, kan cantiknya keluar." Ega mencubit gemas kedua pipi Ega.


"Ya udah Aku pulang aja. Titip Bibi ya. Salam juga buat Ibu mertuaku." Ega segera berlalu karena dia juga sadar meski ingin berduaan dengan Rain tapi kelihatannya Rain sangat lelah dan butuh istirahat.


******


Keesokan harinya Ibu datang ke restoran dengan hati yang gamang. Semalaman tidak bisa terlelap memikirkan nasib putrinya. Tidak mungkin pernikahan dibatalkan begitu saja. Ibu tidak ingin membuat putri satu-satunya kehilangan tawa bahagianya. Namun, Ibu sendiri tidak menjamin akankah semua baik-baik saja jika berhubungan dengan Pak Rakha?

__ADS_1


Ibu sama sekali tidak antusias dengan restoran. Sejak memasuki restoran hanya terdiam di ruangannya. Melamun, ingatannya melayang pada kejadian bertahun-tahun lampau. Sebuah hubungan rumit.


tok


tok


tok


Suara pintu diketuk, Ibu gontai melangkah membuka pintu.


Deg!


Pak Rakha dengan gagahnya berdiri di ambang pintu. Tersenyum tipis dengan tatapan penuh belati.


**************


Malamnya keadaan hati Ibu sedikit membaik.


"Udah, Bu" Rain memeluk erat Ibunya.


"Jadi istri yang baik ya. Selesaikan masalah dengan kepala dingin. Jangan bikin Ibu kecewa karena udah mengizinkan Kamu menikah muda." Ibu mengusap-usap pungging Rain.


"Iya, Rain ngerti. Rain pasti selalu ingat nasihat Ibu, " jawab Rain dengan suara bergetar menahan tangis.


Drrtt drrtt


Rain melepas pelukan Ibunya, mendengar ponselnya bergetar segera membuka ponselnya.


"Yaudah, Ibu istirahat. Besok Ibu dibantu sama beberapa karyawan restoran mau mendekor rumah termasuk kamar ini." Ibu mengelus pipi Rain.

__ADS_1


"Makasih, Bu." Ucap Rai


"Besok juga Dona kemari. Besok kamu luluran dan maskeran ya sama Dona!"


Rain mengangguk dan Ibu benar-benar meninggalkan kamar Rain.


Rain memanggil nomor Sela yang barusan mengirimnya pesan.


"Rain, gila loe nikah ngedadak banget. Haduuh"


Suara Sela memekakan telinga Rain.


"Aduh Sel, jangan teriak-teriak. Lusa dateng ya!"


"Pasti lah, gue jadi pengen nikah juga."


"Ya udah minta sama Rehan."


"Malu Gue kalau minta duluan."


"Ya udah, lusa dateng pokoknya. Aku tunggu."


Rain mematikan ponselnya.


Pikirannya kembali menerawang. Kenapa hatinya terasa hampa dan tiba-tiba merindukan Ega. Kenapa rasanya seperti akan berpisah? Apa perasaan semua wanita yang akan menikah seperti ini? Gundah, resah dan takut. Rain berusaha terpejam namun sulit.


Sementara di kamar hotelnya, Pak Rakha sedang menatap potret masa lalunya. Pikirannya kembali ke masa beberapa tahun lalu. Sesekali wajahnya sendu, lalu menangis tapi kembali tersenyum tipis.


Merangkai potongan-potongan kejadian yang terasa menusuk hati. Diusap-usapnya potret itu seraya sesekali menciuminya.

__ADS_1


'Kau kembali, Zein? Kau jahat Zein? Apa selama ini Kau sengsara? Itu pantas Kau dapatkan? Apa? Tadi Kau memintaku untuk membahagiakan anakmu? tentu saja! biarkan anakku bermain-main dengan anakmu dan jangan sampai nasibnya sama sepertiku! Kau pernah menghancurkan hati seseorang dan tahukah Kau bagaimana rasanya? Apa? Jangan sakiti anakmu? tentu saja!'


Batin Pak Rakha sambil terus menatap tajam potret lusuh itu.


__ADS_2