Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Senyum Zein


__ADS_3

Tiga hari sudah Pak Riko koma. Tiga hari juga Rain berusaha menghindar dari suaminya itu. Malam itu Rain termenung duduk di tepi ranjangnya. Sakit hatinya karena Ega bilang tidak mencintainya masih terasa begitu dalam. Rain sudah mencoba menghibur diri, namun tetap tak bisa melupakan kata 'Eng-gak' yang selalu terngiang-ngiang. Padahal sudah tiga hari berturut-turut Rain ke rumah Ibunya. Berharap bisa menyembuhkan luka hatinya. Namun, saat kembali ke kamar ini perasaan perih menyeruak begitu saja di relung hatinya.


Rain menatap ponselnya. Mana? Mengiriminya pesan saja Ega tidak pernah. Suami istri tapi tidak saling menyimpan kontak. Rain rasanya mulai putus asa, janjinya yang akan membuat Ega jatuh cinta kembali sepertinya harus Dia ingkari.


Sementara di ruang tamu Ega dan Bibi sedang menghabiskan waktu bersama. Sejujurnya Ega rindu pada istrinya itu.


"Bi, Rain kenapa sih? biasanya dia bawel". Akhirnya Ega memangkas habis gengsinya itu dan bertanya tentang Rain.


Rain kemarin memang menceritakan seluruh percakapan di mobil itu sampai membuatnya sakit hati dengan perkataan Ega.


"Neng Rain sedih karena Aa bilang udah nggak cinta sama Neng Rain". Jawab Bibi.


Ega gelagapan, waktu itu dia hanya asal bicara. Kenapa jadi serumit ini masalahnya.


"Aku becanda, Bi. Rain terlalu terbawa perasaan deh".


"Katanya, Neng Rain udah lelah A. Dia mau menyerah aja. Dia pasrah kalau memang A Ega sudah susah untuk dibuatnya jatuh cinta lagi" Jelas sekali ini akal-akalan Bibi. Rain tidak pernah bicara seperti itu.


Tiba-tiba perasaan gundah menjalar di hati Ega. Bagaimana mungkin pikiran Rain sampai sejauh itu. Bukannya mereka sedang sama-sama menunggu Pak Riko sembuh untuk mengetahui kejadian sesungguhnya.


Ega frustasi menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Ini nggak bisa dibiarin!"


Ega beranjak berlari ke kamar Rain dan dengan keras menggedor pintu kamar itu disusul teriakannya yang memecahkan lamunan Rain


"Rain, buka. Buka cepetan Rain". Ega terus menggedor pintu.


Rain segera beranjak membuka pintu dan melihat Ega di hadapannya berdiri dengan wajah dan mata yang memerah.


"Rain, kenapa Kamu ngehindar terus?" Ega dengan nafas terengah-engah mencengkram lengan Rain.


"Apa sih, Mas. Aku nggak ngehindar. Emang lagi sibuk aja". Jawab Rain berusaha menepis tangan Ega.


"Lihat mataku, tatap mata Aku!" Ega mengangkat dagu Rain dan pandangan mereka saling bertemu.


"Kebencian dan dendam" Jawab Rain penuh penekanan dengan suara parau menahan tangis.


"Sok tahu, Kamu" Ega melepaskan lengan Rain kasar. Rain tersenyum kecil menghapus air matanya.


ponsel Ega bergetar, pesan masuk


📩 Mas Ragga, Pak Riko sudah sadar dan menanyakan Anda.

__ADS_1


Ega seperti mendapat angin surga. Dia meloncat kegirangan setelah membaca pesan itu.


"Rain, Pak Riko udah sadar. Ini berita baik".


"Percuma Mas kalau Pak Riko menjelaskan kejadian sebenarnya pun Mas udah Enggak cinta kan sama Aku. Eng-gak kan?" Rain bicara lantang seraya menatap tajam suaminya itu.


Ega mengusap wajahnya kasar. Dia meremas-remas rambutnya sendiri. Dan, katanya


"Rain, Aku pikir Kamu udah tahu sendiri jawabannya. Aku pikir Kamu nggak usah tanya lagi hal itu"


"Aku perempuan, Mas. Butuh kepastian". Ujar Rain lagi-lagi penuh penekanan.


"Sebaiknya Kita temui Pak Riko. Ingat Rain, Kamu berjanji buat nggak bantah perkataanku setelah jadi suamimu. Siap-siap, Aku tunggu di luar". Seru Ega tanpa menunggu Rain menjawab Ya atau Tidak.


"Seenaknya sekali Kamu, Mas". Rain menutup pintu kamarnya berniat mengganti pakaian dan hijabnya yang sudah berantakan


*****


Tiba di ruangan rumah sakit itu Ega dan Rain disuguhkan dengan keadaan Pak Riko yang lebih baik. Gips itu sudah tidak terpasang di tubuhnya. Pak Riko dengan senyuman mengembang menyambuy kedatangan Rain dan Ega.


"Maaf Pak, Saya nggak ada di samping Bapak saat Bapak siuman". Ega meraih tangan Pak Riko. Pak Riko tahu, pada dasarnya Ega adalah anak yang sopan.

__ADS_1


"Rain juga minta maaf, karena baru sekarang berkunjung lagi. Gimana keadaan Pak Riko?" Rain tersenyum hangat. Senyum yang membuat Pak Riko mengingat seseorang yang pernah menggetarkan hatinya. Senyum itu kenapa sama dengan senyum seseorang? Tentu saja sama dia kan anak dari pemilik senyum yang membuat tiga orang jatuh cinta padanya dalam waktu yang sama. Senyum Zein.


__ADS_2