Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Moody


__ADS_3

Kondisi kehamilan Rain yang baru memasuki minggu ke 6 sungguh membuatnya kepayahan. Rain berusaha keras mengusir segala rasa mual dan malas dalam dirinya. Pagi itu Dia masih enggan turun dari mobil suaminya sambil terus menghirup aroma minyak telon yang dia tuangkan pada sebuah sapu tangan kain milik suaminya. Ega sudah tidak bisa bicara apa-apa untuk membuat Rain mengambil cuti kuliahnya.


"Dede jangan bikin mual dulu dong, Bunda mau kuliah dulu nih. Tolongin Bunda ya". Ega mengusap perut istrinya yang masih rata itu dengan berusaha mengajak janin itu bicara demi mengalihkan perhatian Rain.


Rain menyunggingkan senyum tipis seraya mengelus rambut suaminya yang sedang bicara di depan perut Rain. Ega sengaja kembali bicara pada janin istrinya itu.


"Dede mau mamam apa? Bisikin nanti ke Bunda ya! soalnya Baba nggak bisa denger Dede ngomong".


Rain mengkerutkan keningnya, Dia juga tidak bisa dengar. Mana ada janin bisa bicara?.


"Mas, mana ada Dede bisa bicara?".


Duuh, Ega salah trik. Ega kembali duduk tegak menjauhkan diri dari istrinya. Raut wajah Rain sudah kusut, macam baju tak disetrika. Bibirnya mengatup, kedua tangannya terlipat di dada.


Ega menghela nafas panjang, diusapnya kepala bagian belakang Rain yang hari itu mengenakan pashmina berwarna lilac.


"Maaf, ya. Bunda Dede jangan cemberut. Nanti, Dede ikut sedih. Baba boleh pergi sekarang? Baba ada kelas jam 8 ini".


Rain mengganti raut wajahnya dari kesal menjadi sedih. Serumit itukah menghadapi wanita hamil? Apalagi kehamilan Rain terjadi saat usianya masih 18 tahun. Semua itu tentu membuat sistem hormon dalam tubuh Rain tidak stabil. Menurut dokter yang memeriksa keadaan Rain, situasi seperti ini akan terjadi hingga 10 minggu usia kandungan Rain.


Ega menghela nafasnya, Dia harus lebih bisa bersabar lagi sampai 4 minggu ke depan.


"Kamu maunya gimana? Jujur aja ya hari ini Aku ada kuis lho, nggak bisa banget telat apalagi nggak masuk". Ega mengelus pipi istrinya yang sudah lebih terlihat rilex itu.


"Mau liburan ke Bandung!" Pekiknya.


Sekali lagi Ega menghela nafas. Dia ingin sekali meluapkan kekesalannya. Namun, Rain memang sedang mencari-cari perhatiannya.


"Ok, boleh. Hari sabtu kita ke Bandung. Lusa berarti. Ok?"


Rain tersenyum lebar, ditangkupnya kedua pipi suaminya itu lalu diciumnya sekilas dan beranjak membuka pintu mobil. Lalu keluar berlari-lari kecil sambil memegangi perutnya menuju kelas. Ega hanya tertawa menggeleng-gelengkan kepalanya.


🍂🍂🍂

__ADS_1


Lusa yang dijanjikan Ega datang begitu cepat. Rain menunggu suaminya yang masih mandi di dalam mobil. Senyumnya terus merekah sambil sesekali menghirup aroma minyak telon untuk menghilangkan mualnya. Suaminya terlihat berlari lari kecil dengan rambut basah dan kaos putih lengan pendeknya.


"Ganteng banget sih, sayangnya udah punya istri". Rain cekikikan saat suaminya masuk mobil dan duduk di balik kemudi.


"Dek, Bundanya genit tuh". Ega mengelus perut Rain yang masih rata. Mood ibu hamil muda itu sedang bagus, setidaknya dari shubuh tadi sampai detik ini. Jangan sampai moodnya terusik.


"Bilangin sama Baba, Bundanya jatuh cinta banget". Rain ikut mengusap perutnya sambil senyum merekah, bahagia sekali pagi ini hatinya.


"Bilangin sama Bunda, Babanya udah mealting nggak bisa jawab lagi". Ega mengelus pucuk kepala istrinya itu.


"Tenang, Dek. Baba selalu bisa Bunda kalahin" Rain kembali cekikikan.


"Kalau malem Baba yang kalahin Bunda". Ega tersenyum nakal.


"Apaan sih, nggak baik bicara gitu!" Rain melipat kedua tangannya di dada dan memasang wajah kesal.


"Maaf, Aku tuh kangen sama Kamu. Kangen becanda, kangen debat walaupun akhirnya Aku yang kalah". Ega mengusap lengan yang masih terlipat.


"Maaf, ya. Aku nggak tahu Kamu seterluka ini ngadepin mood Aku yang labil akhir-akhir ini".


"Nggak apa-apa, kata dokter setelah 10 minggu semuanya bakal balik normal kan?".


Rain mengangguk, satu bulir kristal bening lolos dari pelupuk matanya.


"Pakai sabuk pengamannya, Kita berangkat sekarang. Bissmillahirrahmanirrahim".


Rain mengangguk dan mengucap basmallah dalam hatinya. Mobil itu mulai melaju meninggalkan halaman rumah mereka yang luas. Atas permintaan Rain, Mereka hanya berdua ke Bandung. Rain akan mengenalkan Ega pada seseorang, katanya. Entah siapa yang Rain maksud.


🍂🍂🍂


Sepanjang perjalanan Rain hanya tertidur karena sebelumnya sudah mengkonsumsi obat dan juga vitamin penguat kandungannya. Sesekali Ega melirik wajah teduh istrinya yang mengenakan hijab biru tua itu. Kelopak matanya terlihat menghitam akibat tidurnya selalu tidak cukup. Rasa mual Rain tidak hanya terjadi pagi hari. Namun sepanjang hari dan itulah penyebab tubuhnya lemas karena sedikit sekali asupan makan yang diserap tubuhnya.


Ega mengusap halus pipi Rain karena Mereka sudah sampai di halaman rumah yang selalu ingin Rain tuju akhir-akhir ini. Rain menggeliat, mengerjap-ngerjapkan matanya.

__ADS_1


"Sudah sampai, Mas?"


Ega tersenyum mengangguk, membukakan sabuk pengaman.


"Jangan terlalu manis gini, Mas. Aku susah bangun dari jatuh cintanya".


"Itu tujuan utamaku". Ega mencium perut rata yang harum aroma minyak telon itu.


"Ayo, turun. Dedek harus istirahat". Ega membuka pintu mobilnya dan Rain melakukan hal yang sama.


Rumput hijau menyambut kaki mereka saat turun dari mobil. Terlihat beberapa Ibu-ibu sedang memetik teh sekilas menyapa keduanya dengan tersenyum dan mengangguk. Ega dan Rain membalasnya dengan hal yang sama. Kebanyakan para pemetik teh adalah anak dari para pemetik sebelumnya. Jika dulu Zein dan Rakha menikah mungkin tidak akan ada cerita manis antara Ragga dan Rain. Allah selalu memberikan hikmah di balik kejadian.


Rain menggandeng tangan Ega memasuki rumah, Mang Odang dan Alis sudah menunggu mereka di teras rumah.


"Assallamuallaikum, Kakek. Tante".


Rain dan Ega menyalami keduanya bergantian dan mempersilahkan Mereka masuk. Ruamah itu masih sama seperti saat pertama datang, hanya saja poto pernikahan Rosa dan Rakha kini diganti dengan poto pernikahan Ragga dan Rain. Rain sedikit kaget dan mendekati bingkai poto tersebut yang tersimpan rapi pada dinding dengan ukuran besar.


"Mas, ini kapan dipajangnya?" Rain menyentuh ujung bingkai poto yang berwarna emas itu dengan satu tangan menutup mulutnya.


"Kemarin ada yang mengantar kemari dan langsung Kami pasang". Jawab Alis mendekat ke arah Rain dan merangkul pundaknya.


"Rain suka, Tan". Rain balas melingkarkan tangannya di pinggang Alis.


"Tante seneeeeng banget saat tahu Kalian mau pindah kemari. Tante sama Kakek selama ini merasa berdosa tinggal dan menikmati harta yang harusnya menjadi hak Rosa. Dulu karena Kakek miskin, Kami tidak pernah mengajak Rosa tinggal bersama Kami. Tapi di masa tua Kakek, justru Rosa mendatangkan kebaikan pada Kami walau dirinya sudah tiada".


Rain mengusap-usap punggung Alis, terharu.


"Tante bisa membalasnya dengan selalu mendoakan Mama dan Papa. Aku dan Mas juga bahagia akhirnya bertemu dengan kalian walaupun sedikit terlambat".


Alis memeluk tubuh Rain yang juga balas memeluknya. Ega dan Kakek senang melihat adegan itu, ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Sungguh hidup Mereka menjadi berwarna dan saling mengisi. Setelah sama-sama terjatuh namun bisa bangkit bahkan berlari kembali.


Ok, Makasih gaes. Dan, terus dukung ya. LIKE, KOMEN DAN VOTE kalau ada poin lebih. Saranghae 💖

__ADS_1


__ADS_2