
Tepat adzan dhuhur Ega dan Rain sampai di rumah Ega. Tanpa bicara Ega turun terlebih dahulu dari mobil dan dengan langkah cepat menuju ke kamarnya.
"Kamu kenapa, Mas? Mana Mas ku yang selalu manis? Mana Masku yang selalu ingin Aku baik-baik saja?" Rain bertanya pada dirinya sendiri. Rain duduk di ruang tamu. Rumah itu terasa mencekam dan hampa tidak seperti biasanya.
Rain memandang ke arah meja makan, tempat di mana biasanya mereka makan bersama dengan Ega yang seolah tiada bosan memuji masakkannya. Rain kembali memandangi tangga, ingatannya kembali pada kejadian kemarin sore sebelum pulang. Entah setan mana yang merasuki Rain, dengan tidak tahu dirinya Rain meminta tidur dipelukkan Ega. Benar-benar hanya tidur.
Rain memandang ke arah ruang televisi, tiba-tiba teringat Bibi dan langsung menelponnya. Satu kali berdering Bibi menjawab panggilannya. Rain mengucap salam dan dijawab oleh Bibi.
"Ada apa, Neng?"
"Aku udah sampe di rumah, Bibi nanti bawakan koper dan peralatanku, ya."
"Siap, Neng. sebentar lagi Bibi jalan."
Rain mengakhiri panggilannya. Hatinya terasa hampa, kosong dan hancur. Apa yang membuat Ega berubah? Atau jangan-jangan?. Rain menggelengkan kepala membuang jauh fikirannya yang ngawur.
"Tidak, Ibu bukan wanita seperti itu". Rain memukul-mukul keningnya dengan ponselnya. Rain mencoba memanggil nomor Ega, namun tidak aktif. Rain beranjak, berjalan pelan menaiki tangga menuju kamar Ega.
"Mas, Aku sudah susah payah berdandan lama masa kamu nggak bilang Aku cantik?"
Setibanya di depan kamar, Rain segera mengetuk pintu kamar. Namun, tak ada jawaban.
"Mas, bukain dong!"
__ADS_1
Tidak ada jawaban. Padahal Ega sedang duduk di sisi tempat tidur dengan tatapan yang masih sama seperti sebelumnya, kosong.
"Mas, Kamu tidur?"
Ega masih tidak menjawab, menutup kedua telinganya.
"Mas, masa istrinya dicuekin. Mas nggak kasihan nih. Mas nggak mau lihat dulu wajah cantikku? Rain terus berteriak dan membuat amarah Ega meningkat.
Ega beranjak, membuka kasar pintu dan menarik tangan Rain lalu menyeret tubuh Rain hingga terjatuh di lantai.
"Mas kenapa sih? Aku salah apa?" Tanya Rain yang sudah tidak bisa menahan air matanya.
"Salahmu adalah anak dari wanita bernama Zein. Oh, Yana Zeinithari".
Rain merasakan dadanya dihujam ribuan tombak. Kepalanya berat serasa dihantam benda keras berkali-kali. Rain meluruhkan tangisnya.
"Sudah mengerti di mana letak salahmu?" Ega meneriaki Rain.
Rain hanya mengangguk lemah. Apa benar cerita Pak Raka tempo hari itu adalah kenyataan?
"Bicaralah! bukankah biasanya kamu banyak bicara?" Ega kembali berteriak.
Rain menggeleng, bicara apa?
__ADS_1
"Kamu takut Rain? Oh, apa tadi kamu bilang? kamu cantik? Aku bahkan menyesal menikah dengan anak dari perebut suami orang."
Deg
Rain merasa sakit dihatinya mendengar Ega membicarak Ibunya.
"Balaskan padaku, Mas. Tapi, jangan sakiti Ibu. Lakukan sepuasnya padaku."
Ega bertepuk tangan berjalan mengitari Rain. Senyuman dan tatapan mengejek bercampur jadi satu.
"Hebat, kamu. Kenapa tidak meminta maaf?"
Rain berusah berdiri, walau kakinya terasa lemah.
"Dan kamu nggak akan berikan maaf itu bukan?"
Ega tertawa jahat. Tentu saja tak semudah itu memaafkan Rain. Dia ingin membuat istrinya itu tersiksa.
"Istriku memang hebat, kukira kamu akan tertekan lalu bunuh diri. Tapi, berani sekali Kamu menantangku? nggak takut dosa?"
"Aku bahkan bisa membuatmu kembali mencintaiku, Mas!" Rain mulai membangun pertahanannya. Rain tidak mau melemah seperti wanita di sinetron yang sering Bibi tonton. Meskipun akan banyak sekali drama, Rain tidak akan menyerah membuat Ega bisa membuang jauh dendam itu. Bahkan jika mungkin, Rain akan mencari tahu kebenarannya.
Cih! Ega meludah mendengar kata-kata Rain. Dalam pikiran Ega Rain akan terpuruk dan menderita. Tapi, Ega lupa satu hal. Rain bukanlah gadis lemah yang menyerah akan keadaan. Rain bukanlah gadis bodoh yang bisa ditakut-takuti. Rain adalah gadis yang selalu bisa menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
Rain keluar meninggalkan Ega. Padahal dalam pikiran Ega Rain akan memohon maaf dan meminta Ega untuk tidak meninggalkannya. Dalam pikirannya Ega akan mendorong Rain keluar dari kamarnya dan mengusirnya dengan sumpah serapahnya. Lihatlah, kenapa justru Rain malah meninggalkannya tanpa ketakutan sedikitpun.
Rain terus berjalan terseok-seok memegangi dadanya. "Maaf Mas, Aku nggak mau pernikahan ini hancur. Aku yakin cinta itu masih untukku. Tenang Mas, Aku akan cari tahu kebenarannya." Rain menahan tangis menuruni anak tangga. Rain harus menemui Pak Riko. Pak Riko pasti tahu banyak hal.