Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
I Love You more


__ADS_3

Pagi itu tepat pukul 07:00 Rain sudah terlihat siap dengan kebaya dan riasannya. Rambutnya digelung tinggi dengan menyisakan anak rambut dibagian telinganya.


Kebaya modern berwarna mocca dengan kain batik warna senada sangat pas ditubuh mungil Rain. Sesuai permintaan Ega, kebaya Rain tidak menampakan pundak ataupun dada bahkan bagian lehernya pun tertutup. Rain dirias senatural mungkin namun tetao terlihat pangling.


"Pacar Mbak Rain itu ganteng banget, perhatian lagi. Saya jadi iri." Kata Kak Dona sesaat sebelum pamit. Rain hanya tertawa.


Acara pelepasan kelas XII akan dimulai pukul 08:00, dan nanti malam acara akan kembali digelar di salah satu hotel milik Pak Rakha. Rain melarang Ega menjemputnya. Rain meminta nanti saja bertemu saat di sekolah.


Dengan menaiki taksi online Rain dan Ibu menuju sekolah. Ini kali ke tiga Ibu mengunjungi sekolah Rain. Karena selama ini Ibu selalu sibuk di restoran.


"Rasanya baru kemarin Ibu antar kamu daftar, sekarang udah lulus aja." Ucap Ibu saat keduanya mulai memasuki gedung sekolah.


"Waktu cepat berlalu ya, Bu" Sahut Rain berjalan menggandeng tangan Ibu.


Keduanya tiba di lapangan yang sudah disulap menjadi tempat berlangsungnya acara.


"Kita duduk di depan ya, Sayang" Kata Ibu menunjuk barisan kursi di depan yang masih terlihat kosong.


Rain mengangguk mengikuti langkah Ibu sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok kekasihnya. Ibu duduk di barisan kedua sementara Rain masih celingukan. Kemudian Rain mendengar suara seseorang yang sudah sangat ia kenali.

__ADS_1


Ekhem


Dialah Ragga. Terlihat tampan memakai setelan jas hitam dengan rambut disisir rapi membawa buket bunga indah.


"Mbaknya cari siapa sampe celingukan?" Tanya Ega tepat di dekat telinga Rain.


Deg.


Jantung Rain meronta-ronta melihat kekasihnya hari itu terlihat sangat tampan. Aroma parfumnya selalu memabukkan. Sepersekian detik Rain terpana melihat wajah yang hanya berjarak beberapa senti di hadapannya.


Ega semakin mendekatkan wajahnya hendak menggoda, namun suara Ibu mengagetkan keduanya.


"Hei, kalian ini. Tidak bisa tahan sedikit lagi apa?" Ibu dengan sengaja memukul lengan keduanya dengan kipas lipat di tangannya.


"Kamu sih, jadi Ibu marah." Bisik Rain pada Ega.


"Emang Aku kenapa?" tanya Ega pura-pura tidak mengerti.


"Kamu tuh berani-beraninya mau cium Aku di hadapan orang banyak. Kamu gila, Kamu nggak mikir di sini tuh ada Ibu. Udah tiba-tiba datang ngagetin. Trus kenapa juga itu rambut disisir rapi, pake minyak wanginya sebotol ya. Sengaja banget apa mau ngegoda cewek-cewek. Kesel Akutuh" Tutur Rain bertubi-tubi seraya mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Udah selesai ngomongnya? Sekarang giliran Aku yang ngomong" Ega menjeda kalimatnya lalu menyerahkan buket bunga pada Rain.


"Selamat hari kelulusan Sayang" Ega dengan cepat mengecup pipi Rain sekilas tanpa dilihat Ibu yang sedang antusias melihat pengatur acara mulai membereskan ulang alat-alat di panggung.


Tapi, tentu saja beberapa pasang mata melihat kejadian itu. Mereka hanya tersenyum dan berujar "So sweet".


Ega tersenyum tipis menatap lurus ke depan. Rain terpaku memegangi pipinya yang terasa hangat lalu memandangi buket bunga yang indah.


Yang dikecup pipi yang terasa hangat hati. Rain mengelus punggung tangan Ega lembut lalu berbisik


"Makasih Mas, I love you more and more."


Lalu keduanya saling menatap dengan perasaan saling memiliki dan mencintai. Hingga ucapan salam dari MC membuyarkan acara tatap menatap itu.


Rain merasakan debaran jantungnya tak bisa dikendalikan manakala tangan Ega terus menggenggamnya. Sesekali Rain menoleh pada Ega seakan-akan tidak bisa lagi menatap Ega besok.


Rain begitu serakah dengan tatapannya kali ini. Sedikitpun dia tidak bisa fokus mendengarkan saat kepala sekolah memberi sambutan. Bahkan Rain juga tidak mendengar saat MC mengatakan Pak Rakha tidak bisa hadir pagi ini dan akan hadir saat malam perpisahan nanti.


Rain terus menatap terpana kekasih yang menjadi pujaannya itu.

__ADS_1


"Rain, panggungnya di depan. Bukan di pinggir." Ibu mencolek dagu Rain dan sontak membuat Rain salah tingkah. Rain segera mengalihkan pandangannya ke depan. Malu. Itu yang dia rasakan. Rasanya seperti ketahuan mencuri.


"I Love you." Bisik Ega membuat Rain tersenyum dan mengeratkan genggamannya.


__ADS_2