
Belum saja beberapa menit yang lalu Rain dan Ega terlihat mesra sampai membuat risih orang-orang melihatnya, sekarang di kamar mereka berdebat untuk hal yang sebenarnya tak terlalu penting.
"Aku nggak mau lampunya dimatikan Mas, Aku takut" Rain kembali menyalakan lampu yang tadi Ega matikan.
"Kan kalau merem juga tetep gelap Yang, dimatiin aja lah. Aku yang nggak bisa tidur kalau lampunya nyala" Ega menyipitkan matanya yang terasa silau oleh cahaua lampu yang baru Rain nyalakan kembali.
"Mas ribet deh, udalah Mas tinggal merem. Akutuh bener-bener nggak bisa kalau gelap". Rain membuka jilbabnya dan menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Koq gamisnya nggak dilepas juga, gantilah pake yang lebih sexy nanti boleh lampunya nggak dimatikan" Ega menatap Rain lewat pantulan cermin di depannya. Baiklah, yang penting lampunya tidak dimatikan. Rain mengambil daster rumahan tanpa lengan dengan panjang dibawah lutut dan membawanya keluar kamar. Rain belum seberani itu berganti pakaian di hadapan suaminya. Tak lama dia kembali dan sudah berganti baju.
"Nggak ada sexy nya itu sih, masa gambarnya hello kitty gitu. Kaya anak SD aja" Ega merasa lucu istrinya itu memakai daster rumahan dengan gambar hello kitty.
Rain segera merebahkan tubuhnya di samping Ega yang sedang duduk bersandar.
"Bodo ah, mau tidur aja ribet banget. Udahlah pisah kamar lagi aja. Inituh udah jam 12 Mas. Aku tuh cape abis dari rumah sakit. Aku pengen rebahan" Rain memejamkan matanya.
"Oh iya gimana keadaan Sela, tadi Aku dikasih tahu Bibi" Ega memijat pelan kening istrinya berusaha membhatnya rilex walau Dia sendiri sedang merasakan pusing yang luar biasa.
"Sela meninggal Mas, Dia aborsi Mas". Rain membuka matanya dan ikut duduk merapatkan tubuhnya dengan Ega.
"Rehan nggak mau tanggung jawab?" Ega melingkarkan tangan kanannya di perut Rain yang rata.
"Mau Mas, Selanya yang nggak siap nikah" Rain menyandarkan kepalanya di dada Ega, Ega sedikit meringis namun tetap berusaha santai.
__ADS_1
"Kalau kamu mau hamil nggak?"
"Mau lah Mas, lucu ya ada janin di dalem perut trus nanti nendang-nendang gitu. Abis itu lahir trus rumah kita jadi rame Mas" Rain jadi mengusap-usap perutnya.
"Kamu tahu nggak gimana caranya biar bisa hamil?" Ega menciumi dahi Rain berkali-kali.
"Tau lah, emang Aku sepolos itu Mas". Rain mencubit punggung tangan Ega yang melingkar di perutnya.
"Mau dibikin hamil sekarang?"
"Nanti aja deh ya Mas, Aku belum siap kalau sekarang. Nggak bisa ya langsung hamil aja, nggak usah ada proses pembuatannya gitu" Rain pelan-pelan menyingkirkan tangan Ega dari perutnya. Dia menarik kepalanya dari dada Ega dan menggeser tubuhnga agar berjarak dengan Ega.
"Panas ya Mas, gerah". Rain dengan cepat menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke dagu. Ega hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu.
"Panas tuh jangan pakai selimut". Ega menarik selimut Rain dan melemparnya ke lantai.
"Yang sakit kan tangan dan Kaki yang lainnya enggak" Ega pelan-pelan merebahkan tubuhnya sangat rapat dengan Rain.
"Mas, maaf banget. Aku belum siap. Maaf ya. Besok Aku mau ke pemakaman Sela. Aku takut nggak bisa jalan Mas. Nanti aja ya". Rain menggeser tubuhnya menjauh dari tubuh suaminya itu.
"Iya iya, Aku bercanda. Lagian mana enak ngelakuinnya dengan badan sakit gini" Ega tertawa mencubit pipi Rain.
"Makasih ya, maaf" Rain menghadapkan badannya ke arah Ega.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Sini peluk" Ega menepuk-nepuk lengannya. Rain menurut.
"Jadi gimana ceritanya sampai dikeroyok Mas?"
"Selesai shalat shubuh Aku langsung pulang padahal biasanya Aku ikut kajian dulu tapi nggak tahu kenapa tadi tuh hawanya ngantuk banget makanya Aku putusin buat pulang daripada pas kajian ketiduran. Nah di jalan tiba-tiba ada 5 orang gitu langsung ngeroyok aja. Bahkan bawa-bawa samurai sama pisau lipat segala. Aku dihajar, rambutku dijambak, kakiku diinjak-injak, tangan sama perut disayat. Kepalaku juga sempet di jedot-jedotin ke aspal jalanan makanya jadi pada baret gini kan pelipisnya. Mereka ngelakuin itu sampai Aku pingsan".
Rain merasa ngeri membayangkannya, Dia menangis mendongakan kepalanya melihat wajah suaminya yang terlihat tetap tenang.
"Aku tadi sore nungguin Kamu Mas. Aku tungguin telpon dan pesan Kamu. Aku pikir Kamu nyerah lho mas. Pas Aku dateng Kamu lagi sama Nita. Aku pikir kalian abis ngelakuin sesuatu".
"Nita itu bukan typeku, Dia itu lawan mainnya banyak. Aku punya Kamu dan cuma pengen sama Kamu". Ega membenamkan kepala Rain di dadanya walau masih terasa sangat nyeri.
"Tidurlah, Aku yakin seminggu ini Kamu juga kurang tidur".
Rain menggangguk, matanya mulai terpejam dan terlelap. Membawa segala lelah hari ini. Hari yang begitu mengaduk emosinya. Hening. Dan untuk pertama kalinya Ega tidur tanpa mematikan lampu. Kini hanya detak jarum jam juga detak jantung keduanya yang saling bersahutan. Menjadi sebuah irama merdu andai saja terdengar oleh keduanya.
🍂🍂🍂
Rain terjaga saat tahajudnya begitupun dengan Ega. Meski hanya seminggu rutin ikut kajian shubuh tapi sudah membuat Ega begitu mendekatkan kembali hubungannya dengan Sang pencipta, pemilik skenario kehidupan.
"Mas mau tahajud?" Rain beranjak menuruni tempat tidur. Ega mengangguk lalu berusaha berdiri dibantu oleh Rain.
Rain memapah suaminya dengan senyum bahagia. Hujan di luar mengingatkan Rain akan sesuatu, Bulan Desember.
__ADS_1
'Desember, Aku suka hujanmu, dan Aku suka Dia'
Rain melirik suaminya yang sesekali meringis kesakitan sambil tersenyum.