Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Berdebat


__ADS_3

Setelah pesta berakhir pada pukul 14:00 dan masuk sebentar ke dalam kamar hotel itu untuk sholat dhuhur yang sangat terlambat. Rain dan Ega kini sudah berada di dalam kamar Rain, di rumah Ibu.


"Kenapa sih harus pake drama segala, sampe nyulik gitu. Nanti kalau tiba-tiba Aku meninggal karena serangan jantung gimana?" Rain yang sedang merebahkan tubuhnya di pelukkan suaminya masih saja kesal dengan penculikan palsu itu.


"Buktinya kan nggak meninggal" Jawab Ega yang sebenarnya sudah ingin sekali tidur tapi istrinya itu terus saja protes.


"Kenapa nggak bilang jujur aja, kan bisa nyiapin bareng". Rain mengetuk-ngetuk dada suaminya dengan telunjuknya.


"Kalau diskusi sama Kamu bukannya berjalan lancar tapi nanti kita debat terus dan ujung-ujungnya resepsinya bisa tahun depan terlaksana". Ega berusaha mengusir rasa kantuk yang menyerangnya.


"Kalau kaya gini Aku jadinya pengen tahu semua isi pemikiran Kamu deh. Biar Aku nggak kaya orang bodoh, dikerjain gini". Rain membuat pola huruf R di dada suaminya dengan jarinya.


"Jangan mau tahu isi pikiranku, nanti Kamu pengen muntah". Ega mengelus rambut halus istrinya, menyisirnya dengan lima jari.


"Emang isinya apa? pasti mesum". Rain bertanya tapi dijawab sendiri.


"Nah itu tahu, mesum sama istri sendiri nggak apa-apa kan". Ega tertawa dan langsung mendapat pukulan di dadanya dari Rain.


"Oek" Rain menutup mulutnya dengan pura-pura muntah.


"Kan udah kubilang nanti muntah". Ega kembali tertawa lalu mendekap tubuh istrinya erat.


"Lebay Kamu tuh". Rain berusaha berontak namun tenaga suaminya lebih kuat.


"Udah, berhenti protesnya. Kita tidur dulu sampe magrib. Walaupun sebenernya nggak boleh tidur kalau sore. Tapi hari ini pengecualian deh". Ega menutup matanya, Rain menurut saja karena Dia pun sudah lelah dari tadi terus mengoceh.

__ADS_1


🍂🍂🍂


Dua Minggu Yang Lalu


Tepat setelah kebenaran itu terungkap dan Rain dibawa pulang oleh Ibu. Ega dibantu Pak Riko, Bibi, Mika, Cecil dan juga Nita menyiapkan kejutan resepsi ini untuk Rain. Rencananya berjalan mulus karena sedikitpun Rain tidak merasa curiga. Awalnya memang ingin bicara terang-terangan, tapi menurut Ega berdiskusi dengan Rain itu artinya berdebat. Rain dengan sifatnya yang terlalu memikirkan apa dampak jika Kita bertindak sesuatu itu justru hanya akan memperlambat proses persiapan resepsi.


Ibu sendiri baru diberi tahu saat malam di mana Rain menelponnya dan berkata Ega menerima video call dari seorang wanita. Saat itu juga Ibu menanyakan siapa wanita itu dan barulah Ega menceritakan kejutan yang akan disiapkan untuk Rain. Ibu pun memberi saran bagaimana jika ditambahkan photo prewedd dan dengan Rain yang mengajak Ega ke taman bunga semua rencananya berjalan sempurna.


Tentang Cecil, dia adalah teman kampus Ega saat ini. Dulu di Bandung mereka satu SMA dan memang Cecil sudah menaruh perasaan pada Ega saat dulu. Cecil memang suka sekali berdandan bahkan saat ini menjadi MUA adalah sampingannya selain kuliah. Setelah waktu hampir mepet dan Ega tidak juga menemukan MUA yang benar-benar seorang perempuan. Rekomendasi dari Nita dan Mika selalulah barisan-barisan pria bernama rosalinda, Esmeralda, ataupun Angelica. Meski sudah beralih jadi seperti wanita, tetap saja mereka itu pria. Ega tidak ingin wajah istrinya tersentuh tangan pria manapun. Kehormatan istrinya ada di tangannya. Maka, jatuhlah Cecil ke dalam rencana ini sebagai perias pengantin wanita.


🍂🍂🍂


Selesai shalat isya kedua pengantin baru itu bercengkrama dengan Ibu selepas makan malam bersama. Dengan disaksikan alat-alat makan kotor ketiganya larut dalam obrolan panjang. Awalnya ringan, tapi lama-lama jadi semakin panas karena Rain masih saja menyuarakan protesnya.


"Itu kan dulu, Yang. Dia juga udah punya pacar. Siapa tuh artis terkenal yang sinetronnya suka ditonton Bibi" Jawab Ega sebenarnya sudah sangat ingin menyerah menghadapi protes istrinya.


"Iya Rain, Kamu nih kebiasaan kalau belum puas terus aja diungkit". Baiklah, Rain. Kali ini Ibu berpihak pada Ega.


"Ya harusnya kita diskusi dulu Mas". Rain tetap tak terima, mencari pembenaran atas protesnya.


"Berdiskusi denganmu artinya berdebat denganmu. Sedangkan Aku tidak suka berdebat dengan wanita yang kucinta". Ega berkata dengan penuh penekanan dan menatap Rain dengan sorot tajam lalu berdiri membawa piring kotor bekas makannya dan berlalu ke wastafel.


Ibu dan Rain saling pandang dengan perasaan takut.


"Itu tadi yang bicara beneran suamimu? Kamu sih bawel terus. Dia marah tuh". Ibu dan Rain menatap punggung Ega yang sedang mencuci tangan dan berlalu ke belakang, sepertinya ke kamar mandi.

__ADS_1


"Gimana nih, Bu". Raib mulai panik.


"Susul suamimu, biar Ibu yang beresin piring".


Rain mengangguk lalu menyusul suaminya ke belakang. Percikan suara air dari kamar mandi menandakan sepertinya Ega sedang berwudhu.


Ceklek, pintu yang terbuat dari fiber itu terbuka.


"Mas, Aku nggak bermaksud.. belum selesai meneruskan kalimatnya Ega memotong perkataan Rain.


"Ayo ambil wudhu, Aku tunggu di kamar". Ega berlalu tanpa mendapat jawaban. Rain dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Mencuci muka, menggosok gigi dan berwudhu. Untuk apa berwhudu lagi, kan sudah shalat isya. Jangan-jangan jiwa kesantrian suaminya muncul lagi setelah beberapa tahun bersembunyi di peraduannya?


Ega menghampiri Ibu yang sedang mencuci piring.


"Bu, maaf ya kalau tadi Ega sedikit keras. Rain nggak akan berhenti protes kalau Ega hanya mengalah".


"Iya, Ibu ngerti. Sudah sana istirahat". Ibu mengangguk tersenyum dan Ega kembali melangkah menuju kamar.


Rain ragu-ragu sekali keluar dari kamar mandi. Kenapa kali ini rasanya lebih takut saat menerima kemarahan suaminya itu. Pelan-pelan Dia melangkah. Ibu sudah tidak ada di dapur. Tiba di depan pintu kamarnya yang tertutup Rain tertegun. Ingin menelan ludah saja rasanya sulit. Rain meraih gagang pintu namun rasanya tidak ada tenaga untuk sekedae membuat pintu itu terbuka. Berkali-kali memejamkan mata. Rain sudah paham untuk apa Ega menyuruhnya kembali berwudhu padahal sudah shalat isya. Ketakutan Rain bukan saja hanya kemarahan Ega tapi juga tentang janjinya untuk suaminya itu. Janji malam pertama yang sudah terlalu lama mereka tunda.


Ini lebih gugup dari pada saat Aku memandang wajahnya untuk pertama kalin. Apa yang harus Aku lakukan?


Rain membuka pintu kamarnya dengan keadaan jantung yang sudah tidak mau berdetak normal.


Jangan lupa Like, komen dan Vote. Terimakasih buat semuanya. 💜

__ADS_1


__ADS_2