Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Pura-pura Bahagia?


__ADS_3

Ega dengan kasar menarik pakaian di tangan Rain.


"Jangan sentuh barang-barangku. Nggak usah so baik. Nggak akan merubah keadaan"


Rain melongo, Ega benar-benar telah menorehkan luka di hatinya namun Rain berusaha menutupi perasaannya.


"Bii, Bibi" Teriak Ega.


Bibi segera datang dengan tergesa-gesa.


"Ada apa, A?" Tanya Bibi


"Ini baju kotorku, jangan biarkan gadis licik ini menyentuh barang-barangku!" kata Ega saraya menunjuk Rain. Bibi keheranan. Biasanya Ega selalu bersikap manis pada Rain.


"Bi, satu lagi. Jangan biarkan Dia makan makanan di rumah ini. Mulai sekarang Bibi nggak usah beres-beres rumah biar Dia yang melakukannya" seraya berlalu dari hadapan Rain.


Sungguh hati Rain teriris mendengarnya. Pipi dan matanya sudah panas namun berusaha menahan tangis. Ega berlalu kembali ke kamarnya dan Rain ambruk. Kakinya sudah sangat lemah menopang dari tadi. Dengan memegangi dadanya Rain menangis tanpa suara. Bibi bingung dibuatnya. Bibi segera ke belakang menaruh pakaian kotor Ega dan cepat kembali ke hadapan Rain yang masih menangis. Ega yang dari atas melihat kejadian itu tersenyum penuh kemenangan.


'Ini baru permulaan' Gumam Ega dan membanting pintu kamar yang jelas terdengar oleh Rain.


Bibi meraih pundak Rain, membawa Rain ke sofa.


"Ada apa neng?" Tanya Bibi khawatir.

__ADS_1


Rain menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Bibi kaget bukan main. Menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ibu tidak mungkin seperti itu, Neng" Kata Bibi mengusap punggung Rain yang bergetar akibat masih menangis.


"Aku nggak akan nyerah, Bi" Rain mengatur nafas membuangnya perlahan.


"Jangan bilang Ibu ya Bi. Rain takut Ibu kepikiran dan membenci Mas" Rain memandang Bibi dengan tatapan memohon.


Bibi mengangguk, memeluk erat Rain.


Ega di kamarnya duduk di tepi ranjang sambil terus menghisap rokoknya. Sesekali Dia tertawa lalu tatapannya sendu tapi kembali tertawa.


*********


Bibi yang merasa kasihan sengaja masuk ke dalam kamar yang bahkan pintunya tidak ditutup itu. Bibi membawa sepiring nasi dan omelet yang Rain buat tadi, juga segelas teh panas.


Bibi menggeleng melihat Rain yang tertidur di atas sajadahnya. Dengan lembut membangunkan Rain


"Neng, bangun!" Bibi mengusap pipi Rain. Merasa pipinya disentuh Rainpun mengerjap-ngerjapkan mata. Perlahan matanya terbuka. Rain mencoba duduk dan membuka mukenanya.


"Ayo, makan dulu. Pura-pura bahagia juga butuh tenaga kan?" Bibi tertawa menyendokkan nasi hendak menyuapi Rain.


"Bibi tau dari mana kata-kata kayak gitu?" Rain tertawa kecil seraya menerima suapan Bibi.

__ADS_1


"Dari sinetron lah" Jawab Bibi kembali menyendokkan nasi.


Bibi dengan penuh sayang menyuapi Rain sambil sesekali mendongakkan mata menahan tangisnya. Kenapa di hari pertama pernikahannya sudah mendapat cobaan yang begitu berat. Bibi mengelus sayang kepala Rain menatapnya lekat.


Rain mengerenyitkan dahi


"Bibi kenapa liatinnya gitu? nanti jatuh cinta lho!" Rain terkekeh geli dengan kelakuan Bibi.


"Berusaha terus buat A Ega kembali seperti kemarin-kemarin ya, Neng!" Kata Bibi dengan nada serius dan tatapan penuh arti. Rain menggangguk, seraya menerima suapan terakhir.


Di hadapan Ega Rain harus terlihat kuat. Setelah meminum teh nya Rain segera merapikan alat sholatnya. Bibi keluar membawa piring dan gelas kotor. Rain segera beranjak menuju kamar Ega. Berkali-kali mengatur nafas den mengusap dadanya.


Rain berdiri di depan pintu, mengetuknya


tok


tok


tok


Percuma tidak dibuka. Rain dengan pelan membuka gagang pintu, Ega sudah meringkuk di atas kasur dengan posisi tak beraturan. Rain tersenyum tipis, berniat mengerjai Ega. Terlihat sekali jika Ega pura-pura tidur.


Rain segera merebahkan dirinya di samping Ega. Sengaja mengamati wajah Ega yang terlihat lelah. Rain menyentuh alis dan hidung Ega. Lalu mengecup dahi Ega sekilas. Rain tersenyum tipis. Lalu kembali meringkuk menghadap Ega dan kembali terlelap.

__ADS_1


__ADS_2