
Rain kembali menutup pintu dan melangkah dengan kepala menunduk sehingga dia tidak tahu bahwa suaminya sudah duduk di tepi tempat tidur menggunakan sarung dan koko serta tersenyum melihat kekonyolan istrinya itu.
"Jangan menunduk Yang, cowok ganteng adanya di depanmu bukan di situ cuma ada lantai".
Didengar dari suaranya, Ega sepertinya sudah tidak marah. Rain menghentikan langkahnya dan menaikkan kepalanya. Pemandangan indah tersaji di hadapannya. Lelaki dengan rambutnya yang basah terkena air wudhu memakai pakaian yang ketika dipakai seorang pria memang membuat kadar ketampanan meningkat hingga 100 persen.
"Ayo pakai mukenanya, Kita sholat sunnah sebelum tidur". Ega menunjuk pada mukena yang tergeletak di sampingnya. Rain tersenyum lalu memakai mukenanya dengan mencoba tenang, menutupi kegugupannya.
"Kalau gugup nanti rasanya sakit, rilex aja". Ega berbisik seraya beranjak lalu menggelar dua sajadah dan bersiap shalat.
🍂🍂🍂
Keduanya kini sudah berbaring di tempat tidur, saling berhadapan dan dengan sengaja Rain menempatkan guling di tengah-tengah mereka. Rain sedang mengulur waktu.
"Kamu kenapa nggak mau kita tidur di hotel aja sih. Malu tahu sama Ibu kalau ketahuan shubuh-shubuh keramas". Ega menggoda Rain, menaikan kedua alisnya berkali-kali.
"Aku cuma ingin membuat perkataan seseorang tempo hari jadi kenyataan". Jawab Rain tersenyum kecil.
"Tahan kangennya sampai besok. Jangan telpon atau kirim pesan. kita pecahkan sama-sama kangennya besok di kamarmu" Ujar Ega membuat Rain tersipu malu.
"Masih inget aja kalimatnya" Rain menaikan selimutnya sampai dagu. Dia sudah kehabisan kata untuk mengulur waktu.
"Boleh sekarang, kan?". Ega menatap Rain penuh permohonan. Rain hanya mengangguk dan tersenyum, sudahlah hari ini menjadi hari terakhir dia menyandang status perawan.
(Kita tidak usah menceritakannya secara detail ya, ck)
Rain mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Hawa panas masih terasa di sekujur tubuhnya. Susah sekali ingin berdiri, bahkan tadi Dia memakai pakaiannya sambil duduk dan dibantu suaminya.
"Aku buatkan air panas buat mandi ya, kita mandinya sekarang aja" Kata Ega merapikan kaos bagian belakang Rain yang masih tersingkap.
Rain hanya mengangguk tersenyum tipis. Dia berusaha berdiri dengan lutut gemetar. Disingkapnya sprei itu dan ditaruh sembarang ke lantai. Rain mengganti spreinya dengan yang baru. Rain seperti melepaskan ribuan ton beban di punggunggnya. Dia lega sudah sepenuhnya memberikan dirinya untuk suaminya.
__ADS_1
🍂🍂🍂
Meskipun masih merasakan sedikit sakit, Rain tidak berniat bolos dari kuliahnya.
"Kamu yakin mau kuliah dengan kondisi seperti itu?" Tanya Ibu saat Ega dan Rain pamit dari rumah.
"Emang Aku kenapa Bu? Alhamdullillah Aku sehat. Walau capek kemarin berdiri lama". Jawab Rain sungguh geram terus-terusan digoda Ibu.
"Ibu pikir Kamu lagi merasakan sesuatu gitu. Soalnya jalannya kayak yang sakit gitu". Ibu tersenyum penuh arti.
"Bu, udah dong. Rain baik-baik aja. Nanti Rain pulang ke rumah Mas, ya". Rain meraih tangan Ibu dan menciumnya. Ega juga ikut mencium tangan mertuanya.
"Assallamuallaikum"
"Waallaikumsalaam"
Setelah berada di dalam mobil, Rain sedikit berteriak meluapkan kekesalan dan rasa sakitnya.
"Aaaa, akhirnya bisa lewat dari godaan Ibu. Aku stress banget itu diledekin Ibu. Pagi-pagi kenapa cuci sprei katanya". Rain menangkup kedua pipinya yang terasa panas.
Ega hanya menggeleng tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang senang sekali dengan hujan. Rain menutup matanya, mencoba menikmati suara hujan yang semakin lama berubah deras. Gemuruhnya sangat indah, percikannya di jari-jari Rain menambah kebahagiaanya menikmati hujan itu.
Hai, Namaku juga hujan. Tapi, dalam bahasa inggris. Awalnya Aku protes mengapa namaku hujan, bukannya hujan sering disalahkan karena membuat Jakarta banjir? Tapi sekarang Aku bahagia dengan nama Rain. Aku suka namaku disebut dengan penuh cinta, Rain. Oleh laki-laki yang ada di sebelahku. Dia tampan kan?, tentu saja! Dia suamiku, kekasihku.
"Yang, udah main air hujannya. Nanti bajunya basah. Makin gede tuh hujannya". Ega menepuk bahu istrinya yang malah asyik dengan lamunannya.
Rain memasukkan kembali tangannya. Basah, ujung baju juga. Ega mengambil tissue di atas dashboard dan mengelap tangan mungil itu sampai dirasa kering.
"Sebentar lagi punya anak masih seneng aja main hujan". Meraih tangan istrinya dan meniupnya berkali-kali. Rain senyum-senyum sendiri merasa tangannya hangat ditiup sedekat itu.
"Cara kerja hati itu lucu ya, yang awalnya membenci bisa jadi yang paling mencinta". Ujar Rain menyindir suaminya.
__ADS_1
"Aku kan nggak benci Kamu".
"Tapi kan sempet berfikiran buruk"
"Awalnya hanya berusaha selektif, akhirnya jadi terlalu cinta" Ega mencium punggung tangan istrinya.
"Jangan terlalu cinta, nanti terluka susah sembuhnya". Rain menarik tangannya sebab sepertinya Ega kesusahan mengendalikan setir.
"Jangan melukaiku jika tidak bisa memberikan penawarnya". Ega menepikan mobilnya.
"Koq berhenti, marah lagi?" Tanya Rain tanpa melihat keadaan sekitar.
"Mana bisa marah sama calon ummah dari putra putri ku kelak". Ega tertawa kecil.
"Kenapa berhenti?".
"Mau langsung Aku antar ke dalam kelas dan menghancurkan sebagian bangunan itu?" Ega menunjuk ke luar. Ini sudah ada di area parkir kampus Rain. Rain terperanjat kaget. Mengobrol dengan kekasih seasyik ini ternyata.
Rain meraih tangan suaminya dan menciumnya lalu Ega mencium sekilah kening Rain.
"Jangan makan yang pedas, jangan minum es, jangan lupa dhuha, jangan lupa suamimu" Ega mengacungkan telunjukknya seperti menasihati anak kecil.
"Insya allah, Mas juga. Jangan deket-deket sama Cecil. Aku terlalu mudah cemburu walau hanya membayangkannya". Rain balas menunjuk wajah Ega.
"Bayangkan saja Aku selalu di sampingmu". Ega mengusap kepala bagian belakang Rain. Rain tersenyum, skak mat!. Obrolan ini tidak akan berakhir jika salah satu di antara mereka tidak ada yang pergi.
"Pamit, ya Mas. Semoga hari ini dimudahkan urusannya". Rain mengecup pipi Ega sekilas lalu keluar dari mobil melupakan rasa sakit nya.
Ega tetap tak beranjak sampai Rain benar-benar masuk kelas dan hilang dari penglihatnnya. Dia kembali melajukan mobilnya setelah memastikan istrinya sudah berada di kelas,
Padahal Rain kembali keluar setelah menaruh tasnya. Mobil suaminya terlihat mulai meninggalkann parkiran dan melaju, hilang di belokan jalan.
__ADS_1
Jika melihat kepergianmu sesendu ini, lebih baik Aku tidak melihatnya dan nanti biarkan Aku pergi terlebih dulu.
Rain kembali ke dalam kelasnya dan duduk di bangku paling depan. Ada satu yang harus Dia pinta pada suaminya, nanti saja saat di rumah.